Piagam Madinah dan Keberagaman Umat

Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Sunan Ampel
Piagam Madinah dan Keberagaman Umat 09/12/2023 411 view Agama pixabay.com

Rasulullah SAW berhijrah bersama kaum muhajirin menuju kota madinah setelah beliau mendapatkan cobaan yang sangat berat dari kaum kafir Quraisy. Namun hijrah tersebut bukan semata-mata guna melepaskan diri dari fitnah dan makar kaum kafir Quraisy, hijrah pun juga dimaksudkan sebagai sebuah batu loncatan untuk mendirikan komunitas masyarakat yang baru di sebuah negara yang damai dan aman. Dan telah tiba waktunya, kekuasaan sepenuhnya berada di tangan kaum muslim dan tak ada yang berkuasa atas diri kaum muslimin untuk menempati sebuah kehidupan yang baru, dengan memajukan penghidupan ekonomi, politik, pemerintahan, perdamaian dan lain sebagainya.

Begitu pula dengan kondisi sosial masyarakat Madinah yang terdiri dari beberapa suku dan kelompok di Madinah. Di antaranya yaitu Kabilah Aus dan Khazraj yang merupakan penduduk Kota Madinah yang sebenarnya di antara mereka terdapat permusuhan yang telah terjadi sejak dahulu dan merekalah kaum muslim Madinah yang disebut sebagai Kaum Anshar. Begitu pula dengan adanya orang-orang musyrik yang tersebar di seluruh kabilah yang ada di Madinah, Mereka tidak memiliki kuasa atas orang-orang Islam dan tidak memiliki keinginan untuk memusuhi Islam.

Adapun yang terakhir yaitu Kaum Yahudi, yang pada sejarah awalnya, mereka berhijrah ke Tanah Hijaz setelah terjadi penindasan pada Zaman Asyuri dan Rumawi. Mereka juga dikenal sebagai kelompok yang suka menimbulkan fitnah, kerusakan, perpecahan, dan membuat api permusuhan di antara kabilah-kabilah Arab tanpa mereka sadari sehingga terjadi peperangan di antara mereka. Tentu saja tidak ada yang dapat diharapkan oleh Rasulullah SAW dari kelompok Yahudi ini, karena yang ada pada mereka hanyalah kebencian terhadap orang-orang Islam.

Dengan keadaan seperti ini, Kaum Muhajirin bersama Rasulullah SAW pun mengharuskan diri mereka bisa hidup berdampingan dengan berbagai golongan yang ada di Kota Madinah tersebut. Meskipun terkadang terjadi konflik yang diakibatkan oleh Kaum Yahudi yang suka mengadu domba, dan mengkhianati perjanjian yang telah disepakati, namun konflik yang terjadi di Madinah ternilai lebih kecil daripada konflik-konflik yang terjadi di Kota Makkah.

Dalam situasi demikian, Rasulullah SAW mengambil langkah yang dinilai yang sangat cerdas untuk melihat kondisi masyarakat Madinah yang beragam dan terdiri dari berbagai golongan masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda. Beliau mengumpulkan berbagai golongan masyarakat dari Kota Madinah tersebut dengan menetapkan sebuah konstitusi hukum yang berlaku bagi seluruh golongan masyarakat Madinah untuk mengatur hubungan interaksi di antara mereka. Piagam tersebut dikenal sebagai Piagam Madinah dan menjadi sebuah dasar konstitusi yang dikatakan oleh para ahli politik sebagai konstitusi negara Islam pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Menurut Munawir Sjadzali dalam bukunya Islam dan Tata Negara, nilai-nilai dasar yang telah diletakkan oleh Piagam Madinah ini menjadi pondasi dan pedoman bagi kehidupan bernegara untuk masyarakat yang secara plural dan majemuk tinggal di Kota Madinah adalah sebagai berikut, pertama, semua suku yang memeluk agama Islam merupakan satu komunitas. Kedua, segala bentuk interaksi dan hubungan antara komunitas Islam dengan sesamanya dan dengan komunitas-komunitas lain didasarkan pada prinsip-prinsip; bertetangga dengan baik, saling membantu bersama dalam menghadapi musuh, membela mereka yang terdzalimi, saling menasehati, dan menghormati kebebasan dalam beragama.

Piagam Madinah mengandung nilai-nilai toleransi yang sangat penting dalam persatuan umat pada saat itu. Nilai toleransi yang terdapat dalam Piagam Madinah antara lain, Pertama, perlindungan bersama di mana Piagam Madinah menegaskan perlindungan bersama antara suku-suku Arab dan kelompok-kelompok Yahudi di Madinah. Ini artinya, mereka setuju untuk melindungi satu sama lain dari ancaman atau serangan dari pihak luar.

Kedua, resolusi konflik di mana Piagam Madinah menetapkan cara penyelesaian konflik antara berbagai kelompok. Ini menunjukkan pentingnya komunikasi antara pihak yang berselisih dan menyelesaikan masalah dengan cara damai dan adil, tanpa memilih jalan kekerasan.

Ketiga, kesetaraan hak di mana Piagam Madinah mengakui hak-hak setiap kelompok etnis dan agama di Madinah. Ini menciptakan suasana di mana semua orang memiliki hak yang sama dan dihormati, tanpa memandang latar belakang atau keyakinan agama.

Keempat, kerjasama di mana Piagam Madinah menekankan pentingnya kerjasama antar umat untuk membangun dan melindungi kota bersama. Ini mengajarkan nilai-nilai bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama demi kebaikan seluruh komunitas

Dengan nilai-nilai tersebut, Piagam Madinah memberikan landasan kuat untuk membangun masyarakat yang toleran dan harmonis di Madinah pada masa itu. Ini menunjukkan bahwa persatuan umat didasarkan pada saling penghargaan, kerjasama, dan penyelesaian damai atas perbedaan. Dan hal ini menyatakan bahwa Islam adalah agama yang menyerukan pada persatuan, toleransi, dan kedamaian bagi seluruh golongan umat manusia tanpa adanya diskriminasi atau perbedaan lainnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya