Racun Media Terhadap Nalar Berpikir Irasional Masyarakat

Mahasiswa STFD
Racun Media Terhadap Nalar Berpikir Irasional Masyarakat 03/05/2021 90 view Opini Mingguan pixabay.com

Memotret segala rentetan peristiwa atau fenomena yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, kiranya terdapat beberapa peristiwa penting dalam lanskap pemberitaan media-media informasi Indonesia, yang mengalihkan mata serta mengakomodasi kepercayaan masyarakat ke dalam cara berpikir yang tampak irasional.

Perlu diakui bahwa semenjak Januari 2021 fenomena-fenomena seperti bencana Covid-19, kasus pornografi di kalangan artis, kecelakaan pesawat terbang, bencana alam, dan lain sebagainya dibaca dengan nalar berpikir atau logika mistik tertentu.

Fenomena-fenomena yang ada serentak menyeret beberapa tokoh yang umumnya telah dikenal masyarakat kembali ke permukaan publik. Terutama dalam portal-portal media sosial sebagai figur dengan kekuatan meta-indrawi tertentu. Sebut saja mereka adalah Deny Darko, Roy Kiyoshi, Mbah Mijan, dan yang paling menghebohkan adalah sosok yang terakhir ini, yaitu Mbak You.

Mbak You, misalnya, tampil dalam portal pemberitaan media, kanal YouTube, dan tayangan di beberapa saluran televisi, menghidupi dunia metafisis dengan kekuatan meramal yang dimiliki. Sosok Mbak You dalam rekam jejak media menghebohkan publik dengan hasil penerawangannya yang disampaikan saat jumpa pers di kawasan Veteran, Bintaro, Jakarta Selatan, tahun lalu (www.republika.co.id, 2020/11/21). Ada berbagai prediksi yang disampaikan Mbak You akan terjadi di tahun 2021, mulai dari bencana alam, kecelakaan transportasi, kelanjutan pandemi Covid-19 hingga kehidupan para artis tanah air.

Nama paranormal Kejawen Mbak You, lalu kembali ramai di awal Januari 2021 dan menyita perhatian publik pasca pengakuannya menyebut telah meramalkan kejadian jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Paranormal Kejawen tersebut bahkan menyebutkan warna dan logo pesawat yang sedikit berwarna Biru dan Merah, yang mirip dengan warna logo pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang mengalami kecelakaan di Januari lalu.

Media Indonesia lalu kembali ramai di akhir April dengan dihebohkannya berita mengenai ‘babi ngepet”, yang sejauh ini telah diusut tuntas kasusnya. Faktanya, babi sebagaimana yang dimaksudkan sebagai “babi ngepet” tersebut, bukanlah babi ngepet sungguhan, tapi rekayasa sekelompok oknum pembuat isu terkait yang sejauh ini telah ditangkap pihak kepolisian (kompas.com, 2021/04/29).

Sejatinya masih banyak persoalan lain lagi yang dapat ditelusuri lebih jauh, yang senantiasa menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih memegang teguh pola pikir mistis. Mengapa informasi takhayul lebih memikat masyarakat?

Letak permasalahannya adalah bahwa logika atau cara berpikir rasional lalu kabur dalam membaca peristiwa-peristiwa yang terjadi, yang pada akhirnya spirit dasar untuk semakin maju ke depan lenyap. Alih-alih menghebohkan sosok paranormal, “dunia lain”, “babi ngepet, dan sebagainya, medialah yang meracuni masyarakat atau pembaca dengan nalar dan logika yang cenderung irasionalitas.

Informasi Media dan Kemenduaan Masyarakat

Persoalan selanjutnya adalah bahwa opini dan kepercayaan publik terbagi. Di satu sisi, yang percaya akan logika mistis; takhayul atau dunia ramalan pastinya resah dan pesimis dalam melakukan aktivitas. Di sisi lain yang pesimis dengan logika mistis tentunya akan menganggap kepercayaan akan dunia ramalan sebagai suatau kepercayaan kuno yang membuat masyarakat tidak berani untuk melangkah maju tetapi malah mundur ke belakang.

Bila ditelisik lebih jauh, yang memperkeruh keadaan kemenduaan masyarakat adalah media. Sejauh ini media Indonesia menghidupi cara berpikir atau logika mistis masyarakat. Kosa kata “orang pintar”, “takhayul” “dunia lain”, “dunia mistik”, “dunia gaib” yang dipakai media seumpama energi listrik. Energi listrik mempunyai power untuk menyalakan lampu, namun tidak ada yang sungguh melihat wujud energi listrik itu seperti apa.

Media massa menghidup-hidupkan gejala "dunia lain" itu sebagai heboh, artinya sesuatu yang menggegerkan dan menggetarkan lantaran mengusik rasa ingin tahu pembaca. Fokus dan perhatian media hanya satu yaitu daya jual-beli informasinya, yakni mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya jika banyak ditonton atau dibaca.

Di satu sisi, media massa yang memegang dogma bahwa pembaca kerap kali mencari dan menyenangi segala sesuatu dari dunia sarat spekulasi, dunia yang tidak bisa dicari ujung pangkal kebenarannya. Di sisi lain, media massa berkewajiban "mengilmiahkan apa yang masyarakat alami dan rasakan dalam kehidupan keseharian", artinya media massa hendaknya tidak terjerembab dalam dunia perdukunan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh akal budi. Bukankah misi suci dari media massa, salah-satunya adalah mengomunikasikan segala pengalaman masyarakat dalam bingkai rasionalitas?

Informasi Berbasis Epistemologi

Salah satu pemberdayaan di dunia pendidikan yang didasarkan pada kemajuan teknologi informasi adalah menjadikan berbagai bentuk media massa sebagai wadah atau saluran pendidikan bagi masyarakat luas. Media massa sebagai wadah pers dan alat komunikasi massa dinilai punya peran penting dalam mewujudkan keterbukaan informasi publik. Peran dan fungsi media massa menjadi kebutuhan penting dalam komunikasi manusia. Dalam pada itu, informasi haruslah berbasis pada ilmu pengetahuan yang sejalan dengan roh dan semangat zaman.

Pengetahuan yang sesuai dengan roh dan semangat zaman dewasa ini mengutamakan pengetahuan rasional, di mana akal atau rasio menjadi orientasi dan tolak ukur kebenaran, di mana informasi perlu dikaji secara logis berdasarkan nalar. Dan tentunya semua fenomena atau kejadian dicari serta dikaji sebab dan akibatnya yang secara rasional pula, dengan fakta dan data empiris.

Dalam pada itu, regulasi yang dapat diketengahkan adalah bahwa media massa sebagai saluran pendidikan, mengkaji serta menyalurkan informasi harus berasaskan ilmu pengetahuan (Epistemologi) yang ketat. Pertama, penggunaan pola konseptual dan struktur teoritis dalam memahami fenomena, dengan upaya kritis untuk mempertanyakan secara mendalam suatu fenomena.

Kedua, mengontrol secara sistematis fenomena yang diteliti. Kontrol atas fenomena yang diteliti sangat berguna untuk mengatasi problem pra konsepsi dan bias.

Ketiga, menjelaskan hubungan antar fenomena yang diteliti secara hati-hati dan mengesampingkan penjelasan-penjelasan metafisik. Penjelasan metafisik merupakan proposisi yang tidak dapat diuji.

Sejatinya media perlu menakar kembali suatu kejadian lalu memilah dengan cermat mana yang layak dan yang harus diberitakan dan yang tidak. Media adalah anak pinak teknologi modernisasi dan aset kemajuan, yang harus selalu terbuka dengan tuntutan zaman dan semangat zaman yang membingkainya, yaitu rasionalitas.

Diskursus Politik Tan Malaka

Dalam pembacaan filosofis, gejala serba mistik itu, di mata pembacaan budayawan dan ahli filsafat Franz Magnis-Suseno, ketika menulis mengenai pemikir politik Tan Malaka (Franz Magnis-Suseno, 2003), menulis bahwa alasan bangsa Indonesia terbelakang salah-satunya karena bangsa ini masih terperangkap dalam logika Mistika.

Tan Malaka dalam karyanya Madilog menunjuk bahwa logika mistika adalah logika gaib, maksudnya cara berpikir yang tidak menjelaskan segala apa yang terjadi dalam dunia nyata dengan mencari sebab-musababnya dalam dunia nyata, melainkan dengan mengembalikannya kepada perbuatan roh-roh di alam alam gaib yang berada di belakang alam nyata.

Mereka yang masih dibelit oleh logika gaib dijamin tidak bisa merengkuh kemajuan, karena ia mengharapkan segala kemajuan dari anugerah kekuatan-kekuatan gaib. Inilah makna yang perlu dipegang oleh media massa ketika mewartakan dan menghebohkan tentang “dunia lain”. “Kalau bangsa Indonesia hendak menjadi bangsa besar, maka ia harus melepaskan dan melucuti kepercayaan kepada kekuatan-kekuatan gaib, kekuatan mistik dan segera menoleh dengan menggunakan ilmu pengetahuan.” Ini merupakan perkawinan antara sains dan teknik”, demikian Tan Malaka dalam karyanya bertajuk Madilog.

Jalan keluarnya adalah dengan berpikir logis. Menurut dia, berpikir logis secara sederhana berarti bahwa "persoalan pasti dijawab dengan pasti pula". Bukankah tugas media massa mewartakan segala persoalan agar menemukan jawaban-jawaban yang mendekati kepastian?

Media massa perlu bernalar logis, bukan bernalar magis. Ketika media massa mengolah heboh “babi ngepet”, maka media massa perlu melakukan pembedaan secara ketat dan terinci (distingsi). Artinya bahwa, media massa perlu membedakan antara yang nyata dengan yang khayal, antara yang pasti dengan yang meragukan, yang tepat dengan yang kabur, antara hal yang berguna dengan hal yang sia-sia. Ketika media massa memberitakan dan menayangkan segala warta yang bernuansa "dunia lain", "dunia mistik", dan "dunia gaib", maka media massa sedang memiskinkan dan mengosongkan makna hidup manusia atau menjadikan manusia semata-mata alat belaka.

Media massa dituntut memberi rasa kepastian (sense of certainty), bukan justru menyajikan hal-hal yang serba tidak pasti.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya