Haruskah Cemas dengan Eljibitong ?

Mahasiswa Sanata Dharma
Haruskah Cemas dengan Eljibitong ? 16/05/2022 84 view Budaya theAsianparent

Beberapa hari lalu sebelum video Om Dedy di takedown, saat saya kelar menyimak podcast om Dedy Corbuzer bersama dua sejoli yang memilih hidup sesama jenis, saya mendapati di kolom komentar seseakun yang curhat tentang adiknya yang masih duduk di bangku SMA.

Beliau bercerita, jika adiknya itu sejak sekolah daring suka sekali nonton film sesama jenis dari Thailand itu. Yang pada akhirnya, si adik juga terjerumus ke lembah nista Eljibitong.

Kemarin, setelah menyebut kata 'ELj1b1t1, saya langsung kena sangsi Om Mark Jukibek selama 24 jam, karena menulis sesuatu yang dianggap sebagai ujaran kebencian. Jujur saya tidak terima. Negara saya, generasi muda bangsa ini dan masa depan anak saya sedang diteror dengan sesuatu hal yang luar biasa.

Dengan dalih HAM jelas itu suatu hal yang fatal untuk diterima. Maka dari itu, saya mau menceritakan sesuatu yang telah saya pendam selama tiga tahun ini, dari jagat media sosial. Saya takut mengungkapkan ini. Tetapi, agar para orang tua melek dan sadar, bagaimana masifnya teror mereka itu, saya akan ungkap hal ini.

Gaes ... eljibitong adalah sebuah wadah atau label yang menaungi penyuka sesama jenis. Anggotanya sebenarnya tidak banyak. Yang jumlahnya banyak justru adalah SSA atau Sex Same Attraction. Bedanya Eljibitong dengan SSA adalah bahwa Eljibitong berani tampil, mengakui diri mereka, sedangkan SSA masih sembunyi. Ada SSA tingkat rendah, ada yang tinggi. Yang rendah, biasanya berusaha melawan dan menyembuhkan diri.

Sedangkan yang tinggi adalah mereka yang sudah mulai jajan, tetapi masih sembunyi-sembunyi. Biasanya SSA yang tingkat rendah adalah sasaran dari para pegiat sosial untuk membantu menyembuhkan mereka, seperti Kak Sinyo Egie. Dan SSA tingkat tinggi biasanya sudah hampir menjadi bagian dari eljibitong. Kurang sak sreeet ae, kalau kata orang Jawa.

Nah, setelah mereka terjaring anggota Eljibitong, mereka akan diberikan apapun yang mereka mau. Kekayaan, karier, wira usaha, penghargaan, dukungan, kekeluargaan, perhatian, kasih sayang, dan apapun yang mereka butuhkan. Jangan salah, Gaes. Uang mereka banyak. Dana dukungan datang dari dewan internasional yang menggaet banyak perusahaan ternama, mengalir deras hingga trilyunan.

Produk-produk pangan yang kita makan, bisa jadi salah satunya adalah dari perusahaan yang juga ikut andil dalam menyokong dana untuk kaum eljibitong itu. Maka dari itu, tak salah jika mereka bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

"Bagaikan hidup di dunia perang!, sungguh indah!" kata salah seorang ex-eljibitong dalam sebuah testimoninya.

Kenikmatan yang mengandung racun, makin masuk ke dalam, makin lupa mereka dengan fitrah seorang laki-laki. Say goodbye pada perempuan, dan bahkan makin gencar menyasar anak-anak di bawah umur.

Ya ... karena sokongan dana itulah, mereka kini makin masif untuk mengajak serta anak-anak muda yang masih polos, untuk dijadikan seperti mereka. Tak pandang bulu, baik itu normal atau belok, baik masih single atau sudah beristri, baik yang tua atau muda, bahkan menyasar anak-anak kecil yang masih putih.

Kemudian mereguk kebahagiaan semu, yang kemudian mengantarkan mereka pada kesengsaraan yang luar biasa, yaitu penyakit HIV/AIDS.

Itulah kenapa ada kalimat: mereka memperbanyak diri bukan dengan keturunan, tapi dengan cara menulari.

Well, seperti yang kita tahu, kemarin-kemarin ada testimoni mantan kaum belok-belok yang bilang kan kalau orang dewasa normal saja bisa dengan mudah dibelokkan, apalagi anak-anak yang notabene belum sempurna akalnya?

Soal anak-anak ini, sudah banyak korbannya loh. Tahun 2018 lalu saja suami saya sibuk report video-video anak-anak usia SD-SMP berjenis kelamin laki-laki yang sedang ngelakuin hal mengerikan dengan sesamanya.

Lanjut dunia pelangi. Di awal-awal, teman-teman yang seolah seperti keluarga itu masih memberikan perhatian ketika ada yang terbaring sakit di Rumah Sakit. Tetapi, setelah keadaannya makin mengenaskan, teman-teman yang katanya sudah lebih dari keluarga itu malah menghilang.

Mereka tidak datang lagi, baik berkunjung maupun sekedar menanyakan kabar. Yang pada akhirnya membuat mereka sendirian, membusuk di dalam bangsal dengan segala kesakitannya.

Makanya, di sini bener kata bang Jonru di postingannya kemarin: mereka itu ada dan saling membantu cuma untuk makin terjerumus ke lubang kemaksiatan. Tapi saat tahu temannya sakit, mereka mennghilang.

Di samping itu, apa yang kemudian membuat saya syok? Yakni, nama mereka sudah didaftarkan di salah satu lembaga keagamaan tertentu, untuk diurus pemakamannya sesuai dengan agama baru mereka. Dengan kata lain, dalam keadaan mengenaskan, mereka dipaksa murtad. Itulah terjadi pada mereka yang tidak didampingi oleh keluarga.

Kalau kita peka, ada tanda nyata di sekitar rumah sakit khusus tempat para pasien eljibitong ini. Saya tidak bisa ungkapkan, karena saya juga ingin aman. Sungguh tidak mudah menulis ini. Semuanya seolah sudah terorganisir.

Jika ada yang menonton podcast DC dengan bintang tamu JT, anda pasti melihat banyak tanda di sana. Baik dari gesture maupun apa yang diucapkan JT pada DC. Bagaimana ia melupakan mantan-mantannya yang katanya sudah mengenaskan lalu meninggal dunia. Itulah kepingan gambaran nyata egoisnya kaum mereka.

Anak-anak kita, generasi muda kita benar-benar diteror dengan hal yang sudah bukan lagi sepele. Ini masalah besar. Ini masalah yang sangat berbahaya, dan ini adalah masalah nyata di depan mata yang seringnya kabur dalam pandangan. Banyak artis yang juga termasuk dalam jaringan Eljibitong, hanya saja mereka melakukan pendekatan dengan wanita ini dan itu, untuk menutupi kebelokan mereka.

Saya menulis ini, untuk menghimbau kepada teman-teman agar kalian lebih peka dan waspada lagi dengan apapun yang baru. Bisa jadi, hal yang dianggap anak adalah sesuatu yang keren, nyatanya bisa dengan mudah menjerumuskan. Ingat, perjuangan mereka masif dan didanai.

Kita bisa apa, selain berupaya mempertahankan diri dengan menggenggam kuat nilai-nilai moral dan agama untuk anak-anak kita, selain tentunya dengan mendoakan keselamatan mereka. Juga turut mendakwahkan bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan fatal dan dapat merusak tatanan kehidupan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya