Dunia Hiburan: Lahan Subur Berkembangnya Takhayul

Ibu Pekerja
Dunia Hiburan: Lahan Subur Berkembangnya Takhayul 03/05/2021 22 view Opini Mingguan www.hipwee.com

Hanya karena ingin terkenal di kampungnya, Ustadz AI mengambil jalan pintas menyebarkan membuat berita bohong tentang “Pesugihan Babi Ngepet”. Ditambah ada seorang warga yang cemburu dengan kekayaan tetangganya membuat warga lainnya semakin percaya. Dulu, saya percaya istilah babi ngepet itu hanya ada di komik jadul bertokoh Petruk karangan Tatang S, tapi ternyata sampai Presiden Indonesia berganti beberapa kali, babi ngepet masih menjadi cerita.

Babi ngepet hanyalah satu dari puluhan kejadian yang berbau takhayul yang beredar di Indonesia. Takhayul berarti sesuatu yang hanya berdasarkan pada khayalan belaka.(id.wikipedia.org, diedit 9/03/2021). Orang tua jaman dahulu menceritakan kejadian berbau takhayul di dalam kehidupan sehari-hari karena mereka belum memiliki alasan logis kenapa melakukan “A” dilarang. Dengan maksud agar larangannya ditakuti, diciptakanlah hal-hal yang tidak masuk akal sebagai suatu cara untuk “menakut-nakuti” anak-anak.

Tanpa disadari, berkembangnya takhayul di masyarakat bukan hanya ucapan turun-temurun dari orang tua, tetapi juga melalui hiburan. Lihat saja, berapa banyak channel YouTube atau acara televisi bahkan film layar lebar yang memasukkan unsur-unsur takhayul dan mistis di dalam ceritanya.

Wisata ke tempat yang berbau mistis dengan berbagai larangan sebelum memasukinya, mau tidak mau peserta ikut melakukan. Ingin melanggar? Tentu saja tak seorangpun berani mengambil risiko. Terkadang unsur takhayul di dalam hiburan terlihat seperti mengada-ada, sehingga bertambah lagi hal-hal yang tidak perlu dipercayai oleh masyarakat.

Acara seperti ini menjadi santapan segar bagi orang yang memiliki rasa penasaran, ingin tahu namun tidak berani melakukannya sendiri. Ada sensasi tersendiri jika kita bisa menontonnya sampai selesai. Terlebih lagi jika acara tersebut sudah memunculkan tulisan “perhatikan lingkaran merah” atau “perhatikan tanda panah”, disadari atau tidak mata kita akan memperhatikan dan menunggu apa yang akan muncul dalam lingkaran atau arah panah yang ditunjuk. Hal itu akan semakin membuat penasaran ketika apa yang dilingkari tidak bisa dilihat oleh mata kita.

Bukan hanya di Indonesia, di negara luar juga memiliki hiburan yang berakhir dengan munculnya takhayul di masyarakat. Seperti di Amerika, berawal dari diputarnya film berjudul Candy Man (1992) , tentang seorang pria kulit hitam (budak) yang menjalin cinta terlarang dengan seorang wanita kulit putih. Cerita berakhir dengan kematian sang pria yang diakibatkan oleh sengatan lebah ditubuhnya yang sengaja dibaluri madu oleh orang yang menentang hubungan tersebut.

Ternyata film tersebut dijadikan permainan yang berujung kepercayaan oleh anak-anak di Amerika. Jika mereka berani menyebut “Candy man” sebanyak lima kali di depan cermin kamar mandi di malam hari, maka pria tersebut akan muncul. Dan itu masih menjadi hal yang diyakini kebenarannya sampai sekarang. Bayangkan, negara semaju Amerika masih percaya dengan hal-hal yang berbau takhayul. Ketika tahayul telah menjadi unsur yang disisipkan dalam hiburan, maka perkembangannya menjadi sangat cepat dan lebih luas. Teknologi digital memegang peranan penting dalam mempercepat penyebarannya.

Takhayul yang telah diceritakan secara turun temurun ini sudah tertanam dalam pikiran masyarakat Indonesia. Sulit bahkan mustahil untuk dihilangkan. Contohnya saja, angka 13 yang dianggap sial masih bertahan sampai sekarang. Lihatlah, tidak ada nomor 13 di lift gedung dan tidak ada kamar nomor 13 di hotel bahkan yang baru dibangun.

Ternyata banyak mitos yang menceritakan asal mula mengapa angka 13 dianggap sial. Salah satunya adalah dalam mitologi Nordik. Meja nomor 13 terbukti tidak beruntung. Menurut mereka pada saat itu ada 12 dewa utama sedang makan bersama dengan tangan hingga akhirnya datang dewa perusak yang bernama Loki muncul dan duduk di meja ke tiga belas (intisari.grid.id, 16/03/2018).

Sebenarnya mengapa kita masih terus percaya dengan hal-hal yang berbau takhayul? Ternyata secara tidak langsung, mempercayai takhayul mengajarkan masyarakat untuk memiliki sopan santun dan tanggung jawab. Contohnya orang tua selalu mengatakan “menyapu sampai bersih, jika tidak nanti suaminya brewokan”. Bagi anak perempuan yang tidak mau punya suami brewokan pasti berusaha menyapu dengan bersih.

Orang yang percaya tahayul juga akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Contohnya ketika orang mempercayai warna-warna tertentu akan memberikan keberuntungan, tentu dia akan lebih sering mengenakan pakaian dengan warna yang disebutkan di beberapa kegiatan yang membutuhkan keberuntungan seperti ketika mengikuti ujian.

Adalah sulit untuk mengubah pemikiran orang lain terlebih itu adalah hal yang sudah diyakini bertahun-tahun. Maka, mulailah dari kita untuk merubah cara berpikir. Carilah alasan-alasan logis yang bisa membantah kejadian-kejadian yang dianggap takhayul. Berhentilah bercerita mengenai hal-hal yang tidak jelas kebenarannya kepada anak cucu kita sehingga paling tidak kita tidak ikut serta menyebarkannya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya