Hukum Kausalitas Bukanlah Suatu Kepastian ?

Hukum Kausalitas Bukanlah Suatu Kepastian ? 04/01/2023 43 view Agama keepcalms.com

Pernahkah kita bertanya-tanya tentang asal-usul terjadinya suatu peristiwa baik dalam lingkup besar ataupun yang kita alami sendiri. Asal-usul itulah yang dinamakan sebab yang kemudian akan memberikan suatu dampak atau akibat, itulah yang dinamakan hukum sebab-akibat (kausalitas). Katakanlah makan, saat kita memutuskan untuk makan pastinya terdapat alasan atau sebab dibalik kita makan yakni lapar, artinya tubuh kita membutuhkan asupan energi. Dan makan tersebut pun bisa jadi menempati posisi sebab sekaligus akibat.

Teori kausalitas adalah hubungan dua peristiwa yang saling berkesinambungan, dan berpikir kausalitas artinya berpikir secara runtut dan kronologis. Membicarakan setiap fenomena di alam semesta pasti tidak akan terlepas dengan yang namanya hukum kausalitas atau hukum sebab akibat. Tak ada satupun di alam ini yang tidak memiliki asal-usul, mulai dari fenomena yang sering kita jumpai di keseharian ataupun sekedar tahu teorinya namun tidak pernah menjumpainya karena keterbatasan indera. Karena pada hakikatnnya, dunia ini berjalan di atas hukum kausalitas atau dalam Islam disebut sunnatullah.

Hukum kausalitas merupakan keniscayaan alam semesta. Jadi, sudah sewajarnya kita sebagai manusia yang diamanahi oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi untuk memahami bahwa segala sesuatu yang ada atau terjadi pastilah ada penyebabnya. Saat mengatakan sebab, artinya kita sedang membahas bagaimana sesuatu bisa muncul dan terjadi. Baju kita bisa kering sebab kita jemur di bawah paparan sinar matahari yang panas; air dapat mengalir sebab ada permukaan yang lebih rendah; kain bisa menjadi baju sebab disatukan dengan cara dijahit; beras bisa menjadi nasi karena dimasak; dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Aristoteles memiliki suatu pemikiran bahwa ada sebab-sebab lain di alam ini yang tidak sebatas contoh-contoh di atas. Ia membagi sebab-sebab itu menjadi empat dan puncaknya ia sebut sebagai “sebab akhir”. Pada kasus memasak nasi di atas, sangat wajar kalau kita mempertanyakan alasan mengapa nasi itu dimasak. Dengan kata lain kita menanyakan apa tujuan orang memasak nasi itu. Berarti, dapat kita simpulkan bahwa tujuan di sini memiliki peran terhadap terjadinya sesuatu, tak terkecuali menjahit baju. Di samping tujuan itu, terdapat pula tujuan-tujuan lain di dalam proses-proses alam. Kita ambil contoh dalam peristiwa hujan: hujan turun karena uap di awan mendingin dan memadat menjadi titik-titik air hujan kemudian turun ke bumi yang disebabkan adanya gravitasi bumi.

Dalam peristiwa hujan, kita dapat mengidentifikasi tiga sebab. Pertama, “sebab material” yaitu uap (awan) berada di sana saat udara mulai mendingin. Kedua, “sebab efisien” yakni uap mendingin. Ketiga, “sebab formal” adalah air jatuh ke bumi. Jika berhenti di sini, kita belum akan menemukan apa yang dinamakan “sebab akhir”. Jadi yang dinamakan sebab akhir yaitu hujan turun karena tumbuhan dan mahluk hidup di bumi membutuhkan air untuk keberlangsungan hidup mereka, itulah yang dinamakan “sebab akhir”, begitupun seterusnya.

Namun, dalam teori kausalitas ini, Imam Al-Ghazali sedikit menyanggah perihal kepastian sebab-akibat yang terjadi. Karena menurutnya, ini dapat membangun pemahaman bahwa kehendak Tuhan itu lemah bahkan meniadikan kehendak mutlak Tuhan. Padahal seperti yang kita tahu selama ini bahwa Tuhan adalah zat yang Maha Berkehendak, tidak ada satu pun di dunia ini yang luput dari kehendak-Nya.

Klaim tentang kepastian hukum kausalitas ini juga menyalahi isi Al-Qur’an perihal kejadian dibakarnya Nabi Ibrahim ke dalam api yang menyala-nyala. Seperti yang kita ketahui, sifat api adalah membakar, setiap benda yang sifatnya bisa terbakar maka akan terbakar. Namun, atas kehendak Tuhan, yang terjadi pada Nabi Ibrahim tidaklah demikian.

Menurut penjelasan Al-Ghazali, api yang membakar, pisau yang mengiris, es yang mencair hanyalah sebatas pengertian kiasan. Benda-benda mati tersebut tidaklah memiliki kehendak, mereka hanya sebatas media terdekat atas kehendak mutlak Tuhan.

Namun terlepas dari pro dan kontra tersebut, hukum kausalitas dalam Islam merupakan sejumlah khazanah yang banyak digunakan sebagai metode untuk menjelaskan dan meyakinkan akan keberadaan Tuhan, karena secara logika, teori inilah yang paling sederhasa dan mudah diterima oleh akal sekalipun masih terdapat celah untuk diperdebatkan.

Setiap sebab yang terjadi di alam ini merupakan sunnatullah. Puncak tertinggi kehendak akan sampai pada kesimpulan bahwa itu adalah tujuan Tuhan. Hukum kausalitas ini dapat kita dijadikan sebagai sarana perenungan. Setiap kejadian yang terjadi di alam merupakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Dialah yang Maha Mengatur segala urusan di alam semesta, tidak akan ada satupun di dunia ini yang tak luput dari intervensiNya.

Wallahu a’lam

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya