Konstruksi Budaya: Relasi Perempuan dan Alam

Mahasiswa Magister Administrasi Publik Universitas Diponegoro
Konstruksi Budaya: Relasi Perempuan dan Alam 14/04/2021 172 view Budaya magdalene.com

Perdebatan antara antroposentrisme dan ekosentrisme terkesan dikotomis. Hal ini menjadi tampak berbeda ketika dipusatkan pada diri perempuan. Ini yang membuat ekofeminisme menjadi menarik. Perempuan dipandang memiliki keterkaitan dengan alam. Sebagaimana prinsip dari ekofeminisme yang mengklaim bahwa adanya keterkaitan antara penindasa terhadap perempuan dan penindasan terhadap alam, sehingga pemahaman tentang eksploitasi terhadap alam dipahami melalui realitas penindasan atas perempuan.

Merujuk Putnam Tong (2009), ekofeminisme tetap memiliki perbedaan dengan ekologi yang mana lebih menekankan pada laki-laki sebagai ‘musuh’ utama perempuan dan alam. Sebab androsentrisme memusatkan pengaturan dunia hanya pada laki-laki. Disisi lain, ekofeminisme juga mengkritik ekologi, terutama ekologi-dalam. Karena sebagai bagian dari etika ekologi, ekologi-dalam tidak memiliki epistemologis yang memadai untuk menarasikan hubungan konfrontasi antara manusia dan alam.

Ekofeminisme menjadi aliran baru di dalam etika ekologi yang tampak seperti mengalternatifkan perempuan dalam menguraikan masalah ekologi. Perempuan menjadi ‘alternatif’. Hal ini terlihat ketika ekofeminisme tidak sepakat memberikan penjelasan tentang hubungan perempuan dan alam. Apakah bersifat biologis, psikologis, sosial, atau kah kultural. Terutama perihal pengakuan adanya perempuan yang memiliki relasi dengan alam. Apakah esensinya harus dihilangkan atau justru dipadanankan kembali.

Oleh karena itu, di dalam ekofeminisme terdapat pusaran argumen yang berupaya menemukan posisi perempuan dalam berelasi dengan alam. Putnam Tong (2009) membagi menjadi tiga kelompok, yaitu memisahkan hubungan antara perempuan dan alam, menegaskan kembali hubungan perempuan dan alam, serta argumen yang ketiga, menekankan penghilangan hubungan alam dan perempuan.

Pendapat lain ada yang mengatakan bahwa posisi dalam ekofeminisme terbagi menjadi dua. Pertama, spiritualitas feminis yang mengklaim hubungan dan kemampuan perempuan untuk merawat alam. Posisi kedua, menolak hubungan "khusus" perempuan dengan alam dan berupaya melindungi alam melalui upaya mendekonstruksi dualisme alam dan budaya sebagai dikotomi yang salah (Longenecker, 1997). Artikel ini berfokus pada literatur yang menguraikan pemisahan perempuan dengan alam.

Pandangan pertama dalam pembagian Putnam Tong (2009) yang intinya menolak perempuan memiliki keterkaitan dengan alam berdasarkan nilai-nilai tradisional karena konsekuensi dari pemikiran tersebut mengartikan relasi perempuan dan alam bernilai rendah. Peran-peran perempuan seperti merawat dan mengasuh semata-mata adalah hasil konstruksi kebudayaan yang menempatkan perempuan, tidak seperti laki-laki yang berada pada superioritas, pada status sekunder dalam masyarakat.

Laki-laki layaknya kebudayaan lebih superior daripada alam yang memberikan makna terhadap sistem. Hal ini termasuk mengatur hubungan manusia dan alam, serta mengontrol dan menguasai alam. Melalui konteks budaya, dapat dipahami secara simbolis atas perempuan yang diidentifikasikan dengan alam dan laki-laki diasosiasikan dengan budaya (Moore, 2004).

Kontekstualisasi hubungan perempuan dan alam dilakukan melalui pendekatan budaya. Ortner (1996) juga mengarahkan pada universalitas budaya, bahwa hampir semua budaya melakukan subordinasi terhadap perempuan. Dikatakan bahwa budaya bertanggung jawab untuk mengkonstruksi perempuan untuk dekat dengan alam sebagaimana budaya mengkonstruksi kategori gender perempuan dan laki-laki.

Peran perempuan dalam masyarakat lebih dekat kepada alam karena perempuan dilekatkan pada kegiatan-kegiatan reproduksi. Terutama mengasosiasikan perempuan pada domain domestik (rumah tangga). Sama halnya, dengan analisis ruang lingkup perempuan dalam ranah politik yang membatasi perempuan untuk berada di ranah publik.

Ortner (1996) mengkategorikan universalitas subordinasi terhadap perempuan yang diperoleh terkait dengan elemen ideologi budaya yang secara eksplisit memberikan peran dan tugas perempuan yang kurang prestise dibandingkan dengan yang diberikan kepada laki-laki. Lalu, perangkat simbolik, yang diartikan secara implisit membuat penilaian terhadap perempuan lebih rendah, dan pengaturan struktural sosial yang mengecualikan perempuan dari partisipasi masyarakat.

Tercermin pada konsepsi mengenai ibu (mother) dan pengibuan (mothering) yang dianggap menjadi suatu pewarisan alami dalam keluarga. Hal ini turut serta membangun fungsi universal perempuan untuk tetap berada di wilayah domestik. Dengan begitu, menurut Ortner (1996) kebudayaan memiliki kepentingan untuk membatasi perempuan atas pendidikan, pekerjaan, dan persoalan seksual.

Ekofeminis lainnya menyikapi keterkaitan perempuan dan alam secara lebih kritis. Keterhubungan antara perempuan dan alam berdasarkan nilai-nilai tradisional memberikan afirmasi terbatas dan berefek pada penegasan kekuatan maskulin yang mengidentifikasi laki-laki sebagai subjek yang dominan, liar, dan kuat, sedangkan perempuan bersifat ‘jinak’, domestik, dan lembut. Plumwood (1993) menegaskan bahwa hubungan antara perempuan dan alam yang bersifat inferiorisasi resiprokal tidak berasal dari masa lalu, melainkan terus-menerus terjadi. Misalnya, terkait dengan penolakan aktivitas perempuan dari lingkup reproduksi.

Penolakan relasi perempuan dan alam, dikatakan Plumwood (1993) sebagai ‘latar belakang’ (backgrounding). Latar belakang atau penolakan perempuan dan alam telah tertanam dalam rasionalitas sistem ekonomi dan struktur masyarakat kontemporer. Apa yang terdapat dalam ‘latar belakang’ alam adalah penolakan ketergantungan pada biosfer dan pandangan tentang manusia sebagai bagian yang terpisah (di luar alam). Budaya Barat secara dominan dan sistematis merendahkan, ‘melatarbelakangi’, dan menyangkal ketergantungan pada seluruh bidang reproduksi dan subsistensi.

Penolakan ketergantungan ini merupakan faktor utama dalam melanggengkan mode penggunaan alam yang tidak berkelanjutan yang menjadi ancaman bagi masa depan masyarakat. ‘Latar belakang’ dan instrumentalisasi alam dan perempuan berjalan beriringan. Bagi perempuan, ‘latar belakang’ dan status instrumental mereka sebagai alam biasanya tidak perlu eksplisit, karena itu membentuk peran dikotomis perempuan di ranah publik dan privat. Perempuan secara ‘latar belakang’ dapat berperan sebagai ibu rumah tangga, perawat atau sekretaris, dan rekan kerja.

Dalam peran tradisional, kerja perempuan secara sistematis dihilangkan dari perhitungan dalam sistem ekonomi dan tidak diperhitungkan dalam sejarah dan kebudayaan. Secara tradisional, perempuan adalah 'lingkungan'. Dalam hal ini, perempuan yang menyediakan lingkungan dan kondisi yang menjadi tempat 'pencapaian' laki-laki, tetapi apa yang perempuan lakukan tidak dengan sendirinya dianggap sebagai prestasi. Perempuan rentan terhadap penolakan bahkan ketika melangkah keluar dari peran tradisional.

Plumwood (1993) juga mencontohkan ‘latar belakang’ yang tampak jelas ketika perempuan berperan sebagai ibu. Keterampilan fisik, pribadi, yang diajarkan kepada sang anak merupakan ‘latar belakang’ pembelajaran yang didefinisikan sebagai bagian dari ranah akal budi dan pengetahuan pria.

Diri ibu sendiri adalah ‘latar belakang’ yang didefinisikan terkait dengan anak atau ayahnya seperti halnya alam didefinisikan dalam kaitannya dengan manusia sebagai 'lingkungan'. Realitas identitas manusia di budaya Barat didefinisikan sebagai oposisi dan penyangkalan terhadap alam. Demikian pula produk ibu. Menurut Plumwood (1993) secara paradigmatik anak laki-laki mendefinisikan identitas maskulinnya dengan menentang keberadaan ibu, terutama terhadap pola pengasuhan ibu, menggantikan dominasi menjadi status instrumental. Sang anak tadi menolak pengakuan akan ketergantungan. Namun, secara konseptual mengatur dunia dalam bentuk ruang aktivitas bebas laki-laki (manusia) yang melawan latar belakang kebutuhan perempuan (alami).


 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya