Pandemi COVID-19 dan Euphoria Epidemiolog Dadakan

Pandemi COVID-19 dan Euphoria Epidemiolog Dadakan 24/03/2020 1167 view Lainnya Foto Pribadi Diskusi COVID-19

Indonesia 6 Bulan yang lalu: 1 (satu) orang Ahli Epidemiologi Penyakit Menular untuk sekitar 600.000 populasi

Indonesia saat ini: hampir semua orang merasa jadi Epidemiolog Penyakit Menular

Maaf, kalimat pembuka di atas memang lelucon saja, tapi bukan lelucon yang bisa membuat kita tertawa. Sebaliknya, lelucon itu sebetulnya harus membuat kita prihatin, terutama bila melihat kondisi ketersediaan tenaga lapangan yang salah satunya adalah ahli epidemiolog untuk melakukan penelusuran kasus, melakukan analisa, dan melaporkannya kepada pihak terkait sebagai dasar dalam menentukan strategi atau kebijakan pemerintah yang akan diambil dalam menghadang dan mengontrol laju pandemi COVID-19.

Epidemiologi adalah cabang ilmu kesehatan yang juga sudah memiliki cabang keahlian yang beragam dan luas, mulai dari Epidemiologi Gizi, Kespro, Klinik dan masih banyak lagi lainnya. Sedangkan untuk peminatan atau jurusan yang berkaitan dengan wabah penyakit menular atau suatu epidemi dan pandemi maka ahli epidemiologi yang terlibat adalah Epidemiolog Penyakit Menular (Epi PM) dan FETP (field epidemiology training programmes) yang menjadi semacam kopassus dalam perang melawan wabah/epidemi/pandemi di lapangan.

Atas temuan para ahli epidemiolog penyakit menular inilah, maka kita akan tahu asal mula penyakit, bagaimana penyakit dapat menyebar di masyarakat, seberapa besar kejadian penyakit pada spesifik populasi, faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit, estimasi dan opsi strategi mengendalikan penyakit tersebut. Tentunya pada skala nasional dan global diperlukan dasar keilmuan dan pengalaman yang lebih sesuai serta mumpuni dalam kaitan epidemi atau pandemi.

Berapa jumlah Epidemiolog penyakit menular di Indonesia? Berdasarkan wilayah geografis dan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 260 Juta, dengan 34 Provinsi dan 514 Kab/Kota maka minimal negara kita butuh sekitar 568 ahli Epi PM dan 9.510 asisten ahli epidemiologi (ini perhitungan PPSDM Kemenkes tahun 2014).

Sementara kondisi terakhir diperkirakan baru ada sekitar 400an ahli epidemiologi di Indonesia. Itu pun dikurangi 140 orang yang ahli FETP. Jumlah ini hampir sama dengan ahli FETP yang dimiliki Australia dengan penduduk yang 13 kali lipat lebih kecil dari Indonesia. Sebagai gambaran saja, secara global, dunia memiliki sekitar 7000an Ahli FETP yang mayoritas berada di negara maju.

Padahal dalam dua dasawarsa terakhir ini Indonesia mengalami tiga pandemi yaitu pandemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) tahun 2002, pandemi Influenza A (H1N1) tahun 2009 dan saat ini pandemi COVID-19, yang merugikan secara ekonomi, sosial dan juga merugikan nyawa manusia. Terkendalinya dua pandemi awal bukan karena penemuan obat atau vaksin tapi berkat pencegahan penularan dan memutus rantai penularan di tingkat global, regional, nasional, dan juga lokal. Vaksinnya sendiri ditemukan setahun setelah pandemi selesai.

Sayangnya tenaga Epidemiolog Penyakit Menular ini tidak populer dan belum jadi perhatian Pemerintah terutama di daerah-daerah dan minim peminat calon potensial karena tidak jelas career pathway-nya di Kemenkes dan di daerah. Seolah pekerjaan mereka bisa dikerjakan oleh orang lain yg tidak terlatih terutama jika ada wabah.

Seperti pada saat kondisi pandemi COVID-19 sekarang ini, berbagai daerah akhirnya kebingungan dalam melakukan pelacakan kasus (contact tracing). Hal ini disebabkan oleh sedikitnya tenaga Epidemiolog yang terlatih khususnya alumni FETP.

Tidak heran jika ahli epidemiologi begitu dicari di negara-negara maju. Di Australia sendiri studi FETP hanya ada di ANU Canberra dan hanya menerima 12 orang setiap tahunnya dengan pembiayaan penuh pemerintah untuk selanjutnya ditempatkan di seluruh negara bagian, tentunya dengan jaminan kesejahteraan. Karena mereka begitu paham bahwa epidemiologi adalah kunci pencegahan penyakit yang terjadi di masyarakat.

Tanpa adanya deteksi dini yang efektif terhadap suatu epidemi maka bisa kita rasakan sekarang dampaknya pada sektor ekonomi, sosial dan sudah barang tentu kesakitan dan kematian. Jadi jangan hanya peduli atau merasa jadi ahli Epiedmiologi saat wabah saja, tapi wujudkan kepedulian saat masa tenang baik pada riset, pendidikan dan pengembangan.

Sebagai penutup, saya kutip ucapan Alm. kasino: “Bangsa kita bukan kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur.” Jujur dalam bertindak, berucap baik pada orang lain maupun diri sendiri.

Jujur atas keterbatasan diri adalah juga termasuk di dalamnya sehingga kita dapat terus memperbaiki diri. Terutama mengingat ancaman pandemi COVID-19 ini hanyalah salah satu contoh nyata dari sekian ancaman yang masih akan kita hadapi di masa depan dan akan jauh lebih berbahaya.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya