Perang Pabrik Semen di Matim-NTT : Pilih Mbaru Pesek atau Mbaru Semen?

Inovator tekhnologi peternakan ramah lingkungan
Perang Pabrik Semen di Matim-NTT : Pilih Mbaru Pesek atau Mbaru Semen? 30/06/2020 1531 view Lainnya :Harian Flresa

Seperti diberitakan oleh berbagai media, Rabu (24/6),Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Usai melakukan kunker tersebut , beliau disambut aksi demo mahasiswa yang tergabung dalam aliansi PMKRI-GMNI Kabupaten Manggarai. Para pendemo menuntut VBL mendukung melanjutkan moratorium tambang dan menjadikan lahan pertanian, peternakan dan pariwisata sebagai leading sektor pembangunan. Dan juga diminta mendukung penetapan Pulau Flores, sebagai wilayah ekoregional.

Aksi demo yang dilakukan di ujung Jembatan Gongger itu, tidak dihiraukan VBL. Ia bersama rombongan berhasil menembus barisan pendemo melanjutkan kunker ke Pota, Kec.Sambi Rampas, Kab.Manggarai Timur (Matim). Beliau sempat mampir sekitar 30 menit di Kampung Lengko Lolok, lokasi tambang batu gambing (batu putih) untuk bahan baku pabrik semen di Luwuk. Klemens Salbin, salah seorang warga Lengko Lolok menyampaikan kepada VBL bahwa ada sebanyak 103 pemilik lahan . Yang tidak setuju hanya 2 KK saja. Situasi hidup warga juga tetap aman. Tidak terpengaruh dengan sikap pro dan kontra dan desakan dari orang luar.

Usai kunker orang nomor 1 di NTT itu, perang opini antar kedua kubu kian panas memenuhi halaman medsos dan media online. Hujat menghujat, hantam menghantam, ejek mengejek, hina menghina terus terjadi.

Seperti diungkapkan Kelemes Salbin di atas, secara statistika, perang itu sesungguhnya sudah selesai. Kubu pro menang telak. Bayangkan warga yang mendukung mencapai 98%. Mereka juga tetap hidup nyaman dan enjoy saja. Tidak ada gesekan di antara mereka. Ekesekusi kesepakatan dengan investor berjalan lancar. Pembayaran ganti rugi jual beli lahan dan asset sudah sampai pada tahap kedua. Perang besar yang terjadi di luar sana, sama sekali tidak mempengaruhi kehidupan mereka. Begitu juga dengan investor. Prosedur administrativ untuk melegalkan rencana investasinya, hampir rampung. Tinggal Izin Lingkungan Hidup (ILH) saja yang belum terbit. Menanti rekomendasi hasil penilaian Amdal tentu.

Opini yang dimainkan kubu kontra berpatokan pada isu global : “pembangunan berkelanjutan” yang bila dibaikan bumi kita bisa kiamat. Maklum, semua dampak negativ dari aktivitas pembangunan yang ada di bumi ini, baik yang berskala kecil maupun yang berskala besar, akan berujung pada menumpuknya gas rumah kaca (grk) di atmosfer bumi. Ozon yang merupakan pelindung bumi dari sengatan sinar mata hari langsung, akan menipis. Pemanasan global pun sulit dihindari. Es di kutub mencair. Permukaan air laut perlahan naik. Pulau-pulau satu persatu hilang dari pandangan. Inilah yang disebut bumi kiamat itu. Wah, menakutkan sekali bukan?

Siapa pun, tidak mau jika pada suatu saat bumi ini kiamat. Tetapi tidak semua orang berjuang keras untuk menyelamatkan bumi ini. Memang masih cukup banyak pejuang untuk menyelamatkan bumi kita. Tetapi umumnya sebatas berteriak belaka, aksi nyata jauh dari harapan, bahkan perilakunya sehari hari justru mereka juga menjadi biang keladi percepatan kiamatnya bumi ini. Ah, menyedihkan. Lantas apa yang mau diteriaki (didemo?). Atau memang kita sedang terjangkit penyakit yang satu ini : susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah?

Mari kita tengok sedikit ke tempo lalu. Dulu, sekitar era tahun 1970-an, di Manggarai kehebatan warga ditentukan oleh apa yang disebut PEKO-SAMA-RAGA. Seseorang di kampung manapun, akan disegani, dihormati, disanjung dan menjadi buah bibir bila dia memiliki harta berlimpah yang digambarkan dalam akronim peko-sama-raga itu : pesek-kopi-sawah-mesin jahit-radio dan gas. Seorang pemuda tidak akan mengalami kesulitan apa pun mempersunting seorang gadis bila diketahui bahwa pemuda itu berasal dari keluraga yang memiliki harta berlimpah berupa peko-sama-raga. Sebaliknya juga, seorang gadis dari keluarga peko-sama-raga akan menjadi rebutan para pemuda untuk mempersuntingnya. Di berbagai hajatan apa saja, warga yang empunya harta berlimpah peko-sama-raga itu selalu mendapat tempat terhormat.

Selama era itu bahkan hingga kini, mbaru pesek (rumah yang dinding dan lantainya-dek dibuat dari papan kayu) pun berdiri megah di mana-mana. Juga kini, Manggarai menjadi terkenal bukan saja karena pohon kopinya ada dimana mana, tetapi juga karena kenikmatan kopi Manggarai diakui dunia. Selain kopi, pada masa Gubernur Ben Mboi, Manggarai juga dikenal sebagai gudang beras NTT. Areal persawahan Lembor si Manggarai Barat, telah menjadi kekuatan utamanya. Tetapi itu tidak cukup. Warga ramai ramai memotong lereng lereng terjal, munuruni ngarai membuat peta-petak sawah. Bahkan sebagian warga secara swadaya melakukan “ngo long” alias transmigrasi lokal ke tanah terjanji dimana berkelimpahan susu-madunya.

Dambaan warga untuk memiliki mbaru pesek, kopi dan sawah terwujud sudah. Untuk mencapai itu semua, pongga puar alias babat hutanlah yang ditempuh. Sebagaian wilayah Manggarai Timur, kini puar tinggal kenangan. Contoh saja Bukit Golo Wuas dan Bukit Golo Tado di Kecamatan Lamba Leda-Matim, dulu puarnya begitu lebat. Kini berubah menjadi bukit botak, tandus dan kritis sekali tanahnya. Hanya dipenuhi vegetasi perdu seperti sensus atau balakacida (di tempat lain di Manggarai disebut roket alias okade atau merdeka). Sebagian wilayah Matim juga selalu mengalami kekeringan berkepanjangan, terjadi perubahan iklim. Beberapa sumber air, debitnya berkurang bahkan ada yang sudah mati. Tanah longsor selalu terjadi di mana mana. Paruh paruh Matim terancam. Siapa yang salah?

Walau begitu, aksi pongga puar pun tetap dan terus dilakukan hingga hari ini. Bahkan pernah menimbulkan korban bowo dara (kematian) atas ketegasan mantan Bupati Manggarai saat itu, Drs.Antony Dagul Bagur yang melarang warga melakukan pongga puar untuk menanam kopi di areal hutan milik Negara. Namun warga begitu gigih tetap melakukannya. Maka terjadilah “perang” yang berujung pada bowo dara beberapa warga.

Dari sisi isu pembangunan berkelanjutan global, penggunaan bahan bangunan bukan dari kayu merupakan alternativ yang paling jitu untuk mengendalikan berkurangngnya bahkan hilang hutan. Tentu hal yang sama juga untuk Matim. Mempertahankan bahkan mengingkatkan luas hutan merupakan suatu keharusan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan menjamin keberlangsungan ketersediaan jasa lingkungan bagi makhluk hidup terutama penduduk.

Jasa lingkungan yang dimaksud berupa sumber air selalu terjamin dan tidak tercemar, udara tetap bersih dan segar, para satwa tetap berkembang secara alami,berbagai hasil hutan selalu tersedia, curah hujan normal sehingga sawah ladang produktivitasnya maksimal, pengaturan aliran air permukaan dan air tanah untuk mencegah terjadinya tanah longsor dan banjir bandang dan lain lain.

Luas areal untuk pembangunan pabrik semen-batu putih di Matim mencapai 505 hektar. Selama 62 tahun perusahaan beroparasi di wilayah itu nanti, pasti bisa dihitung, berapa banyak pepohonan yang menjadi korbannya? Bila dibandingkan dengan pongga puar yang dilakukan warga di wilayah lain di Matim baik untuk aktivitas pembangunan mbaru pesek, perladangan, perkebunan dan lainnya, dapat dipastikan luas hutan yang menjadi korban akibat pabrik semen-tambang batu putih di Lengko Lolok-Luwuk itu, tentu jauh amat lebih kecil ketimbang yang dilakukan warga di seluruh wilayah Matim. Artinya, tidak salah jika dikatakan bahwa kehadiran pabrik semen-batu putih itu justru jauh lebih menguntungkan untuk menjamin kelestarian lingkungan hidup khsususnya di Matim maupun secara global.

Pilihan yang amat sulit memang. Tetapi pilihan harus dilakukan untuk menjamin keberlangsungan sesuatu yang lebih besar : hutan tetap lestari sepanjang segala masa. Mudah mudahan, pilihan kita tidak salah : “selamat tinggal mbaru pesek, selamat datang mbaru semen, rumah yang dibangun bukan menggunakan kayu tetapi semen”.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya