Menghilangkan Stigma Negatif Mantan Narapidana

ASN KEMENKUMHAM
Menghilangkan Stigma Negatif Mantan Narapidana 10/09/2021 34 view Hukum mediaindonesia.com

Kata napi atau narapidana pasti sudah tak asing lagi terdengar. Narapidana merupakan sebuah sebutan bagi orang-orang yang berada di dalam sel tahanan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, narapidana adalah orang yang sedang menjalani hukuman karena tindak pidana.

Berdasarkan pengertian tersebut, kata narapidana erat kaitannya dengan hal-hal berupa tindakan kriminal, penjara, dan sejenisnya, di dalam kepala masyarakat. Karena itulah tak jarang mantan narapidana setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kerap mendapatkan penilaian yang negatif dari masyarakat. Bahwa mereka adalah orang jahat, mereka tidak layak kembali kemasyarakat dan bahkan menilai harusnya mereka tidak boleh hidup lagi karena sudah berbuat kejahatan atau tindak pidana.

Erving Goffman, seorang sosiolog yang terkenal dengan teori stigmanya mendefinisikan stigma sosial sebagai proses dinamis dari devaluasi yang secara signifikan mendiskreditkan seorang individu di mata individu lainnya. Meskipun para mantan narapidana ini sudah menjalani akibat hukum dari segala perbuatan pidana yang mereka lakukan. Dengan dimasukan ke Lapas untuk menjalani pembinaan serta dirampas kemerdekaannya. Ternyata masih banyak masyarakat yang memberikan label “narapidana” setiap kali berinteraksi dengan mereka. Masyarakat masih memberikan hukuman sosial dengan stigma negatif maupun merendahkan mereka. Padahal, cerminan yang ada dalam pikiran masyarakat tersebut belum tentu relevan dengan diri mantan narapidana setelah ia terbebas dari hukuman.

Sebenarnya semua penilaian dari masyakarat kepada para mantan narapidana tersebut menjadi yang hal wajar dan manusiawi, ketika menilai individu lainnya berdasarkan dengan masa lalu yang diperbuatnya. Akan tetapi dengan segala pembinaan yang sudah diterima oleh narapidana selama menjalani hukuman di Lapas, menjadi keniscayaan juga bahwa mereka bisa benar-benar bertobat dan kembali menjadi manusia yang seutuhnya taat dan bertaqwa kepada Tuhan.

Dalam buku Pengelolaan Lingkungan Sosial (2005), sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah bisa hidup seorang diri. Bahkan mantan narapidana, terlepas dari tindakannya di masa lalu, merupakan makhluk sosial seperti manusia lainnya. Hal utama yang menjadikan manusia sebagai makhluk sosial adalah kebutuhannya terhadap interaksi dengan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kebutuhan akan interaksinya terganggu, mantan narapidana pun akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai manusia. Seperti mereka sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain maupun sulit mendapatkan pekerjaan. Untuk itulah keberhasilan kembalinya mantan narapidana ke kemasyarakat sebenarnya sangat dipengaruhi lingkungan sekitarnya sendiri. Apakah lingkungan sekitar menjadi lingkungan yang baik dan mendukung mantan narapidana tersebut berubah ke arah yang lebih baik lagi atau malah sebaliknya. Karena realitanya, banyak mantan narapidana yang mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya karena stigma negatif yang menganggap mereka sebagai sampah masyarakat. Dampaknya, fungsi sosial mantan narapidana akhirnya sulit terpenuhi karena faktor eksternal dari mantan narapidana tersebut yang jika dibiarkan akan menimbulkan masalah baru di lingkungan tersebut. Dan bahkan bisa saja menjadikan mereka kembali melakukan pengulangan tindak pidana.

Untuk menghindari segala stigma negatif kepada mantan narapidana, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat tempat mantan narapidana itu kembali antara lain, masyarakat menerima dengan pikiran positif terlebih dahulu bahwa para mantan narapidana tersebut telah mendapatkan hukuman atas tindak pidananya. Juga mereka telah mendapatkan pembinaan di Lapas yang membuat mereka sudah berubah ke arah yang lebih baik. Kemudian memberikan kesempatan bagi mantan narapidana untuk menunjukkan perubahan positif yaitu dengan cara melibatkan mereka dalam setiap kegiatan kemasyarakatan atau memberikan peran kepada mereka di dalam masyarakat.

Selanjutnya masyarakat tidak boleh bersikap menghakimi atau berprasangka yang menjurus ke arah negatif terhadap mantan narapidana tersebut, serta tidak mengungkit kembali hal-hal terkait tindak pidana sebelumnya serta menyadari bahwa setiap orang memiliki masa depan, terlepas dari seburuk apapun masa lalunya. Sehingga dengan masyarakat mampu menjadi lingkungan yang baik dan mendukung setiap mantan narpidana, merekapun akan berubah ke arah yang lebih baik lagi, baik dalam hidup, penghidupan dan kehidupan mereka.

Seperti kisah seorang mantan narapidana yang bernama Adhe, warga Kampung Cijengjing, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Selama mendekam di Lapas, Adhe mendapatkan pelatihan pembuatan lampion dari bahan pipa. Sampai akhirnya setelah keluar dari Lapas, Adhe mencoba usaha pembuatan hiasan lampion pipa. Dengan apresiasi yang positif dan respon masyarakat sekitar yang baik, sangat mendukung bagi Adhe untuk mengembangkan ketrampilannya. Akhirnya usaha Adhe dapat berjalan baik, bahkan Adhe mampu menampung para mantan narapidana lainnya untuk bekerja di tempatnya.

Untuk itulah sangat diperlukan penerimaan yang baik dari masyarakat, serta dapat menjadi lingkungan yang baik dan mendukung bagi mantan narapidana untuk berhasil kembali ke arah yang lebih baik lagi dan tidak kembali mengulangi tindak pidana. Sehingga bukan menjadi hal yang mustahil akan bermunculan lebih banyak lagi Adhe Adhe yang lainnya lagi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya