Childfree Gitasav : Influencer yang Lupa Peran

Statistisi Muda di Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Riau
Childfree Gitasav : Influencer yang Lupa Peran 30/08/2021 121 view Opini Mingguan hipwee.com

Baru-baru ini seorang influencer dan youtuber Indonesia Gita Savitri mengungkapkan di media sosial tentang keputusannya bersama suami untuk tidak memiliki anak atau istilah kerennya childfree. Hal ini sontak membuat pro dan kontra antar netizen. Sebab, walaupun sudah lama tinggal di Jerman untuk kuliah, di mata netizen seorang Gita Savitri tetaplah orang Indonesia. Di negara ini, childfree masih dianggap tabu dan kurang familiar. Yang marak justru usaha beberapa pasangan terutama publik figur untuk memiliki anak seperti Zaskia Sungkar beberapa waktu lalu.

Konsep childfree ini sebenarnya sudah lama ada. Teringat saya sekolah dulu diceritakan oleh guru bagaimana orang-orang di luar negeri seperti di Jepang memilih tidak punya anak. Salah satu alasannya karena tingginya biaya hidup di sana. Namun, belakangan ini justru pemerintahnya mendorong warganya untuk memiliki banyak anak bahkan membayar warganya yang mau memiliki anak.

Hal ini tak lain karena banyak warganya terdahulu yang memutuskan childfree sehingga mengakibatkan rendahnya angka kelahiran. Dikutip dari CNN, Angka kelahiran di Jepang pada 2020 memecahkan rekor terendahnya. Kementerian Kesehatan mengatakan hal tersebut terjadi karena banyak pasangan menunda pernikahan dan memulai keluarga di tengah pandemi. Jumlah kelahiran di Jepang turun 2,8 persen dari tahun sebelumnya menjadi 840.832 kelahiran. Jumlah tersebut merupakan angka terendah sejak penghitungan dilakukan pada 1899.

Dan saat ini childfree kembali booming terutama di Indonesia karena keluar dari pernyataan seseorang yang mempunyai banyak penggemar di sosial media. Gita Savitri atau dikenal dengan sebutan Gitasav di kalangan penggemarnya memiliki satu juta pengikut di Instagram. Dan subscriber Youtubenya juga sudah melebihi satu juta per 29 Agustus 2021. Tentu saja konsep childfree yang dihembuskannya menjadi buah bibir dimana-mana. Ditambah lagi statusnya sebagai seorang muslimah, di mana ajaran Islam tidak sejalan dengan konsep childfree. Sehingga pro kontra menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

Salah satu dalil yang menunjukkan ketidakselasaran ajaran Islam dengan konsep childfree yakni sabda Rasulullah saw., “Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)” [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar]. Dari hadis tersebut jelas bahwa dalam Islam justru diperintahkan untuk memperbanyak keturunan.

Maka tidak heran, jika di kolom komentar media sosial Gita Savitri, banyak yang menghujat pilihan hidupnya. Netizen menganggap Gita sedang membangkang dari ajaran agama sendiri. Hal ini berbeda dengan pasangan yang memang ditakdirkan tidak memiliki anak.

Keputusan yang dibuat Gita bersama suaminya adalah memang dari keinginan mereka berdua untuk tidak memiliki anak. Dengan kata lain kemungkinan Gita untuk mempunyai keturunan bisa jadi ada namun dia mencegah agar itu tidak terjadi. Dengan kata lain Gita Savitri seperti ingin melawan kodratnya sebagai seorang perempuan.

Adapun alasan dibalik keputusannya untuk childfree seperti yang diungkapnya di media sosial adalah karena menurutnya memiliki anak adalah sebuah pilihan besar. Gita khawatir jika nantinya tak bisa bertanggung jawab dan akan membuat anaknya terluka. Selain itu Gita juga menyatakan bahwa dia tidak pernah berkeinginan untuk menjadi seorang ibu yang mempunyai kewajiban melahirkan anak.

Sebenarnya sah-sah saja bagi setiap orang untuk membuat suatu keputusan dalam hidupnya. Permasalahannya adalah ketika seorang Gita Savitri yang aktif di media sosial dan memiliki banyak pengikut, mengungkapkan secara gamblang pilihannya itu di ruang publik . Apalagi citra seorang Gita Savitri yang berhijab telah menjadikannya idola baru bagi generasi muda khususnya umat muslim. Hal ini dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk bagi generasi muda Islam.

Sebagai seorang influencer, harusnya Gita sadar bahwa tindak tanduknya baik itu perbuatan ataupun perkataan akan menjadi sorotan. Sebab sesuai namanya yakni influencer atau pemengaruh adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain karena kapasitasnya. Kapasitas yang dimaksud dapat berupa otoritas, pengetahuan, posisi, atau hubungan dengan audiens (suara.com). Dan seorang influencer yang baik harusnya memberikan pengaruh baik bagi pengikutnya bukan malah sebaliknya.

Dan di era saat ini di mana setiap orang mempunyai tempat untuk mengeluarkan pendapat melalui media sosial, semua seperti berlomba-lomba menunjukkan siapa dirinya, bagaimana hidupnya, dan apa pendapatnya. Dan ketika itu dilakukan oleh seseorang yang memiliki pengaruh, maka itu dapat dijadikan patokan. Artinya, hal itu boleh atau wajar saja.

Oleh sebab itu bagi seorang influencer baiknya bijak dalam membagikan informasi ke ruang publik. Ada sesuatu yang memang layak dibagikan atau cukup untuk disimpan sendiri saja.

Dan keputusan Gita Savitri untuk childfree pun saya rasa belum tentu bersifat permanen. Bisa saja di kemudian hari dia berubah pikiran, sedang pengikutnya sudah terdoktrin dengan informasi awal. Sebab Allah maha membolak-balikkan hati manusia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya