Viralisme vs Intelektualisasi: Tantangan Generasi Muda dalam Mencapai Kepemimpinan Sejati di Era Digital

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Viralisme vs Intelektualisasi: Tantangan Generasi Muda dalam Mencapai Kepemimpinan Sejati di Era Digital 16/06/2024 91 view Pendidikan kemenparekraf.go.id

Di era digital saat ini, media sosial dan platform berbagi video telah menjadi panggung utama bagi ekspresi diri dan pencarian pengakuan. Anak-anak muda, yang tumbuh dengan teknologi ini, sering kali mengasosiasikan kesuksesan dengan jumlah like, share, dan followers yang mereka dapatkan. Tidak jarang, mereka melihat bahwa menjadi viral melalui konten yang menarik secara visual, seperti video joget atau tantangan viral, lebih efektif dalam mendapatkan perhatian dan pengakuan dibandingkan dengan menunjukkan prestasi akademis atau intelektual.

Yang ditakutkan adalah anak-anak muda yang sudah terdidik bahkan terhipnotis bahwasanya ke depan itu kalau mau mencapai posisi kepemimpinan dalam konteks apapun: akademisi, ekonomi, usaha, politik, spiritual, dan lain-lain, yang lebih penting adalah bisa joget, bukan melakukan intelektualisasi, karena yang jago joget itu yang lebih viral atau membuahkan viralitas. Fenomena ini mencerminkan pergeseran nilai yang mengkhawatirkan, di mana popularitas dan daya tarik visual lebih dihargai daripada kedalaman pengetahuan dan kemampuan analitis.

Pergeseran fokus ini membawa dampak yang luas dan mendalam pada cara pandang generasi muda terhadap kesuksesan dan kepemimpinan. Mereka cenderung melihat kesuksesan sebagai sesuatu yang dapat dicapai dengan cara instan dan mudah, tanpa harus melalui proses belajar yang mendalam dan penuh tantangan. Hal ini mengancam nilai-nilai pendidikan dan intelektual yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun kapasitas kepemimpinan yang kuat dan berkelanjutan. Padahal aneka kesulitan dalam belajar sejatinya menandakan bahwa seseorang itu berkembang karena ada proses belajar yang ia usahakan.

Selain itu, ketergantungan pada popularitas digital dapat mengaburkan pemahaman mereka tentang pentingnya kualitas dan kontribusi nyata dalam berbagai bidang. Dalam dunia akademis, misalnya, penekanan pada viralisme dapat mengurangi apresiasi terhadap penelitian mendalam dan penemuan ilmiah yang sebenarnya membutuhkan waktu, dedikasi, dan kecermatan yang tinggi. Di bidang ekonomi dan usaha, fokus yang berlebihan pada viralitas bisa menyebabkan generasi muda lebih memilih strategi pemasaran yang sensasional daripada inovasi produk atau layanan yang benar-benar bermanfaat dan berkelanjutan.

Dalam politik, bahaya dari pergeseran ini bahkan lebih mengkhawatirkan. Pemimpin yang dipilih berdasarkan popularitas viral mungkin tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membuat keputusan yang bijaksana dan berdampak positif bagi masyarakat.

Kepemimpinan yang hanya mengandalkan popularitas sering kali cenderung populis dan tidak mempertimbangkan dampak jangka panjang dari kebijakan yang diambil. Akibatnya, masyarakat bisa saja terjebak dalam siklus kebijakan yang tidak efektif dan merugikan.

Pentingnya edukasi sejak dini terkait demokrasi dan hukum serta nilai-nilai etika dalam politik yang mestinya dijunjung tinggi oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia politik. Jangan sampai karena kepentingan pribadi, apa yang tampak (superfisial) menjadi patokan masyarakat dalam menilai, bukan mencari esensi dari nilai atau semangat politik yang baik demi kebaikan bersama.

Di bidang spiritual, fenomena ini juga tidak kalah menantang. Pemimpin agama yang lebih mementingkan popularitas dan viralitas bisa saja mengabaikan esensi dari ajaran moral dan etika yang seharusnya mereka junjung tinggi. Mereka mungkin lebih fokus pada penampilan dan citra diri yang menarik di media sosial, daripada membimbing dan mendidik komunitas mereka dengan kebijaksanaan dan kejujuran. Hal ini bisa mengikis nilai-nilai spiritual yang sebenarnya sangat penting dalam membangun kehidupan yang bermakna dan mendalam. Kebijaksanaan dalam menggunakan sarana yang ada dalam media sosial harus menampilkan “Yesus” bukanlah diri sendiri.

Untuk mengatasi tantangan ini, sangat penting bagi kita semua, terutama para pendidik, orang tua, dan pemimpin masyarakat, untuk menanamkan nilai-nilai intelektual dan etika yang kuat pada generasi muda. Pendidikan harus menekankan pentingnya pemikiran kritis, analitis, dan kreatif. Siswa harus diajarkan untuk menghargai proses belajar yang mendalam dan menantang, serta memahami bahwa kesuksesan sejati tidak datang secara instan, tetapi melalui kerja keras, dedikasi, dan integritas.

Selain itu, kita perlu mengajarkan anak-anak muda untuk melihat media sosial dan platform digital sebagai alat, bukan tujuan. Mereka harus memahami bahwa popularitas di dunia maya tidak seharusnya menjadi ukuran utama dari nilai dan prestasi mereka. Alih-alih, mereka harus diarahkan untuk menggunakan platform ini sebagai sarana untuk berbagi pengetahuan, inspirasi, dan kontribusi positif kepada masyarakat.

Membangun komunitas yang mendukung intelektualisasi juga sangat penting. Diskusi yang mendalam dan konstruktif harus didorong di berbagai forum, baik online maupun offline. Komunitas yang menghargai pengetahuan dan pemikiran kritis akan membantu mengimbangi pengaruh negatif dari budaya viralisme yang dangkal. Dalam komunitas ini, prestasi intelektual dan kontribusi nyata akan lebih dihargai daripada popularitas semu.

Penting juga bagi media untuk memainkan peran yang lebih bertanggung jawab. Media harus lebih selektif dalam menyoroti konten yang viral, memastikan bahwa informasi yang disebarkan bermanfaat, akurat, dan mendidik. Jurnalisme yang berkualitas dan beretika dapat menjadi penyeimbang yang efektif terhadap banjirnya konten viral yang sering kali menyesatkan dan tidak bermutu.

Pada akhirnya, kita harus mengingatkan anak-anak muda bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa banyak orang yang mengenal dan mengikuti mereka di media sosial, atau karena ketenaran mereka, tetapi tentang seberapa besar dampak positif yang mereka buat dalam kehidupan nyata. Kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui kombinasi pengetahuan yang mendalam, keterampilan yang mumpuni, dan integritas yang tak tergoyahkan. Dengan demikian, generasi muda dapat tumbuh menjadi pemimpin yang tidak hanya terkenal, tetapi juga benar-benar mampu membawa perubahan positif dan berarti bagi dunia.

Dengan upaya bersama dan komitmen yang kuat, kita dapat membantu anak-anak muda untuk tidak terperangkap dalam ilusi viralisme, tetapi sebaliknya, mengarahkan mereka menuju jalur intelektualisasi yang akan membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan. Tantangan ini besar, namun dengan dedikasi dan kerja keras, kita dapat membangun generasi pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi juga benar-benar bijaksana dan berpengaruh.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya