Mencari Puncak Pengalaman Spiritual di Bulan Ramadhan

Pembelajar
Mencari Puncak Pengalaman Spiritual di Bulan Ramadhan 25/04/2022 109 view Agama commons.wikimedia.org

Umat Islam di seluruh dunia saat ini sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Kewajiban tersebut sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183, “Hai orang yang beriman diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Menurut seorang penceramah, dalam ayat itu kalau mau dicermati dan direnungkan ternyata yang diwajibkan berpuasa hanya orang-orang yang beriman. Selain golongan tersebut tidak diwajibkan. Hal tersebut juga menyiratkan akan hal perbedaan antara “Islam”dan “Iman”. Menurut para mufassir, orang yang berislam belum tentu beriman, tapi kalau orang yang beriman sudah pasti berislam. Islam yang secara makna generik mempunyai arti kepasrahan, tunduk sepenuhnya kepada Allah, sedangkan iman adalah pengejawantahan Islam ke dalam hati yang paling dalam dan itu tercermin dalam amal perbuatan atau kalau menggunakan bahasa yang agak akademis, berislam itu dalam tataran filosofis sedangkan beriman dalam tataran aplikatif.

Dengan melakukan ibadah puasa selama satu bulan penuh selain mempunyai manfaat-manfaat fisik yang secara langsung dapat kita rasakan dalam tubuh kita, yakni terjadi pembakaran lemak-lemak yang tidak diperlukan. Tubuh seperti melakukan self-healing. Maka puasa adalah sebuah aktivitas yang me-reset body agar tubuh kembali ke titik kebugarannya. Selain manfaat fisik (kesehatan) juga manfaatnya yang bersifat spiritual. Puncak pencapaian ibadah puasa adalah takwa. Takwa adalah keadaan batiniah seorang muslim yang begitu dekatnya dengan Sang Pencipta sehingga begitu terasa kelezatan iman. Alhasil hati kita menjadi tentram, merasa qana’ah, dan selalu berusaha mengharap keridhoan-Nya.

Takwa tidak bisa langsung didapat, ia adalah hasil dari pendakian-pendakian spiritual dalam waktu yang tidak sebentar. Takwa membutuhkan ongkos yang selalu menawarkan manusia pada dua pilihan: baik dan buruk. Takwa adalah level tertinggi keimanan seorang muslim. Maka inilah momen yang sangat tepat untuk mencapai ketakwaan tersebut dengan memaksimalkan ibadah puasa kita dan juga ibadah-ibadah lain yang dianjurkan.

Allah juga menyeru kita untuk lebih giat beribadah di bulan Ramadhan, kita diiming-imingi pahala kebaikan yang akan dilipatgandakan. Jika membaca satu huruf dalam Al-Qur’an pahalanya menjadi sepuluh kebaikan. Belum lagi untuk jenis-jenis ibadah yang lain. Apalagi tawaran mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar (malam seribu bulan) pada sepuluh malam terakhir. Sungguh benar-benar merugi orang yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan ini. Di tengah kesibukan masyarakat modern yang waktunya sudah banyak tersita untuk pekerjaan dan keluarga, meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an adalah sesuatu yang tidak mudah. Tapi karena ketidakmudahannya itu-- menjadi semakin menantang untuk dapat menjalankannya.

Agama adalah cahaya yang mengeluarkan manusia dari kegelapan (minad dhulumati ilan nur). Oleh sebab itu orang yang berada dalam kegelapan hidupnya berada dalam kekacauan. Tidak tahu arah dan tujuan. Bisa dibayangkan betapa sangat tidak mengenakkan. Orang yang dalam kegelapan pasti tidak tahu kanan-kiri, ia akan menabrak sana-sini. Dalam agama Islam sebagai petunjuk bagi manusia, maka diturunkanlah Alquran. Alquran sebagai sumber segala sumber hukum dalam Islam. Pembeda antara yang baik dan benar, penjelasan mengenai perintah dan larangan, sebagai kabar berita tentang orang-orang terdahulu dan juga ilmu tentang kehidupan setelah kematian (eskatologis). Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Bukan hanya menjelaskan tentang kaidah keagamaan saja, ditinjau dalam kaidah kepenulisannya-- Alquran juga memiliki unsur sastra yang tinggi. Hal ini dibuktikan pada beberapa ayat dalam Alquran yang memiliki akhiran bunyi yang sama seperti misalnya pada surat Al-A’diyat (QS 100: 1-5).

Tercatat ada empat kitab suci yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Taurat diturunkan untuk umat Nabi Musa, Zabur diturunkan untuk umat Nabi Daud, Injil diturunkan untuk umat Nabi Isa, dan Alquran yang diturunkan untuk umat Nabi Muhammad. Kalau mau diteliti maka Al-Qur’an sebagai kitab suci (ultimate) yang selain membenarkan juga mengoreksi kitab-kitab suci sebelumnya. Namun begitu kita tetap harus menghormati kitab suci yang lainnya sebagai pengamalan rukun iman yang ketiga. Malah diperlukan sebuah sikap untuk mau mengkaji keempat kitab suci tersebut sehingga kita tahu persamaan dan perbedaannya.

Orang yang pikirannya aktif bisa membunuh waktu berjam-jam dengan banyak kegiatan. Dan inilah bulan yang bisa mengakomdasi kegiatan-kegiatan itu, lebih-lebih untuk kegiatan keagamaan. Bulan Ramadhan adalah bulan Pendidikan kerohanian. Karena begitu banyaknya anjuran ibadah yang perlu dilaksanakan selain puasa, seperti: sholat tarawih, tadarus Alquran, anjuran memperbanyak zikir, bersedekah, dan zakat (di ujung bulan).

Selain tradisi ritual peribadatan, di akhir-akhir Ramadhan ada peristiwa kultural, di mana orang-orang berduyun-duyun mudik ke kampung halaman. Ini adalah sebuah naluri alamiah yang menginginkan kembali ke asal. Mencari asal muasal kehidupannya. Untuk mencapai titik awal kita perlu melakukan gerakan melingkar. Bukan hanya manusia, alam pun punya mekanisme siklikas seperti ini. Contohnya: bulan yang berputar mengelilingi bumi, bumi yang berputar mengelilingi matahari, dan matahari yang berputar mengelilingi galaksi bimasakti. Maka orang yang mudik ke kampung halaman bertujuan mencari sangkan paraning hidupnya. Ia ingin melihat sejarah kehidupannya, dengan kata lain melihat masa lalunya.

Setiap menjelang Ramadhan berakhir selalu menyisakan keharuan yang mendalam karena bulan yang penuh keberkahan ini akan segera meninggalkan kita. Meskipun itu terkadang hanya perasaan sentimental yang bersifat kultural saja. Dengan berakhirnya bulan Ramadhan maka kegiatan-kegiatan seperti sahur dan buka bersama pun tidak ada lagi. Tapi rasa Ramadhan, etos ibadah selama Ramadhan harus tetap kita bawa menjalani kesebelas bulan yang lainnya. Dengan begitu maka kita telah sedikit demi sedikit beranjak ke tingkat ketakwaan yang lebih tinggi. Bukan hanya pada level kultural tapi juga spiritual.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan ada empat macam jenis air yang masing-masing melambangkan syariat dalam rukun Islam: sholat yang dilambangkan dengan air tawar, puasa yang dilambangkan dengan arak, zakat yang dilambangkan dengan susu, dan haji yang dilambangkan dengan madu. Dari keempat air tersebut yang paling “berbahaya” adalah arak, tapi justru itu yang menjadi perlambang ibadah puasa, dari hal tersebut kita diajarkan untuk menahan diri, mengekang nafsu dari keinginan menikmati rupa-ragam dunia karena pada dasarnya semua itu kalau melebihi batas wajar, adalah beracun. Dan diterangkan pula bahwa hanya ibadah puasalah yang langsung dinilai oleh Allah. Artinya hanya Allah saja yang tahu seseorang puasanya berhasil atau gagal. Mungkin kita merasa telah berpuasa tapi ternyata banyak sekali lubang-lubang kekurangannya.

Janganlah kita berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja tanpa mendapatkan substansi darinya. Orang yang berpuasa tapi tidak bisa menjaga panca inderanya dari melakukan hal-hal yang berdosa maka baginya tidak ada alasan untuk membatalkan puasanya. Pada saatnya nanti kita akan menyadari bahwa puasa bukan hanya terbatas di bulan Ramadhan saja tapi sepanjang bulan dalam kehidupan kita. Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa dengan puasa yang benar kita berharap menjadi orang yang bertakwa. Puasa menjadi kebutuhan bagi kita sebagai cara atau metode untuk tidak ikut hancur dari arus perusakan global yang merajalela.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya