Refleksi 'Laudate Deum': Mengupas Penolakan KWI atas Kebijakan Tambang Jokowi

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Refleksi 'Laudate Deum': Mengupas Penolakan KWI atas Kebijakan Tambang Jokowi 08/06/2024 55 view Pendidikan cnnindonesia.com

Seruan apostolik Paus Fransiskus, "Laudate Deum," telah membawa dampak signifikan terhadap berbagai diskursus lingkungan dan kebijakan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dalam dokumen tersebut, Paus Fransiskus menyoroti krisis ekologis yang dihadapi planet ini dan menyerukan tindakan nyata untuk melindungi lingkungan. Tidak mengherankan jika Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengambil sikap tegas yang mencerminkan pesan ini dalam menanggapi kebijakan tambang yang dikeluarkan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Laudate Deum, yang berarti "Puji Tuhan," adalah sebuah ajakan spiritual dan moral untuk menyadari kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Paus Fransiskus menekankan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga dan dirawat. Dalam seruannya, ia menekankan pentingnya keseimbangan ekologi, keadilan sosial, dan keberlanjutan, serta mengkritik eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Dalam artikel 24 dari dokumen Laudate Deum Paus Fransiskus menyebutkan bahwa “Tidak setiap peningkatan kekuasaan merupakan kemajuan bagi umat manusia”. Penggunaan kekuasaan semestinya dipikirkan kembali demi keberlajutan serta kelestarian masyarakat adat dalam menjaga alam dan budaya mereka.

Di Indonesia, salah satu isu lingkungan yang mencuat adalah pemberian izin tambang oleh pemerintah. Presiden Jokowi, dalam upayanya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, telah memberikan sejumlah izin tambang di berbagai daerah. Kebijakan ini menuai kontroversi karena dianggap merugikan lingkungan dan masyarakat setempat, terutama di wilayah yang kaya akan sumber daya alam namun rentan terhadap kerusakan ekosistem.

KWI, sebagai representasi gereja Katolik di Indonesia, menyuarakan penolakan terhadap kebijakan tambang tersebut. Penolakan ini bukanlah tanpa alasan. KWI menganggap bahwa pemberian izin tambang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang juga diusung dalam Laudate Deum terutama tentang ekologi dan kepada semua orang yang berkehendak baik terhadap kerusakan iklim. KWI menyoroti dampak negatif tambang terhadap lingkungan, termasuk deforestasi, pencemaran air, dan hilangnya keanekaragaman hayati, yang semuanya mengancam keberlanjutan ekologi dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Dalam Laudate Deum menegaskan bahwa kesejahteraan ekonomi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan lingkungan, sebaliknya mengubah gaya hidup konsumerisme menjadi lebih ekologis. Apa yang tertulis dalam Laudate Deum juga banyak diserukan oleh aneka ormas lainnya yang mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan ulang kebijakan tambang dan mencari alternatif yang lebih berkelanjutan. KWI juga mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan dan terlibat aktif dalam upaya pelestarian alam.

Sekretaris Komisi Keadilan dan Perdamaian, Migrant, dan Perantau serta Keutuhan Ciptaan KWI, Marthen Jenarut, menegaskan bahwa gereja Katolik selalu mendorong tata kelola pembangunan yang sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. "Pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan kehidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, KWI tampaknya tidak tertarik menerima tawaran tersebut," kata Marthen dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (5/6). Sebelumnya, Presiden Jokowi telah mengizinkan organisasi masyarakat keagamaan untuk mengelola tambang, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2024. Kendati izin diberikan langsung oleh presiden, sikap kritis untuk menolak demi menjaga lingkungan dan kelestarian alam tetap diserukan.

Refleksi atas Laudate Deum dan penolakan KWI terhadap kebijakan tambang Jokowi menggambarkan ketegangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Ini adalah dilema yang dihadapi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan perekonomian dan mengurangi kemiskinan. Di sisi lain, ada tanggung jawab moral dan etis untuk menjaga lingkungan demi generasi mendatang.

Namun, seruan Laudate Deum mengingatkan kita bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan prinsip-prinsip keberlanjutan. Paus Fransiskus menekankan pentingnya solidaritas global dan tanggung jawab kolektif dalam menghadapi krisis lingkungan. Dalam konteks ini, KWI bertindak sebagai suara moral yang mengingatkan pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.

Langkah KWI untuk menolak izin tambang juga mencerminkan upaya gereja untuk mengimplementasikan ajaran sosial gereja dalam konteks lokal. Ini adalah contoh konkret bagaimana nilai-nilai spiritual dan moral dapat diterapkan dalam kebijakan publik. KWI berharap bahwa dengan menolak kebijakan tambang yang merusak lingkungan, mereka dapat mendorong dialog dan tindakan yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.

Dalam menghadapi tantangan ini, kerjasama antara pemerintah, masyarakat sipil, dan berbagai organisasi keagamaan menjadi kunci. Semua pihak harus bersatu untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan. Pemerintah perlu mendengarkan suara-suara yang peduli terhadap lingkungan dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap kebijakan yang diambil. Sementara itu, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam upaya pelestarian alam.

Pada akhirnya, refleksi atas Laudate Deum dan penolakan KWI terhadap kebijakan tambang Jokowi menegaskan bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Ini adalah panggilan untuk bertindak dengan bijaksana dan berkelanjutan, mengingat bahwa setiap keputusan yang kita ambil hari ini akan mempengaruhi masa depan bumi dan generasi mendatang. Paus Fransiskus dan KWI mengingatkan kita bahwa menjaga alam bukan hanya tugas, tetapi juga panggilan moral untuk memuji dan menghormati Pencipta kita melalui tindakan nyata yang melindungi dan merawat rumah bersama kita, bumi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya