Jika Tuhan itu Kasih, Mengapa Tuhan Ciptakan Neraka?

Anak Rumahan
Jika Tuhan itu Kasih, Mengapa Tuhan Ciptakan Neraka? 13/08/2021 72 view Agama pikist.com

Waktu zaman saya SMA atau kuliah, materi ghazwul fikri atau perang pemikiran sering kali dibawakan pada acara-acara pengajian atau pesantren kilat. Dulu, saya tidak terlalu tertarik dengan materi ini. Saya pikir materi ini terlalu berat dan membosankan bagi saya di kala itu.

Siapa sangka, seiring dengan berjalannya waktu, narasi-narasi ghazwul fikri semakin kencang berhembus. Kalimat-kalimat yang seolah masuk akal tetapi sangat jauh dari kebenaran semakin sering kita dengar. Sayangnya, ini adalah salah satu strategi untuk menjadikan umat Islam semakin jauh dari agamanya atau sebagai upaya pendangkalan akidah.

Beberapa hari yang lalu saya menonton Youtube di mana Habib Husein Ja’far berbincang-bincang dengan Cinta Laura seputar agama. Ada banyak poin yang dibahas salah satunya adalah pertanyaan “Jika Tuhan itu Maha Cinta, mengapa Tuhan menciptakan neraka?”.

Beberapa hari setelahnya, masih dari Youtube, saya menonton pengakuan seorang aktor yang murtad. Dalam pengakuannya tersebut, Sang Aktor mempertanyakan hal yang mirip. Mengapa Tuhan memasukkan seseorang ke neraka hanya karena orang tersebut bukan penganut agama tertentu. Bukankah Tuhan itu kasih? Jika Tuhan itu kasih mengapa Tuhan melihat sesorang hanya dari agamanya?

Sebagai seseorang yang tertarik dengan perbandingan agama, saya terpantik untuk menjawab hal ini. Sesungguhnya bila Sang Aktor ini adalah orang yang adil, maka dia akan mepertanyakan hal yang sama di agamanya yang sekarang. Faktanya, beberapa agama punya aturan yang sama dalam hal ini termasuk agama yang dia pilih saat ini.

Bila umat Islam percaya jika orang yang berada di luar Islam tidak masuk surga, maka sama dengan agama yang dianutnya sekarang. Menurut agamanya, umat Muslim dan umat lainnya adalah domba tersesat yang juga bila mati akan masuk neraka. Dalam pandangan mereka, kami adalah orang yang tidak percaya.

Di dalam Islam, apakah semua Muslim masuk surga? Faktanya tidak semua Muslim masuk surga secara otomatis. Ada proses panjang sebelum seseorang dinyatakan masuk surga atau neraka. Sebagian langsung masuk surga, namun ada pula yang harus mampir dahulu di neraka, kemudian baru masuk surga.

Kalau kata Habib Husein Jafar dalam perbincangannya bersama Cinta Laura, neraka itu seperti obat yang menyembuhkan. Ketika seseorang sakit, dia tidak bisa merasakan kenikmatan apapun, seperti makan, tidur dan lain-lain. Agar bisa kembali merasakan kenikmatan, maka dia perlu diobati dulu. Dan tempatnya ada di neraka. Jadi Allah menciptakan neraka atas dasar cinta agar manusia yang sakit bisa kembali merasakan kenikmatan di surga.

Saya setuju dengan hal ini. Namun, selain menjadi tempat penyembuhan atau penyucian, neraka juga merupakan tempat hukuman. Bagi siapa? Bagi makhluknya yang melampaui batas, salah satunya adalah Iblis. Saya rasa semua agama akan sepakat jika tempat Iblis adalah di neraka.

Lalu apakah semua orang yang bukan beragama Islam akan pasti dan otomatis masuk neraka? Jawabannya adalah belum tentu. Allah SWT berfirman “…. Dan Kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang Rosul” (QS 17:15).

Sederhananya, ada orang-orang yang tidak memeluk Islam bukan karena mereka menolak kebanaran Islam, tapi karena risalah yang belum sampai kepada mereka. Contohnya adalah orang-orang yang lahir di antara masa Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW atau orang-orang yang tinggal di pedalaman Amazon atau suku Sentinel di India.

Mereka terisolasi dari dunia luar, maka kemungkinan besar mereka juga belum pernah mendengar tentang Islam sama sekali. Jika mereka otomatis masuk neraka tanpa adanya proses peradilan, maka Allah telah dzolim pada hambanya. Padahal Allah sendiri telah mengharamkan diri-Nya sendiri dari berbuat dzolim.

Lalu apakah di dalam Islam, Allah tidak pengasih? Bila kita membuka Al-Qur’an maka ayat pertama yang akan kita baca adalah “Bismillahirohmanirohim” (dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Jadi jika Islam bukan agama kasih mengapa Allah menegaskan sifat pengasih-Nya berulang kali?

Di dalam Islam, seseorang masuk surga bukan karena baik atau jahat. Bukan juga karena banyaknya amal ibadah. Seseorang masuk surga karena rahmat dan kasih sayang Allah. Untuk menggapai rahmat Allah, maka diperlukan agama. Tanpa agama kita tidak akan mengetahui apa yang Allah perintahkan atau Allah larang. Sederhanya, agama adalah alat untuk menggapai rahmat Allah.

Bisakah kita hidup hanya dengan bermodal kasih tanpa adanya agama? Sayangnya kasih hanya bisa tercipta bila kita taat dan patuh pada perintah Tuhan. Karena kasih itu sendiri berasal dari Tuhan. Tentu semua orang bebas memilih agama untuk menuju kasih sayang Tuhan, tapi tidak semua agama benar dan diridhoi Tuhan.

Terlebih lagi, kasih tidak akan bisa terwujud tanpa adanya keadilan. Sebagai contoh, seorang ibu memiliki dua anak, si kakak dan adik. Ibu baru saja membelikan kakak dan adik mainan baru. Lalu adik merusak mainan kakaknya. Ibu kemudian membela adiknya karena lebih kecil padahal di sini adik yang salah. Bagi adik, mungkin ibunya pengasih, tapi bagi kakak? Mungkin dia merasa ibunya tidak adil dan jahat.

Contoh lain, di dalam hukum Islam, hukuman bagi seseorang yang membunuh adalah dibunuh juga. Ini adil. Tetapi pada prakteknya apakah si pembuhuh pasti mati dibunuh juga? Tentu saja tidak. Harus ada proses peradilan dulu, tidak bisa lakukan semena-mena.

Bila sudah terbukti barulah terdakwa dihukum eksekusi mati. Tetapi, tetap ada opsi lain bagi keluarga korban. Keluarga korban boleh memilih terdakwa untuk dibunuh, disuruh membayar denda kepada keluarga korban, atau dimaafkan tanpa ada hukuman sama sekali.

Di sinilah letak kasih dalam Islam. Kasih dalam Islam tidak menabrak prinsip-prinsip keadilan. Keadilan harus ditegakkan lebih dahulu. Begitu juga dengan vonis surga atau neraka. Sebelum memasukkan seseorang ke dalam surga atau neraka, Allah akan adili dulu.

Apakah pantas jika seseorang yang baik dimasukkan ke neraka hanya karena tidak beriman? Kan dia sudah menjalani hidupnya dengan baik. Seharusnya cukuplah memasukkannya ke surga sebagai balasan dari kebaikkannya semasa hidup.

Sayangnya indikator baik dan buruk ini sangatlah relatif. Saya bisa bilang seseorang baik tapi mungkin bagi orang lain dia orang yang buruk. Sesederhana seperti para nabi dan rosul. Bagi orang beriman mereka adalah orang baik. Namun bagi orang kafir, mereka adalah orang jahat yang sudah merusak ajaran nenek monyang mereka.

Bila ukuran seseorang itu baik atau tidak di mata manusia itu relatif, maka yang mengetahui kebenaran mutlak tentang baik buruknya seseorang hanyalah Allah. Kita tidak bisa mendahului Allah dalam menentukan seseorang itu layak masuk surga atau tidak.

Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan jika syirik itu adalah kedzoliman yang paling besar (QS 31:13). Jika seseorang yang mengambil hak tetangga bukanlah seseorang yang baik, bagaimana dengan seseorang yang mengambil hak Allah? Padahal Allah sudah menciptakannya, memeliharanya, memberi nikmat dan rezeki kepadanya, tapi bukannya tunduk dan patuh pada Allah, mereka malah menyembah sesuatu yang lain. Adakah hal yang lebih buruk dari ini?

Maka pantaskan seseorang yang baik di mata manusia namun durhaka kepada Allah masuk ke dalam surganya Allah? Bahkan Ibunya Malin Kundang saja sanggup mengutuk anaknya jadi batu karena kedurhakaan anaknya. Padahal rahmat dan kasih sayang Allah itu jauh lebih besar daripada kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya.

Dari sini kita belajar untuk lebih berhati-hati terhadap narasi-narasi yang kedengarannya baik, bagus, logis tetapi tidak sesuai dengan apa yang telah Allah SWT dan Rosulullah SAW ajarkan. Logika manusia itu terbatas. Itu hanya bisa mengantarkan kita pada eksistensi Allah. Setelahnya kita butuh wahyu dan petunjuk dari Allah untuk memahami apa yang Allah cintai dan apa yang Allah benci. Kita tidak bisa sebatas berasumsi atau menerka-nerka. Wallahu’alam

“… saying you love God but refuse to follow what He asks of you is a sign of inner conflict and hypocrisy” (A. Helwa).

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya