Mencoba Menyelami Alam Pikiran Sang Martir

Mencoba Menyelami Alam Pikiran Sang Martir 05/04/2021 57 view Opini Mingguan mediaindonesia.com

Aksi terorisme memang tidak pernah memandang waktu. Maksudku, meski saat ini pandemi Covid-19 belum berakhir, tidak menyurutkan langkah para teroris untuk menunjukkan eksistensinya. Hari Minggu, 28 Maret lalu, sebuah bom menyalak di depan gerbang Gereja Katedral Makassar.

Sontak, seluruh perhatian langsung terarah ke peristiwa ini. Sejumlah stasiun televisi segera menyuguhkan program Breaking News. Seolah tidak mau ketinggalan untuk memberitakan bom yang meledak di tempat ibadah milik umat Nasrani tersebut.

Aku termangu, kala melihat berita di layar televisi. Dari rekaman CCTV, terlihat dua orang berboncengan menggunakan motor dan mendekati gerbang gereja di hari Minggu itu. Dan lantas, sudah bisa ditebak. Bom meledak dengan dahsyat, menimbulkan kilatan cahaya dan asap yang mengepul deras kemudian.

Peristiwa ledakan bom di Makassar ini, membuatku teringat dengan peristiwa yang hampir sama di Surabaya pada Mei 2018 lalu. Pada Minggu, 13 Mei 2018, tiga bom meledak di tiga lokasi gereja yang berbeda. Tak sampai di situ saja. Besoknya pada 14 Mei, sebuah bom juga diledakkan di gerbang Mapolresta Surabaya.

Fiuuhh… bagiku, peristiwa pengeboman di Surabaya pada 2018 dulu dengan yang barusan terjadi di Makassar, adalah mirip. Keduanya memiliki kesamaan, yakni sang pelaku yang menjadikan dirinya martir alias bom bunuh diri. Aku jadi bertanya-tanya. Apakah menjadi martir adalah jalan terbaik? Apakah meledakkan bom yang menempel pada tubuhnya adalah satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan yang mereka perjuangkan?

Peristiwa teror tak berhenti di Makassar saja. Pada Rabu, 31 Maret, aksi teror berpindah ke ibukota Jakarta. Dan lokasinya pun tak main-main. Seorang perempuan bernama Zakiah Aini, mengacungkan pistol di area Mabes Polri. Zakiah berakhir tragis. Ia ditembak karena mengancam dan membahayakan. Aku pribadi mendukung tindakan aparat yang langsung menindak tegas aksi Zakiah tersebut.

Aku kembali termangu. Terheran-heran. Belum usai polemik soal bom bunuh diri di Makassar, sudah ada aksi teror berikutnya yang hanya berjarak tiga. hari. Khusus terkait aksi Zakiah Aini, bagiku, aksi perempuan ini amatlah menarik. Tanpa takut, ia berjalan sendirian ke Mabes Polri.

Menurut aparat, aksi Zakiah bisa disebut sebagai lone wolf. ‘Serigala’ yang bergerak sendiri. Apa yang melatarbelakangi Zakiah hingga dirinya tampil gagah seorang diri? Mampu mengeliminasi rasa takut dan berani mendatangi ‘medan perang’ tanpa satupun rekan?

Menarik. Itu reaksi pertama yang terbersit di benakku kala membaca surat wasiat yang diduga ditulis oleh Zakiah Aini. Ya, selepas meregang nyawa di pelataran Mabes Polri Jakarta, aparat keamanan sontak bergerak cepat untuk mengupas peristiwa ini. Salah satunya adalah dengan memeriksa rumah orang tua Zakiah. Kemudian, ditemukan sebuah surat yang kemungkinan besar adalah ‘buah karya’ sang martir.

Ada hal yang ku anggap menarik dalam surat wasiat Zakiah. Mengapa perempuan ini bisa berpikir seperti itu? Adakah peristiwa atau pengalaman yang membuatnya begitu putus asa seperti yang tersirat dalam surat wasiatnya?

Isi surat Zakiah Aini amatlah gelap, dark. Betapa ia seakan tidak menyukai negara tempat dirinya lahir dan besar. Sebenarnya aku tidak heran. Barangkali wanita ini telah terpapar. Terpapar paham-paham radikal, yang tentu jelas bertentangan dengan idelogi yang dianut oleh Negara Indonesia.

Aku mencoba menyelami alam pikiran Zakiah Aini. Seorang wanita yang memilih menjadi martir di Mabes Polri akhir Maret lalu. Mungkin bisa kubandingkan dengan kesaksian Gilang Nabaris. Seorang eks simpatisan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang menjadi salah satu narasumber pada acara Mata Najwa yang tayang pada 31 Maret lalu.

Gilang Nabaris bercerita, bagaimana dirinya hingga bisa bergabung dengan JAD. Hal pertama yang memicunya adalah, apa yang bisa ia berikan sebagai seorang Muslim? Maksudnya, dengan sejumlah peristiwa yang menzalimi umat Muslim di segenap penjuru dunia, apa kontribusi yang bisa ia berikan untuk menanggulangi segala peristiwa ketidakadilan tersebut.

Gilang pun mengikuti pengajian. Dan rupanya kegiatan ini mengarah ke JAD. Gilang pun segera tersadar dan tidak berakhir sebagai salah satu martir. Dari cerita Gilang Nabaris ini, aku memperoleh insight. Mungkin Zakiah Aini juga mengalami hal yang sama. Ada pergolakan di dalam dirinya yang berkaitan dengan identitasnya sebagai seorang penganut ajaran Islam.

Zakiah Aini barangkali ingin memberikan aksi nyata, untuk menunjukkan kecintaan dan keberpihakannya kepada segenap saudara umat Muslim yang sedang dilanda prahara. Tetapi yang disayangkan adalah ia mengambil jalan radikal. Ia lebih memilih menjadi lone wolf. Dan berkeyakinan bahwa ditembak polisi adalah jalan instan untuk masuk ‘surga’. 

Perkara sense of belonging sebagai seorang Muslim, bukan saja ini yang menjadi alasan seseorang berlaku radikal dan rela menjadi martir organisasi teroris. Keadaan sosial kemasyarakatan yang dialami sehari-hari, barangkali juga dapat menjadi penyebab seseorang itu bertindak memberontak dan berpaham radikal.

Adanya ketidakadilan yang dirasakan. Pernah mengalami diskriminasi. Kurang adanya penerimaan di lingkungan terdekat, mungkin bisa menjadi penyebab utama seseorang bisa berlaku memberontak.

Akhirnya sebagai bentuk kompromi, ia mencari jalan lain untuk menunjukkan eksistensinya. Ia mencari kegiatan lain untuk membuat dirinya bangkit dan merasa dihargai. Dan kegiatan terorisme, menjadi pilihan yang tepat baginya. Sayang seribu sayang, pilihan tersebut amatlah ekstrem.

Duhai para martir, masih ada waktu untuk ‘berhenti’. Carilah jalan lain yang humanis. Ingatlah, nyawa seorang manusia itu mahal harganya. Jangan kau anggap receh!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya