Hari Tembakau Internasional: Pemuda dan Si Pembakar Usia

Mahasiswa
Hari Tembakau Internasional: Pemuda dan Si Pembakar Usia 30/05/2022 822 view Lainnya myedisi.com

Hari Tembakau Internasional yang diperingati tiap tanggal 31 Mei, kembali mengingatkan tentang berapa banyak pemuda yang rela memotong usianya. Ketika rokok sudah menjadi sebuah step dalam pertumbuhan para remaja. Hal yang lumrah, tetapi ternyata salah kaprah.

Berdasarkan pengamatan penulis, sejak 2013, harga rokok selalu mengalami kenaikan hingga tahun ini. Anehnya, kenaikan yang terus menerus secara signifikan, tidak membuat para perokok berhenti merokok. Bahkan ditemukan fakta bahwa justru perokok remaja mengalami kenaikan dalam jumlahnya. Melihat hal tersebut, pemerintah Indonesia membentuk sebuah kebijakan yang diharapkan dapat mengendalikan konsumsi rokok. Per 1 Januari 2022 harga cukai rokok naik 12 persen. Hal tersebut merupakan gerakan besar yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menanggulangi konsumsi tembakau berlebih. Pemerintah melihat adanya ketidaksehatan akibat penggunaan rokok. Terlebih rokok mulai masuk ke dalam lingkup remaja yang masih ada dalam usia produktif.

Timbul keinginan atas kebiasaan di pergaulan membuat kebanyakan remaja tidak bisa lari dari rokok. Mereka biasanya mencoba atas dasar 'keren-kerenan' dan nampak gagah. Selain itu, dampak sekeliling juga sangat mempengaruhi. Biasanya remaja akan dihasut untuk mencoba barang dengan 4000 senyawa beracun itu. Studi oleh Universitas Airlangga menemukan pada 113 siswa dari 3.076 siswa atau 3,6 persen siswa di tiga SMP di Surabaya Utara ditemukan merokok oleh guru BK. Mereka menemukan siswanya merokok di area sekolah dan kantin di sekitar sekolah, dan juga guru mengatakan bahwa mereka berasal dari keluarga perokok. Beberapa pertanyaan muncul ketika semakin banyak remaja yang telah teredukasi bahaya rokok, tetapi tetap ingin mencoba rokok. Perubahan emosi, fisik, minat, dan perilaku juga menjadi faktor lain. Remaja mulai merasa harus menjadi dewasa dan meninggalkan sifat kekanak-kanakan. Hal tersebut kemudian mendorong mereka untuk membuktikan dengan cara merokok. Walaupun tak sedikit dari mereka pasti telah mengetahui bahaya merokok.

Nikotin yang terkandung dalam tembakau dapat merangsang otak untuk melepas zat yang memberi rasa nyaman (dopamine). Semakin lama semakin nyaman dan berujung kecanduan. Saat usia ini, remaja akan melakukan berbagai aktivitas fisik yang lebih berat. Diketahui salah satu bahaya tembakau adalah menurunnya fungsi paru-paru sehingga akan mengganggu kegiatan sehari-hari remaja. Namun, hal tersebut seakan tidak dirasakan oleh remaja perokok. Sebagian besar dari mereka, tidak menemukan alasan mengapa mereka harus berhenti merokok. Adapun hal tersebut dikarenakan mereka belum merasakan dampak negatif dari tembakau secara langsung. Dampak pemakaian tembakau tidak hanya berhenti pada penyakit saja, tetapi juga mendorong kematian. The Union, salah satu organisasi internasional yang bergerak di bidang kesehatan khususnya TBC dan penyakit paru-paru mengungkapkan bahwa tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahunnya. Data ini didukung dengan fakta mengenai dampak rokok yang terus bertambah seiring lama penggunaannya. Dapat dibayangkan jika sejak usia muda, para remaja sudah mengenal rokok dan mulai ketergantungan olehnya. Maka beberapa tahun ke depan akibatnya akan semakin terasa.

Dampak yang nyata adanya tidak membuat mereka berhenti. Jika semakin diteruskan, dampaknya akan semakin melawan. Perlu adanya pendampingan pola pikir pada usia muda supaya tidak masuk ke dalam hal yang tidak diinginkan. Terlebih pada cara pikir “keren itu harus merokok” harus segera diluruskan. Tradisi dari masa ke masa memupuk sebuah kebiasaan yang kemudian menjadi budaya. Hal tersebut terjadi pada perkembangan perilaku para remaja. Mereka seakan merasakan tahap yang sama dan kemudian menginjak perilaku yang sama pula. Terus dampingi para remaja yang sekiranya akan segera menginjak masa tersebut. Sampaikan pemahaman yang logis dan kuat, dikarenakan seusia mereka segala hal hanya dipikirkan atas dasar keinginan belaka.

Remaja pasti tahu betul apa yang mereka lakukan dan dampak ke depannya. Namun jahatnya tembakau dan zat nikotinnya dapat memanipulasi keinginan mereka. Mereka seakan tidak ada pilihan untuk berhenti merokok dan memulai hidup yang sehat. Rokok telah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan walau sudah paham itulah kesalahan. Mungkin bukan sekarang, mungkin bukan di umur yang sekarang. Namun dampaknya terus mengikuti seiring terbakarnya setiap puntungnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya