Pembangunan Jalan Tol Jokowi: Sebuah Prestasi

Mahasiswa Jurnalistik Ilmu Komunikasi UPNVY
Pembangunan Jalan Tol Jokowi: Sebuah Prestasi 22/04/2022 207 view Politik piqsels.com

Merespon tulisan Achmad Nur Hidayat MPP, "Jokowi Bangun 1.900 Km Jalan Tol, Siapa Yang Menikmati?", yang diterbitkan Sindonews.com, sabtu 16 April 2022 (di sini).

Pada tanggal 14 April 2022 kemarin, Presiden Jokowi memposting sebuah cuitan di Twitter yang berisi: “Selama 40 tahun, Indonesia hanya mampu membangun 780 km jalan tol. Maka, mulai tahun 2014 itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan jalan tol di Trans-Jawa, Trans-Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Berapa Panjang jalan tol yang kita bangun 7 tahun terakhir? 1.900km.”

Pernyataan orang nomor satu di Indonesia tersebut memang memberi kesan bahwa selaku Kepala Pemerintahan ia bangga dengan genjotan pembangunan yang sudah dilakukan selama tujuh tahun terakhir. Terdapat perbedaan yang sangat signifikan terkait angka atau besaran panjang tol yang dibangun Jokowi dibandingkan dengan pembangunan selama 40 tahun kebelakang sebelum Jokowi menjabat Presiden.

Namun Achmad Nur Hidayat MPP, Ketua Pusat Studi Ekonomi Politik UPN Veteran Jakarta memiliki penilaian yang berbeda. Hal ini memicunya menuliskan opini yang kontra. Intinya ia menilai bahwa pemerintah tidak mempunyai cara pandang yang ideal terhadap kelayakan dalam tata kelola negara.

Pakar kebijakan publik ini menulis bahwa pembangunan tol tidak dapat dikatakan sebuah prestasi apabila pembiayaannya menggunakan dana utang yang besarnya kurang lebih Rp5.000 triliun, pada akhirnya hal itu menjadi beban jangka panjang bagi rakyat.

Selain itu ia juga menyatakan pembangunan jalan tol tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat sebab nyatanya distribusi dan harga bahan sembako tidak menjadi lebih baik serta murah. Dalam tulisan tersebut Achmad juga menilai tarif tol yang tinggi hanya untuk kepentingan bisnis belaka, sementara rakyat kecil tidak merasakan kemanfaatannya.

Menurut saya Achmad dalam tulisannya kurang mampu melihat dan menangkap dampak positif dari pembangunan jalan tol. Dalam sebuah kebijakan tentu pasti ada dampak positif dan negatifnya, pemerintah hanya perlu menimbang apakah dampak positif dari kebijakan tersebut lebih banyak dan layak dibandingkan dengan dampak negatifnya.

Pertama kita harus mengetahui terlebih dahulu tujuan dan manfaat pembangunan jalan tol.

Badan Pengatur Jalan Tol di bawah Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menuliskan tujuan yang pertama penyelenggaraan tol ialah untuk memperlancar lalu lintas di daerah berkembang, meningkatkan pelayanan distribusi barang dan jasa guna menunjang pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dan keadilan, dan meringankan beban dana Pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan.

Jika dilihat dari tujuan tersebut maka manfaat yang masyarakat bisa rasakan saat ini melalui penyelenggaraan tol seperti mempermudah mobilitas dan meningkatkan aksesbilitas orang dan barang. Bayangkan jika distribusi barang atau perjalanan seseorang menuju kota lain harus melewati jalan raya biasa, maka kemacetan tidak dapat dihindari dan jaraknya lebih jauh. Tentu lebih efektif apabila menggunakan jalan tol, masyarakat menjadi lebih hemat biaya operasi dan hemat waktu.

Memang saat ini harga bahan sembako tidak menjadi lebih baik serta murah meski biaya operasional sudah lebih terpangkas, tetapi perlu diingat bahwa tentu saja banyak hal lain yang mempengaruhi harga sembako.

Selain itu, meskipun dana yang digunakan untuk pembangunan jalan tol menjadi utang, perlu kita ketahui bahwa tarif tol juga berguna untuk meringankan beban pemerintah dalam membayar utang negara, sehingga dengan manfaat sedemikian rupa tentu saja tidak sia-sia peminjaman dana dilakukan.

Rakyat kecil yang tidak memiliki mobil memang tidak merasakan kemanfaatan tol secara langsung. Namun dengan meratanya pendistribusian barang ke kota dan desa kecil maka masyarakat kecil secara tidak langsung merasakan manfaatnya. Bayangkan jika akses jalan pendistribusian susah dan terbatas maka rakyat juga akan susah mendapatkan barang di desanya.

Dalam dunia jurnalistik diajarkan untuk melihat suatu realitas dari kaca mata yang luas dan menyeluruh, untuk itu kita tidak bisa menilai hanya berdasarkan satu atau dua dimensi saja lalu menarik kesimpulan. Menurut saya tujuan dan manfaat dari pembangunan tol sudah tercapai, hanya saja memang tujuan pertumbuhan ekonomi pada rakyat melalui tol masih belum terlalu terlihat.

Namun hanya karena satu dimensi yang tidak terpenuhi bukan berarti pembangunan tol tersebut tidak layak diapresiasi. Pembangunan tersebut tetaplah merupakan prestasi, karena saat ini pemerataan pembangunan pun menjadi lebih merata akibat adanya jalan tol.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya