Perokok Anak: Titik Kritis Menurunkan Jumlah Perokok di Indonesia

Pendidik
Perokok Anak: Titik Kritis Menurunkan Jumlah Perokok di Indonesia 24/01/2021 538 view Pendidikan pixabay.com

Upaya Pengendalian jumlah perokok di Indonesia bagaikan pertunjukan sebuah drama. Pencegahan masih terus dilakukan pemerintah dalam upaya menciptakan kualitas hidup sehat tetapi di sisi lain merokok juga sudah merupakan sebuah gaya hidup baru. Bahkan rokok bagi sebagian orang sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok.

Drama semakin pelik sebab rokok juga menjadi tumpuan ekonomi mikro dan komoditas bisnis bagi para pengusaha. Tetapi di sisi yang lain, setiap tahun terjadi peningkatan beban biaya kesehatan JKN-KIS sebagai akibat dari penyakit karena merokok. Badan kesehatan dunia (WHO) dalam sebuah pesan peringatan menyebutkan bahwa masalah kebiasaan merokok begitu kompleks. Sehingga upaya pengendalian jumlah perokok bagaikan sebuah rantai siklus yang akan terus berputar.

Alih-alih mengendalikan jumlah perokok, pecandu rokok malah semakin menjamur di Indonesia. Data menunjukan bahwa jumlah perokok di Indonesia setiap tahunnya terus merangkak naik. Pada 2013, prevalensi perokok pemula sebesar 7,2 persen. Jumlah ini terus meningkat menjadi 9,1 persen pada 2018 (Kompas.id). Data ini jika diteropong dari kacamata pebisnis memang menjadi sesuatu hal yang sangat menggembirakan sebab pabrik rokok dipastikan akan terus beroperasi. Tetapi jika dilihat dari sisi kualitas hidup sehat tentulah sangat mengkhawatirkan bagi sebuah negara. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah jumlah perokok anak.

Data dari The Tobacco Control Atlas Asean Region Tahun 2018, di tingkat Asean jumlah anak laki-laki Indonesia berusia 13-15 tahun merokok, paling tinggi dibandingkan dengan negara lain (Kompas.id). Kementrian Kesehatan pada tahun 2018 pun memaparkan hal yang sama yaitu jumlah perokok anak pada tahun 2001 sebesar 12,7 persen meningkat pada tahun 2016 menjadi 23,1 persen. Kedua data ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa dalam rentang waktu 15 tahun, anak pada jenjang SMP/SMA (usia 13-15 tahun) yang merokok mengalami peningkatan sebesar 2 kali lipat.

Peningkatan perokok anak mengisyaratkan bahwa pihak sekolah dan orang tua gagal mencegah candu rokok masuk dalam dunia kehidupan anak. Hal ini dikarenakan selama ini yang terjadi di sekolah adalah pencegahan yang hanya berupa perangkat aturan yang membatasi anak untuk tidak merokok di lingkungan sekolah. Tetapi ketika anak sudah berada di luar lingkungan sekolah atau di rumah, kekuatan aturan tersebut menjadi sangat lemah.

Di rumah bahkan anak tanpa sengaja mulai diperkenalkan dengan rokok melalui aktivitas sederhana atau informasi yang salah seperti membeli rokok untuk orang tuanya ataupun iklan-iklan yang menggambarkan merokok adalah kegiatan yang macho. Kesadaran akan bahaya merokok memang belum hadir dalam diri anak sebab semua aktivitas di sekitar anak juga turut menormalkan kebiasaan merokok.

Pencegahan perokok usia anak perlu dilakukan sebab selain menyebabkan candu, nikotin pada rokok dapat merusak kerja sistem kerja otak. Akibatnya proses belajar, kemampuan untuk mengendalikan diri dan daya ingat anak bisa terganggu.

Berbagai upaya pun telah dan sedang dilakukan pemerintah dalam upaya pengendalian jumlah perokok diantaranya seperti penerapan kawasan tanpa rokok, kampanye kesehatan melalui forum kesehatan, pengendalian produksi tembakau dan lainnya. Namun upaya mengendalikan perokok tidak semudah seperti yang dibayangkan. Hal ini dikarenakan kandungan nikotin di rokok menyebabkan efek kecanduan. Artinya jika seorang anak sudah menjadi perokok aktif maka sangat besar kemungkinan pada usia dewasa, anak tersebut juga tetap menjadi perokok aktif. Sehingga kelompok anak adalah target paling utama yang harus disasar sebagai bentuk nyata dari upaya negara hadir untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia.

Upaya menurunkan jumlah perokok sebenarnya tidak hanya ada disisi kebijakan pemerintah tetapi tanggung jawab itu juga ada pada pihak sekolah dan orang tua. Kebijakan pemerintah menjangkau masyarakat luas tetapi tanggung jawab sekolah dan orangtua adalah tanggung jawab khusus untuk mencegah anak masuk dalam lingkaran candu rokok.

Masalah perokok anak tidak boleh dibiarkan. Hal ini dikarenakan perokok anak tidak hanya terkait persoalan kesehatan. Dampak rokok terhadap anak bisa berujung pada penurunan kualitas sumber daya anak. Jika hal ini dibiarkan dan terus terjadi maka, generasi penerus bangsa yang diharapkan menjadi aset bangsa justru akan berubah menjadi beban bangsa. Sebab di era pandemi sekarang ini, penyakit seperti pneumonia ataupun penyakit lainnya yang timbul karena merokok juga akan menjadi penyakit penyerta (kormobid) yang turut mempengaruhi dan semakin memperparah kondisi kesehatan pasien yang terinfeksi korona.

Perlawanan terhadap rokok sebenarnya identik dengan perang terhadap virus korona yang sekarang masih terus mewabah. Hal ini dikarenakan manusialah pemegang peran utamanya. Manusia yang aktif menularkan candu rokok kepada manusia lainnya melalui pergaulan ataupun interaksi sosial. Oleh karenanya manusia juga yang harus menjadi sasaran pencegahan bukan rokoknya. Sehingga menurut penulis, kelompok yang menjadi prioritas pencegahan adalah anak.

Upaya pencegahan perokok anak menjadi titik kritis dalam mengendalikan jumlah perokok di Indonesia. Jika pencegahan perokok pada usia anak gagal dilakukan maka dapat dipastikan jumlah perokok aktif di Indonesia juga akan semakin terus meningkat. Dengan demikian lembaga sekolah dan orang tua di rumah adalah garda paling depan dalam perang melawan rokok.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan pihak sekolah dan orang tua di rumah dalam mencegah terjadinya peningkatan perokok anak. Pertama, kawasan sekolah bebas atau tanpa asap rokok harus kembali ditegakan. Slogan kawasan bebas asap rokok sebenarnya sudah jauh hari digaungkan tetapi masih jauh dari kata berhasil. Slogan ini mengatur agar semua warga sekolah baik guru dan siswa dilarang merokok di lingkungan sekolah. Alasannya karena banyak warga sekolah yang terganggu asap rokok dan menjadi perokok pasif. Persinggungan antara guru yang juga merokok dengan slogan ini menimbulkan pergulatan tersendiri dalam menegakan aturan ini. Oleh sebab itu, selain larangan kepada siswa, sekolah perlu mengatur yaitu dengan memberikan ruang (gedung atau ruang terbuka) bagi kelompok guru perokok. Ruang harus didesain agar tidak menggganggu dan mempengaruhi orang yang bukan perokok (guru dan siswa).

Selain itu, upaya pencegahan lainnya seperti penyuluhan dari pihak kesehatan terkait perlu dilakukan. Penyuluhan dapat dilakukan dengan mengunjungi siswa di sekolah secara periodik pada waktu-waktu tertentu. Pencegahan dengan metode kunjungan seperti ini sudah dan sedang dilakukan dalam upaya untuk memerangi penyakit anemia. Secara angka hasilnya pun menggembirakan yaitu sebanyak 76,2 % siswa yang sudah terlayani (Kompas, 15/01/20). Oleh karena itu, metode penyuluhan seperti ini perlu dimodifikasi dan juga perlu diterapkan dalam menurunkan jumlah perokok anak.

Kedua, tugas orang tua di rumah tidak lagi hanya memastikan kebutuhan sandang, pangan dan papan anak terpenuhi tetapi tugas untuk mengedukasi anak tentang bahaya merokok. Virus korona yang masih mewabah dan mematikan ternyata merupakan sebuah fenomena paradoksal. Di satu sisi ia memberikan ancaman kematian tetapi di sisi lain ia memberikan banyak waktu kepada orang tua untuk lebih lama bersama anak di rumah. Selain mengawasi dan mengedukasi, waktu yang ada perlu dimaksimalkan orang tua untuk tidak melakukan aktivitas yang semakin mendekatkan anak dengan rokok. Aktivitas-aktivitas seperti merokok di depan anak, menyuruh anak membeli rokok dan aktivitas lainnya perlu dihindari.

Memang perlu kerja lintas sektor untuk perang terhadap perokok anak tetapi jika ini konsisten dilakukan maka upaya untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia dan asa mewujudkan anak-anak indonesia yang berkualitas dapat sekaligus terwujud. Semoga.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya