Penjara Bukan Solusi untuk Pecandu Narkotika

Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Kelas I Manokwari
Penjara Bukan Solusi untuk Pecandu Narkotika 21/07/2021 51 view Hukum cbc.ca

Belum lama ini publik kembali digemparkan oleh penangkapan artis oleh pihak kepolisian karena diduga telah menggunakan narkotika. Nia Ramadhani beserta suami, Ardi Bakrie diamankan dan dimintai keterangan terkait kepemilikan narkotika jenis sabu. Seperti kita ketahui sudah banyak deretan artis terkenal yang harus berurusan dengan kepolisan karena kasus serupa.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai petugas Pembimbing Kemasyarakatan ketika melakukan wawancara dengan narapidana narkotika, kebanyakan dari mereka mengonsumsi narkotika karena dengan mengonsumsi narkotika tersebut mereka merasa lebih merasa tenang dan lebih percaya diri. Apakah begitu juga bagi mereka para artis yang sering kedapatan mengonsumsi narkotika? Mereka mengonsumsi barang haram tersebut sebagai dopping atau penguat karena jadwal kegiatan yang sangat padat. Nia dan suami sendiri mengaku menggunakan narkotika karena alasan tekanan kerja yang dialami selama masa pandemi.

Overkapasitas Lapas atau Rutan

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia melalui Direktur Jendral Pemasyarakatan merilis jumlah narapidana kasus narkotika yang ada di Indonesia berjumlah 135 ribu dari jumlah seluruh narapidana di Indonesia yang berjumlah 250 ribu. Bisa dikatakan bahwa sekitar 54% jumlah narapidana di Indonesia adalah terpidana kasus narkotika. Sebagai contoh adalah di Lapas Cipinang dimana jumlah WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) berjumlah 3800 orang dan 3500 diantaranya adalah kasus narkotika.

Keadaan lapas atau rutan yang mengalamai kelebihan kapasitas merupakan potensi permasalahan. Permasalahan seperti gangguan keamaanan, penyakit menular dan tidak berjalannya program pembinaan akan selalu ada disetiap lapas/rutan. Sehingga tujuan utama pemasyarakatan untuk membina narapidana agar siap kembali ke masyarakatan akan sulit dicapai.

Penyumbang terbesar overkapsitas yang dialami lapas/rutan adalah kasus narkotika. Hal ini dikarenakan pendekatan yang digunakan dalam menangani kasus narkotika selama ini masih menerapkan pendekatan punitif. Memang, ada beberapa para pecandu yang kemudian mendapat hukuman untuk menjalani rehabilitasi. Namun jumlahnya masih sangat sedikit, dan yang menjadi perhatian publik karena hanya mereka golongan atas saja yang biasanya mendapat hukuman tersebut. Seperti artis dan pejabat.

Padahal jelas diatur dalam dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 di dalam Pasal 54 disebutkan “ Pecandu narkotika dan penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial". Selain itu juga menurut mantan Kepala BNN RI yang juga mantan Kabareskrim Polri Komjen (Purn) Anang Iskandar saat menyampaikan pendapatnya selaku narasumber di Liputan 6 SCTV mengungkapkan bahwa UURI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika memiliki kekhususan yaitu bersifat pemaaf.

Artinya ketika para penyalahguna narkoba ini dimaafkan maka para penyalahguna narkotika ini direhabilitasi. Jadi sudah jelas kalau pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkoba wajib direhabilitasi. Sedangkan pengedar ataupun pemasok wajib menjalani hukuman di penjara. Begitu juga pernyataan dari Sulistyo Pudjo Hartono selaku Karo Humas dan Protokol BNN yang dikutip dari situs bnn.go.id menyatakan bahwa bagi para pecandu narkotika yang menyerahkan diri langsung dilakukan assessment dan langsung kita tangani. Meraka harus melakukan wajib lapor secara online lapor melalui website BNN.

Penjara Bukan Solusi

Pidana penjara tidak akan memberikan efek jera bagi seorang pecandu narkotika. Seperti yang kita ketahui bahaya dari zat adiktif adalah efek candu yang sulit dihilangkan. Pemakai narkotika memang seharusnya mendapatkan program rehabilitasi. Efek candu yang ditimbulkan dari pemakaian obat harus mendapatkan perlakuan atau terapi khusus agar benar-benar hilang.

Efek candu tersebut tidak akan hilang begitu saja karena hukuman penjara. Untuk itu program rehabilitasi di dalam lapas/rutan harus diberikan kepada para narapidana kasus narkotika. Namun, kenyataan di lapangan program rehabilitasi di lapas/rutan juga belum sepenuhnya dijalankan. Ada lapas/rutan yang sudah menjalankan namun lebih banyak lapas/rutan yang belum menjalankan program rehabilitasi bagi narapidana kasus narkoba. Tentu hal ini yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham.

Dengan tidak berjalannya program rehabilitasi di lapas/rutan, maka potensi peredaran narkotika semakin marak terjadi di dalam lapas/rutan. Para napi narkotika yang masih kecanduan narkotika akan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan barang tersebut saat di dalam lapas/rutan. Sudah bukan hal baru lagi bahwa para narapidana masih dapat memperoleh narkotika saat di dalam lapas/rutan. Bahkan para bandar masih mengendalikan narkotika dari dalam lapas. Sebagai contoh terungkapnya peredaran narkoba di Lapas Muara Sabak Jambi yang dikutip dari situs Divisi Humas Polri tanggal 30 April 2021 di mana napi mengendalikan peredaran narkotika menggunakan ponsel.

Setelah selesai menjalani pidana penjara, lantas apakah para pecandu tersebut akan benar-benar berhenti? Mungkin sebagian besar akan kembali menggunakan barang haram tersebut. Kita lihat saja beberapa artis untuk kesekian kalinya terseret kasus narkotika. Sebut saja Roy Martin, Ridho Roma, Reza Artamevia dan masih banyak lagi.

Rehabilitasi untuk para pengguna narkotika akan lebih efektif dibandingkan dengan pidana penjara. Namun kita harus siap mengubah payung hukum tentang narkotika agar rehabilitasi dapat sepenuhnya diberikan bagi para pecandu. Sebagaimana kita lihat sistem hukum di negara Thailand yang merehabilitasi pecandu narkotika dengan minuman herbal, Peru yang merehabilitasi dengan halusinogen alami, dan Brazil yang merehabilitasi dengan pendekatan spiritual. Lalu sampai kapankah pencandu narkotika di Indonesia akan terus dikenakan pidana penjara?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya