75 Tahun dan Potret Lingkungan Indonesia

Statistisi Ahli
75 Tahun dan Potret Lingkungan Indonesia 19/08/2020 570 view Lainnya upeks.co.id

Tepat 75 tahun Indonesia merdeka. Begitu banyak permasalahan yang tengah dihadapi Indonesia yang belum dapat diselesaikan. Mulai dari bagaimana mengembalikan kondisi perekonomian; bagaimana meningkatkan neraca perdagangan di tengah ketidakpastian kondisi global; bagaimana menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran; dan masalah lainnya terkait kondisi sosial dan ekonomi Indonesia. Selain itu, masih ada masalah penting lainnya yang sangat berarti dan menjadi daya dukung bagi kehidupan yaitu “Masalah Lingkungan”.

Masalah lingkungan yang tengah dihadapi Indoenesia tercermin dari nilai “Environmental Performance Index “ (EPI) atau Indeks Kinerja Lingkungan tahun 2020. Nilai EPI yang dihasilkan oleh Yale Center for Environmental Law & Policy memperlihatkan seberapa besar keseriusan dan upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi permasalahan lingkungan.

Dilansir dari epi.yale.edu, Indonesia berada pada peringkat 116 dari 180 negara di dunia. Posisi ini jauh di bawah dibandingkan dengan negara-negara tetangga Indonesia seperti Malaysia dan Singapura yang masing-masing berada pada peringkat 68 dan 39. Mengapa peringkat Indonesia jauh di bawah dan seperti apakah kondisi lingkungan di Indonesia hingga penilaian kinerja lingkungan sangat jauh tertinggal? Terdapat beberapa hal yang dapat mencerminkan kondisi tersebut (data publish Badan Pusat Statistik).

Hal pertama yang dapat kita lihat adalah masalah yang ditimbulkan karena pemanfaatan sumber daya alam. Istilah “Gemah Ripah loh Jinawi” yang memiliki arti tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya, menggambarkan betapa kayanya negeri Indonesia dengan limpahan sumber daya alam baik hayati maupun non hayati.

Salah satunya bahan tambang, melimpahnya bahan tambang dan bahan galian menimbulkan permasalahan yang tidak kecil bagi Indonesia. Di beberapa provinsi, lahan bekas tambang yang tidak dilakukan reklamasi menyebabkan masalah baik sosial maupun lingkungan. Contoh di Kalimantan Timur, lahan bekas tambang batu bara dibiarkan terbuka dan membahayakan bagi masyarakat sekitar bahkan sampai menelan korban jiwa (regional.kompas.com).

Permasalahan juga terjadi pada hutan Indonesia. Selama kurun waktu 8 tahun (2011-2018), telah terjadi penurunan luas hutan dari 98,7 juta ha menjadi 93,52 juta ha yang disebabkan karena adanya kerusakan hutan. Penurunan ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, paling luas adalah Papua diikuti oleh Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Jawa, dan Bali serta NTT. Bukan tidak mungkin hutan yang semula menjadi Mega Biodiversity dan paru-paru dunia lambat laun akan terus berkurang akibat perubahan fungsi dan peruntukannya.

Salah satu bentuk kerusakan hutan adalah kegiatan deforestasi yang dilakukan karena desakan konversi lahan untuk pemukiman, infrastruktur, pertanian, pertambangan, perkebunan, dan pemanenan hasil kayu untuk industri. Salah satu kegiatan deforestasi adalah pembakaran lahan dan penebangan kayu liar di kawasan hutan. Deforestasi kawasan hutan yang terjadi di Indonesia di tahun 2017-2018 adalah sebesar 195,73 ribu ha (KLHK).

Residu berbahaya yang dihasilkan dari hasil akhir dari proses produksi, konsumsi atau akumulasi keduanya pun menjadi masalah yang tidak kalah beratnya. Residu berbahaya yang langsung dilepaskan ke lingkungan dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan contohnya: emisi ke udara, gas rumah kaca (GRK), limbah cair, sampah, dan penghasil zat kimia. Selama kurun waktu 2000-2015, Emisi GRK yang dihasilkan meningkat sebesar 1.440 juta CO2e.

Efek dari peningkatan GRK secara global dapat menyebabkan peningkatan suhu bumi dan pemanasan global yang berujung kepada bencana dan perubahan iklim atau “Climate Change”. Selama kurun waktu 1961-1990, Indonesia mengalami peningkatan suhu rata-rata 0,5 derajat celcius dan diproyeksikan antara tahun 2020 – 2050, rata-rata suhu di Indonesia akan meningkat 0,8 – 1,0 derajat celcius. Pada kurun waktu 2017-2018 terjadi peningkatan suhu maksimal sebesar 1,2 derajat celcius di DKI Jakarta dan maksimal sebesar 3,6 derajat celcius di Kalimantan Timur. Begitu juga di beberapa provinsi lainnya di Indonesia.

Dari semua masalah lingkungan yang dihadapi, sangat dibutuhkan keseriusan dan kerjasama semua pihak untuk mengatasi masalah lingkungan. Tidak hanya pemerintah sebagai pelaku yang harus bertanggung jawab tetapi juga harus didukung oleh perusahaan, masyarakat, dan individu sebagai manusia yang memiliki moral.

Pemerintah harus lebih fokus dalam menjalankan perannya. Salah satunya dalam hal pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Setelah lima tahun sejak dicetuskannya SDGs, atau sepertiga dari target di tahun 2030, pemerintah masih berkutat dengan penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) dan mengumpulkan data-data indikator SDGs. Dibuktikan dengan jumlah provinsi yang telah membuat Rencana Aksi Daerah (RAD) untuk mendukung pelaksanaan SDGs sebanyak 25 provinsi (Bappenas.go.id).

Belum lagi ditambah dengan masalah data yang bersumber dari mana yang akan digunakan. Begitu juga dengan pencapaian target-target SDGs, boleh dibilang masih terfokus pada capaian sosial dan ekonomi saja. Sementara untuk capaian lingkungan masih jauh tertinggal bahkan data yang digunakan untuk indikator-indikator SDGs dimensi lingkungan masih banyak belum tersedia.

Selain pemerintah, peran perusahaan tidak kalah pentingnya untuk mengatasi masalah lingkungan di Indonesia. Tanggung jawab perusahaan dalam bentuk Corporate Sosial Resposibility (CSR) dan Lembaga Filantropi di bidang lingkungan harus dapat diapresiasi dan dikelola dengan baik. Menurut Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia mengatakan dalam perkembangannya, filantropi dimaknai sebagai upaya untuk berbagi menyalurkan sumber daya dan berderma secara terorganisir untuk kepentingan strategis jangka panjang dan berkelanjutan (kabar24.bisnis.com)

Walaupun demikian, perusahaan tidak boleh lupa dengan tanggung jwabnya dalam pengelolaan lingkungan akibat dari kegiatan atau proses bisnis yang dilakukan. Jangan sampai pemberian CSR dan keterlibatannya dalam Lembaga Filantropi hanya menjadi kedok untuk menutupi dosa lainnya terhadap lingkungan.

Masyarakat pun berperan penting dalam mengatasi masalah lingkungan. Peran masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk membentuk kelompok-kelompok sadar lingkungan, membentuk kampung bersih dan sehat, melakukan kegiatan pengelolaan limbah rumah tangga di tingkat RT atau RW, dan berpartisipasi aktif dan masih dalam memperbaiki dan menjaga lingkungan. Akan tetapi, saat ini peran aktif dan kepedulian masyarakat masih sangat sedikit dan rendah. Lebih banyak masyarakat yang bersikap tidak peduli terhadap kondisi lingkungan.

Masalah lingkungan hidup yang terjadi dapat dikatakan sebagai masalah moral karena berhubungan dengan perilaku manusia. Pencemaran dan kerusakan yang terjadi di hutan, laut, air, tanah, atmosfer dan berbagai macam bentuk kerusakan lainnya diakibatkan oleh perilaku manusia yang tidak peduli dan tidak bertanggung jawab dan hanya memikirkan kebutuhan hidupnya saja (Keraf, 2010).

Sikap egosentrime manusia terhadap lingkungan dapat dilihat dari kebiasaan dalam hidup sehari-hari, contohnya membuang sampah sembarangan padahal mengetahui aturan dan akibat yang ditimbulkan. Yang membuat miris adalah perilaku tersebut juga dilakukan oleh individu yang mengenyam pendidikan tinggi, bukan hanya oleh mereka yang tidak mengerti tentang aturan dan akibatnya.

Dengan melihat banyaknya kondisi dan permasalahan lingkungan yang dihadapi, menjadi hal yang wajar jika saat ini Indonesia berada pada peringkat 116 dunia. Ditambah dengan sikap dan perilaku kita yang kurang peduli terhadap lingkungan. Apakah kita bangga dengan posisi ini? Mudah-mudahan bertepatan dengan 75 tahun Indonesia Merdeka, kita semua mau membuka mata dan hati untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan di sekitar kita.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya