Pornografi di Antara Patriarki dan Kapitalisasi

Esais
Pornografi di Antara Patriarki dan Kapitalisasi 02/05/2020 535 view Budaya pixabay.com

“Share link atau mati!”

Anekdot-anekdot tentang betapa gandrungnya warganet Indonesia terhadap konten pornografi bukan lagi hal baru. Dari sisi moral, hal tersebut jelas merupakan polemik tersendiri, bahkan sudah sangat berlarut-larut.

Soal ini, penulis TheColumnist, Supriyadi, sudah memaparkannya dengan cukup komprehensif. Pengalaman dan kepakarannya di seluk-beluk dunia remaja, keluarga, dan kesehatan reproduksi sangat kredibel untuk menyuarakan kerisauan banyak pihak akan ancaman pornografi. Kala ia membeberkan data siswa sekolah dasar yang sudah begitu mudahnya mengonsumsi pornografi dan situs maupun konten porno tidak pernah habis walau konsisten diperangi pemerintah, kita sama-sama tahu kalau ini bukan ancaman yang sepele.

Akan tetapi, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa pornografi mempunyai manfaat pula. Acapkali secara magis, ia bisa meredakan (sesaat) perdebatan atau perselisihan tentang politik, etika makan bubur ayam, dan topik-topik memuakkan lainnya di media sosial.

Saya tidak sedang membacakan pledoi sebagai bagian dari ekosistem besar pornografi. Namun, saya ingin mengajak untuk melihat sesuatu yang barangkali pernah (atau masih?) saya dan sebagian dari Anda miliki atau tonton itu sebagai bagian tak terpisahkan dalam buku babon peradaban umat manusia, sejak dulu dan mungkin sampai nanti-nanti.

Desahan untuk Perjuangan

Terus terang, saya terkesan dengan argumentasi Brian McNair. Dalam bukunya Porno, Chic!: How Pornography Changed the World and Made It a Better Place (2013), ia bilang bahwa pornografi adalah sebuah alat perjuangan, tepatnya untuk menghadirkan masyarakat dan budaya yang inklusif.

Untuk mempermudah memetakan argumentasinya, McNair mengonsepsikan suatu ruang sirkulasi wacana tentang seksualitas dan aktivitas seksual. Namanya pornosphere – yang menunggangi konsep public sphere-nya Jurgen Habermas.

Adalah sebuah sejarah yang panjang saat kita mencoba mengaitkan manusia dengan obsesinya tentang seksualitas. Artefak kebudayaan seperti lukisan primitif di dinding gua yang menggambarkan manusia dan hewan tengah bercinta; Lupanese, salah satu lokalisasi kuno di Pompeii; lukisan erotis chungong hua dan shunga di Tiongkok dan Jepang; serta, tentu saja, Kama Sutra dari India sudah bisa berbicara banyak kepada kita dalam diamnya.

Namun, momentum pornosphere menurut McNair tiba saat konten pemicu gairah seksual akhirnya tersedia dalam media massa. Pionirnya, majalah Playboy dan Hustler di era 50-an, yang kemudian disusul rilisnya film layar lebar Blue Movie (1969) dan Deep Throat (1972).

Sementara kalau membicarakan titik keemasannya, tentu saja dimulai di era internet tahun 1990-an, lebih-lebih saat rakyat jelata mulai mengontribusikan citizen porn atau konten pornografi amatir. Layaknya jurnalisme warga, sifat “gotong-royong” yang khas dari ekosistem komunikasi digital inilah yang kian memperkuat dimensi pornosphere kontemporer.

Sebagai ruang berwacana dan berdialog, pornosphere mengandung pelbagai pandangan. Dalam perspektif gender, pornografi umumnya hanya memosisikan perempuan sebagai objek semata. Penindasan ini dianggap menjadi penyebab maraknya kekerasan dan pelecehan seksual oleh pria terhadap perempuan, termasuk yang masih di bawah umur.

Pergolakan pun terjadi. Pandangan yang telah dalam mengakar bahwa seksualitas hanyalah monopoli pria coba didobrak. Pasalnya, perempuan hetero, bahkan para anggota komunitas LGBTQ, juga bisa menjadi subjek di skena ini. Roda liberalisme seksual pun mulai menggelinding, karena pada akhirnya mulai muncul hasrat dari anggota masyarakat agar seksualitasnya direpresentasikan secara spesifik.

Memusuhi Si Mapan, Bersahabat dengan Pemburu Cuan

Kendati pornografi bisa dipandang sebagai suatu alat perjuangan kesetaraan dan inklusivitas, tetapi tak bisa dipungkiri juga kalau yang diuntungkan tidak hanya mereka yang memperjuangkannya. Mereka yang pintar melirik potensi keuntungan dari secercah kesempatan juga kecipratan.

Ini berawal dari periode keemasan pornografi (1969-1984) di Amerika Serikat, yang turut digelorakan oleh film Boys in the Sand (1971). Dengan biaya produksi hanya US$8.000 kala itu, pendapatan film gay tersebut mencapai 100 kali lipat modalnya.

Wajar kalau pasar tergiur dan kapitalisme global pada akhirnya turut merayakan inklusivitas dalam seksualitas. Alhasil, film-film dengan warna sejenis menyusul diproduksi. Mengutip esai Joe Thomas dalam Sex for Sale: Prostution, Pornography, and the Sex Industry (2009), dari data sekitar dua dekade lalu, film porno gay menguasai 10 hingga 25 persen pasar pornografi yang bernilai US$8-10 miliar.

Representasi seksual juga mendorong konsumsi klasifikasi baru dari konten sensual yang dianggap “lebih suci” dari pornografi karena bebas dari kandungan dominasi fisik dan fantasi patriarki, misoginis, sampai aktivitas seksual tanpa intimasi sekaligus koneksi emosional, yakni erotica. Ketika pelaku industri pornografi didominasi oleh pria, erotica dianggap mendaulatkan perempuan, karena dibuat oleh dan untuk kaum hawa.

Akan tetapi, kehadiran erotica juga tak lepas dari kritik. Konten tersebut dalam sudut pandang tertentu termasuk bentuk politisasi terhadap gender. Metode pemasaran yang mencoba menjadi alternatif dari produk-produk arus utama ini bisa saja dipandang sebagai gimmick semata, karena – walaupun dipakai pula untuk aktivisme – erotica turut menghasilkan uang.

Contohnya mudah saja. Masih ingat trilogi Fifty Shades, kan? Oleh NPD Bookscan, akumulasi penjualan ketiga seri novel erotis itu dalam format fisik maupun e-book mencapai 35 juta kopi dan mengkaveling tiga posisi dari daftar 10 novel terlaris sedekade terakhir. Pendapatan adaptasi ke layar lebar Fifty Shades of Grey pun secara global mampu menembus US$571 juta, dengan modal US$40 juta saja. Jangan lupa kalau E. L. James, sang penulis, tahun 2013 lalu ditahbiskan sebagai penulis terkaya di Inggris.

Sebentar. Begitu kelar menulis paragraf sebelum ini, kok saya jadi berpikir, “Ngapain ya saya mencari tahu dan memikirkan pornografi sampai sedalam ini?” Bukannya bagusnya dihindari saja? Atau lebih baik menontonnya dalam diam di kamar, asalkan usia, kematangan berpikir, dan wawasan dasar (termasuk konsekuensi) tentang pornografi dan seksualitas sudah mencukupi?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya