Mari Bersulang untuk Makhluk Bernama Manusia

Pegiat Rumah Baca Philosophia, Makassar
Mari Bersulang untuk Makhluk Bernama Manusia 04/09/2021 147 view Lainnya unsplash.com

Now, let us drink!
Let us drink!
Drink to the human race.
In every age, there will be good humans and bad humans.
Human life is too long to devote to reproduction,
yet too short to devote to learning,
in the helix of time.
Perhaps that is why humans succumb to desire and seek release.
Despite the fact that life is complete with the sun, the land, and the poetry.


Puisi yang ditulis oleh Masao Kikuchi tersebut mungkin bisa ditafsirkan dalam banyak cara. Namun, satu hal pasti yang disinggungnya adalah sejarah umat manusia yang banyak dihabiskan untuk bereproduksi tapi tidak diimbangi dengan keinginan belajar. Konsekuensi hal tersebut bagi peradaban umat manusia bukanlah hal yang sepele. Manusia memiliki keinginan tidak terbatas di tengah sumber daya alam yang terus terkuras.

Sejarah makhluk hidup itu sendiri adalah sejarah reproduksi. Untuk melangsungkan hidup, semua bentuk kehidupan harus memperbanyak diri baik dari segi jumlah maupun keragaman. Akan tetapi, memperbanyak diri saja tidak cukup. Mereka juga harus bisa beradaptasi. Seleksi alam akan menjadi ancaman kepunahan bagi yang siapapun yang tidak mampu mewariskan sifat-sifat yang paling menguntungkan untuk bertahan (Futuyama, 2015). Oleh karena itu, selain kemampuan bereproduksi, hal penting lainnya yang harus dimiliki setiap bentuk kehidupan adalah kemampuan beradaptasi.

Di antara semua bentuk kehidupan, manusia muncul sebagai salah satu pemenang dengan kemampuan bertahan hidup yang menarik. Selain bisa menyesuaikan diri dengan alam, manusia juga mampu mengubah alam agar bisa menyesuaikan diri dengan kepentingan mereka. Hasil dari kemampuan tersebut tampak jelas. Manusia menjadi makhluk yang paling dominan memanfaatkan sumber daya di bumi dengan jumlah populasi yang terus meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.

Dirilis oleh Population Matters, sebelum memasuki tahun masehi, jumlah umat manusia mencapai angka 5 juta jiwa dalam kurun waktu 8.000 tahun. Populasi tersebut kemudian dilipatgandakan menjadi 1 miliar pada tahun 1.800 Masehi. Akan tetapi, peningkatan tersebut belum seberapa. Ledakan populasi manusia justru terjadi dalam kurung waktu 200 tahun terakhir. Jika sebelumnya 1 milyar penduduk bisa dicapai dalam kurun waktu 9.800 tahun, pertambahan jumlah tersebut sekarang bisa dicapai dalam kurung waktu tiap 12-15 tahun. Dengan tingkat pertumbuhan sebesar 86,6 juta per tahun, jumlah populasi manusia pada tahun 2021 sudah mencapai 7,8 milyar. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, jumlah tersebut diperkirakan akan mencapai 9,7 milyar pada tahun 2030.

Jumlah tersebut seharusnya tidak menjadi masalah jika usaha menjaga kelangsungan hidup selesai dengan reproduksi semata. Namun, karena manusia juga butuh makanan, rumah, dan pakaian, persoalan reproduksi tersebut menguras waktu dan energi manusia lebih dari yang diperkirakan. Reproduksi tersebut membutuhkan banyak sumber daya dan kerja sama untuk tetap dilanjutkan.

Sayangnya, sumber daya di bumi bersifat terbatas. Manusia bergantung sepenuhnya pada minyak bumi, mineral, besi dan berbagai material lainnya untuk tetap menjalankan dunia modern. Hanya saja, penambahan jumlah konsumen secara tak terkendali hanya akan mempercepat terkurasnya sumber daya tersebut.

Bumi memang menyediakan sumber daya yang dapat diperbarui seperti air, udara, tanah yang subur dan ikan. Akan tetapi, menurut Global Footprint Network, manusia telah menggunakan sumber daya tersebut dua kali lebih cepat dari yang mampu bumi perbarui. Tanpa ada perubahan yang signifikan, bumi harus memperbarui sumber daya tersebut tiga kali lebih cepat pada tahun 2050 agar bisa memenuhi semua kebutuhan manusia.

Ledakan populasi dan pola konsumsi yang tak terkendali merupakan kombinasi permasalahan yang dihadapi manusia dalam usaha menjaga kelangsungan hidup. Sayangnya, sampai sekarang ini, manusia belum cukup bijak untuk belajar dari sejarah. Selain sumber daya yang terus terkuras, mereka juga harus menderita di beberapa aspek seperti kemiskinan, perubahan iklim, dan berkurangnya keragaman makhluk hidup karena ulah tangan mereka sendiri.

Peningkatan jumlah populasi dan perubahan iklim berkaitan sangat erat. Setiap penambahan anggota populasi akan meningkatkan emisi karbon yang nantinya akan menambah korban perubahan iklim. Ironisnya, penambahan emisi korban lebih banyak dilakukan oleh orang kaya, tapi korban dari perubahan iklim justru berasal paling banyak dari orang-orang miskin (Population Matters). Di banyak tempat, seperti di Australia dan Kenya, dampak dari perubahan iklim ini telah dirasakan.

Tidak terkendalinya populasi manusia juga berdampak pada kemiskinan. Meskipun jutaan orang menikmati gaya hidup mewah di seluruh dunia, 10 dari populasi manusia masih hidup dalam jurang kemiskinan (Population Matters). Meskipun kemiskinan bukan dampak langsung dari peningkatan populasi, tapi orang-orang miskin inilah yang paling terdampak dari perebutan sumber daya yang disebabkan oleh pertambahan populasi yang tak terkendali. Lagi pula, permasalahan lapangan kerja akan lebih sulit diatasi di negara dengan jumlah kepadatan populasi yang tinggi.

Keragaman hayati juga termasuk isu yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan. Menurut Living Planet Report, sejak 1970, populasi hewan vertebrata bekurang drastis sebanyak 68%. Lebih dari setengah burung, mamalia, reptil, amfibi, dan ikan punah hanya dalam 50 tahun. Selama periode tersebut, populasi manusia justru meningkat dua kali lebih banyak dari 3,7 miliar menjadi lebih dari 7,8 miliar.

Keinginan untuk Memiliki Sebanyak-Banyaknya

Setidaknya, ada dua alasan mengapa reproduksi tak terkendali tersebut menguras energi dan menghabiskan umur manusia. Pertama, mereka ingin hidup selamanya. Karena itu, manusia tidak pernah puas dengan persediaan bertahan hidup selama 10 tahun, 100 tahun, atau bahkan 1.000 tahun, Mereka menginginkan kehidupan yang tidak ada akhirnya, sehingga persediaan mereka tidak pernah terasa cukup. Karena itulah mereka menjadi serakah dan ingin memiliki sebanyak-banyaknya.

Kedua, setelah melakukan reproduksi dan memiliki banyak persediaan untuk menjaga kelangsungan hidup, manusia seringkali tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan. Oleh karena itu, mereka kembali mengisi hidup mereka dengan menumpuk banyak persediaan. Akibatnya, mereka tidak punya waktu untuk memelajari hal-hal penting dalam hidup mereka atau berbagi dengan yang lain. Manusia mengira bisa menjaga eksistensi mereka dengan memiliki sebanyak-banyaknya. Padahal, hal yang seharusnya mereka lakukan adalah menjadi sebanyak-banyaknya (Fromm, 1956). Caranya adalah dengan berbagi kepada sesama, merawat alam, peduli kepada kemiskinan, atau hal-hal lainnya yang lebih mengutamakan kepentingan bersama kepentingan pribadi.

Akan tetapi, manusia cenderung mengulang kesalahan yang sama. Hasrat untuk memiliki dan mengkonsumsi sebanyak-banyaknya terus direproduksi di ruang-ruang publik. Sistem ekonomi kapitalisme jelas memperparah orientasi tersebut. Sebagaimana yang dinyatakan Juniper (2014), kontribusi kapitalisme perubahan iklim, berkurangnya keragaman, kerusakan lingkungan, dan melebarkan kesenjangan ekonomi tidak bisa lagi disangkal. Oleh karena itu, prinsip akumulasi modal sebanyak-banyaknya dan komoditisasi semua nilai guna dan nilai tanda tidak bisa dibiarkan terus menumbuh dalam peradaban manusia.

Population Matters telah menyarankan beberapa cara untuk mengontrol ledakan populasi dan pola konsumsi yang telah memicu berbagai persoalan lanjutan tersebut. Negara-negara dengan populasi yang tinggi, diminta menentukan secara akurat pertumbuhan populasi mereka di masa depan. Selain itu, mereka juga diharapkan merancang kebijakan terintegrasi yang juga mempertimbangkan permasalahan konsumsi yang tak terkendali.

Akan tetapi, semua rencananya tersebut sepertinya tidak akan efektif tanpa keinginan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan keserakahan manusia. Sebagaimana yang dikatakan Mahatma Gandhi, bumi bisa memenuhi kebutuhan semua umat manusia, tapi tidak untuk kerakusan satu orang. Karena kerakusan tersebut, manusia tidak hanya mengancam keberlangsungan hidup mereka sendiri tapi masa depan bumi yang mereka tinggali. Seandainya saja manusia tahu bahwa semua yang dibutuhkan dalam hidup hanyalah matahari, tanah, dan puisi, berbagai hal tersebut mungkin saja bisa dihindari.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya