Kehidupan Pedagang dan Makelar Emas di Pasar Blauran Surabaya

Tamatan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga
Kehidupan Pedagang dan Makelar Emas di Pasar Blauran Surabaya 25/09/2022 93 view Ekonomi unsplash.com

Jual beli emas yang dikenal oleh masyarakat kini, berawal ketika peradaban pertama tepatnya saat Kerajaan Lydia berdiri di sebelah barat Turki. Merujuk kepada artikel dari IDX Channel fungsi emas tidak terbatas pada alat tukar ataupun alat transaksi. Namun juga sebagai patokan untuk memutuskan nilai tukar terhadap mata uang negara lain ketika prosesnya tidak melalui bank.

Pentingnya peran logam mulia emas dalam perkembangannya dimaknai sebagai peluang bisnis contohnya di Surabaya. Peluang bisnis tersebut akhirnya diwujudkan dalam bentuk berdirinya toko emas. Pasar Blauran merupakan salah satu sentra perdagangan emas yang telah dikenal lama di Surabaya. Merujuk wawancara pakar sejarah Nanang Purwono berdasar buku Soerabaia in The Olden Days yang dimuat dalam laman Radar Surabaya, nama Blauran dapat diterjemahkan menjadi dua pengertian. Pertama, nama Blauran terilhami dari nama gunung. Selanjutnya Blauran juga dapat berarti blau yang berarti biru dalam bahasa Belanda.

Selain dikenal sebagai pasar kuliner Blauran juga identik dengan jual beli emas. Para pedagang emas menjamur mulai dari pinggiran pertokoan sampai ke dalam area pasar. Selain menjual emas mereka juga siap untuk membeli emas yang dijual oleh pengunjung dengan atau tanpa sertifikat. Jika dilihat sekilas mata perputaran uang yang ada dalam transaksi memang menggiurkan dan tidak main-main jumlahnya.

Namun dibalik glamornya transaksi tersebut para pedagang emas di Blauran tak dapat terlepas dari peran serta makelar. Mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia makelar berarti pedagang perantara yang bertugas untuk menjual barang milik orang lain. Selain itu makelar juga berperan untuk mencarikan barang dan pembeli dengan harapan untuk memperoleh upah sebagai imbalan jasa.

Pedagang emas dan makelar dalam menjalankan tugasnya haruslah sangat berhati-hati utamanya dalam perhitungan harga. Kerugian modal dan tak sesuainya hasil imbal jasa adalah ancaman nyata yang membayangi pedagang emas dan makelar. Banyaknya jumlah rupiah dalam setiap transaksi hanyalah sebagian kesenangan yang menutup erat nestapa. Perihal penting yang harus diperhatikan oleh pembaca, pada setiap transaksi baik oleh pedagang ataupun makelar adalah selisih harga yang dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk mendapat laba. Hasil yang terkumpul juga harus dipotong lagi untuk keperluan operasional.

Permasalahan tidak berhenti sampai di situ, kemunculan makelar dalam suatu transaksi juga dapat menjadi pertanda sukarnya masyarakat dalam memperoleh pekerjaan yang layak baik dari segi jam kerja ataupun upah. Hal tersebut dapat kita telaah melalui jurnal berjudul Fenomena Praktek Makelar Emas di Pasar Kapasan yang ditulis oleh Dara Manista Harwika sebagai berikut “Melihat dari aspek makelar dan pedagang, merebaknya makelar merupakan imbas dari susahnya mencari pekerjaan di kota Surabaya”(Harwika,Dara Manista,2021:51-52).

Pendapat tersebut berbanding terbalik dengan data yang dipaparkan oleh Badan Pusat Statistik Kota Surabaya. Data tersebut menjelaskan bahwa presentase penduduk miskin dari tahun 2012-2019 mengalami penurunan walaupaun tidak drastis. Data tinggalah sekumpulan angka dikertas dan seakan jauh dari realitas yang ada. Tahun 2020 datang dan pandemi merubah segalanya, setiap dari pedagang ataupun makelar di Pasar Blauran harus berjuang menyambung hidup. Dua tahun setelahnya hasil dari kegigihan tersebut terbayar dan pasar Blauran mulai ramai kembali dikunjungi.

Baru sebentar mengecap kebahagiaan kini pedagang dan makelar emas haruslah tirakat kembali. Hal itu karena pemerintah Wakanda memutuskan untuk menaikkan harga bensin dengan alasan mengamankan kas negara. Seharusnya para pejabat-pejabat tersebut tidak duduk di ruang dingin ber-ac bersama raja-raja kecil dan tikus negara dalam merumuskan kebijakan negara. Baiknya ketika memutuskan suatu kebijakan para pejabat harusnya berkumpul bersama barisan pengangguran, masyarakat kelas menengah ke bawah, atau guru-guru honorer bergaji kecil.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya