Motif Kepulangan Habib Rizieq

Motif Kepulangan Habib Rizieq 26/11/2020 796 view Politik wikimedia.org

Setelah mengasingkan diri ke Arab Saudi sekitar tiga tahun lebih, Habib Rizieq akhirnya pulang ke tanah air pada hari Selasa, 10 November 2020.

Sudah bukan menjadi rahasia umum, ia melarikan diri ke Arab Saudi karena tersandung kasus sexting (chat mesum) dengan Firza Hussein.

Kita boleh mengklaim bahwa jika benar ia melakukan tindakan senonoh tersebut, itu merupakan hal yang manusiawi belaka: manusia sejatinya ialah binatang sosial yang memiliki hasrat seksual. Namun, bagi seorang Habib Rizieq yang kerap berdiri tegak di mimbar dengan mengacungkan jempol sembari mengumandangkan moralitas Islam, kasus tersebut dapat menggugat kharismanya dan menelanjangi hipokrisinya.

Terlepas dari hal tersebut, ia tetap memiliki banyak simpatisan yang fanatik. Ini terlihat dari banyaknya orang yang menunggu dan menyambut kedatangannya di Bandara Soekarno-Hatta. Toh juga Polda Metro Jaya telah menutup kasus tersebut akibat kurangnya bukti.

Keadaan Bandara kala itu semarak dan ramai hingga mengakibatkan kemacetan, penundaan penerbangan pesawat terbang sampai siang hari, dan rusaknya beberapa fasilitas Bandara. Antusiasme simpatisan yang demikian justru tidak dibarengi dengan menaati protokol pencegahan Covid-19. Banyak dari mereka berkerumun dan berdesakan tanpa memakai masker.

Habib Rizieq sendiri malah dikabarkan tak menjalani tes Covid-19. Padahal, setiap WNI yang datang dari Arab Saudi mesti menjalani tes Covid-19 dan sembari menunggu hasilnya, diwajibkan untuk karantina selama dua minggu. Hal ini bertambah parah mengingat kondisi Habib Rizieq yang dinilai kelelahan setelah menjalani penerbangan yang sangat lama dan diarak dari Bandara ke kediamannya, Petamburan III Jakarta Pusat yang juga markas FPI.

Saat berada di kediamannya pada Selasa malam, ia didatangi oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Selain silaturrahami, ini merupakan bentuk penghormatan karena tanpanya mungkin ia tak bisa menjadi orang nomor satu di Jakarta.

Habib Rizieq berada di kediamannya hingga Kamis, 12 November 2020. Besoknya, ia menjamu gurunya guna acara keagaaman. Deretan acaranya dikabarkan berlangsung hingga akhir pekan dan bersaman dengan pernikahan putrinya, Najwa Shihab. Oleh karenanya, tak bisa dipungkiri, hal tersebut justru mengakibatkan potensi munculnya klaster penyebaran corona yang besar.

Memang kemudian Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono memberikan surat panggilan kepada Anies Baswedan; mencopot Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi dicopot dari jabatannya.

Namun, dalam konteks menjelang Pilkada, pemanggilan dan pencopotan tersebut lebih bertendensi politis. Seperti kita tahu, kepentingan PDIP—partai eksponen Jokowi—tak terakomodasi dengan baik dalam pembangunan kota Jakarta. Jadi, bisa jadi—apabila Anies hendak mencalonkan kembali menjadi Gubernur—pemanggilan tersebut bertujuan untuk mempermalukan atau meruntuhkan kewibawaan Anies di hadapan rakyatnya. Terkait pencopotan itu bukanlah hal yang mengagetkan. Karena, dalam politik, selalu ada yang dikorbankan untuk menjatuhkan lawan.

Kembali kepada soal Habib Rizieq. Habib Rizieq merupakan Imam Besar organisasi FPI (Front Pembela Islam). Ia adalah propagandis ulung yang kontroversial. Wataknya yang demikian membuat FPI dikenal luas oleh masyarakat di Indonesia.

Kehebatannya yang barangkali masih bugar dalam ingatan kita ialah ia berhasil memobilisasi islamis perkotaan untuk memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait penistaan agama dalam Aksi Bela Islam yang terjadi pada 2 Desember 2016. Padahal, tujuan aksi ini sebenarnya tak lebih dari memukul Ahok agar kalah dalam Pilkada.

Prestasi yang begitu gemilang, mendorong Prabowo-Sandi memakai jasanya dalam kampanye pemilihan Presiden. Tidak bisa tidak, atmosfer politik pun akhirnya berubah. Hal ini memaksa Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin guna mendapat sokongan suara dari warga Nahdlatul ‘Ulama. Prabowo akhirnya kalah dari Jokowi.

Yang mengejutkan, Prabowo justru diangkat menjadi Menteri Pertahanan oleh Jokowi. Artinya, Prabowo berkonvergensi dengan Jokowi dan dengan sendirinya memutus Habib Rizieq. Ini terlihat dari tiadanya dukungan kepada Habib Rizieq saat terjerat kasus sexting.

Namun, saat kebobrokan kekuasaan sekarang ini dibiarkan terpampang begitu telanjang, ia kembali dibutuhkan. Ia memiliki kemampuan membajak dan kemudian mengkonfigurasi ketegangan sosial-ekonomi dan isu publik yang menyelubunginya dengan strategi-strategi yang memuluskan penyelesaiannya melalui bentuk tatanan-tatanan moral yang umumnya kondusif bagi para elite politik.

Dengan kata lain, ia bisa mengalihkan isu yang sedang mengegerkan publik ke isu yang sebenarnya imajiner belaka. Dalam konteks sekarang, misalnya, ia berguna untuk mengalihkan isu Omnibus Law yang digadang-gadang menyengsarakan rakyat ke isu kebangkitan Komunisme, anti-Cina atau Kristenisasi.

Sementara itu, FPI bisa menjadi “Anjing Penyerang” bagi gerakan mahasiswa, buruh dan pelajar yang sedang berjuang menolak Omnibus Law.

Apalagi, sekarang sedang menuju kontes Pilkada. Seperti biasanya, FPI dibutuhkan untuk menarik dan memobilisasi kaum miskin kota dan kaum kelas menengah konservatif agar mendukung Paslon yang menjalin konsesi dengannya.

Pun, FPI juga dibutuhkan sebagai counter bagi pihak yang meminta kontes perhelatan lima tahun sekali itu ditunda. Meski demikian, harga politik yang harus dibayarkan tentu lebih mahal. Tak ayal, Habib Rizieq yang dibuang begitu saja laiknya permen yang sudah berasa sepah, kini tiba-tiba dibutuhkan.

Sebenarnya, secara implisit ia sudah mengajukan tawaran politik. Dalam video yang ditayangkan oleh Front TV, ia menegaskan kembali keinginannya untuk melakukan rekonsiliasi dengan pemerintah selama memenuhi sejumlah syarat. Salah satunya ialah perlunya dialog dan diskusi, bukan tindakan main hakim sendiri.

Namun, sebelum itu terjadi, ia meminta pemerintah untuk membebaskan Abu Bakar Baa’syir, Habib Bahar bin Adam Smith, Syahganda Nainggolan, Anton Permana dan Jumhur Hidayat.

Ia juga memperlebar keinginannya dengan meminta buruh, mahasiswa dan demonstran untuk dibebaskan. Untuk yang terakhir, tampaknya ia bermaksud untuk mendemonstrasikan bahwa ia juga peduli dengan mereka. Mungkin saja masih ada tawaran-tawaran lainnya.

Sementara itu, “Revolusi Akhlak” yang didengungkannya sebetulnya ialah ungkapan retoris yang bertujuan untuk mendepolitisasi masyarakat. Sehingga, masyarakat menganggap bahwa kesenjangan yang semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin bukanlah konskuensi logis dari pembangunan ekonomi yang timpang, melainkan karena menjamurnya norma-norma masyarakat yang menyimpang dari moralitas Islam.

Terlepas dari itu semua, ia akan terus membuat kegaduhan sewaktu-sewaktu sebagaimana biasanya. FPI sendiri, sebagai organ centeng moralitas, juga tetap menatah ceruk keuntungan dari bisnis-bisnis haram yang dirazianya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya