Dendam yang Dipupuk di Reruntuhan Puing

Dendam yang Dipupuk di Reruntuhan Puing 10/11/2023 241 view Budaya cnnindonesia

Rentetan tembakan di Gaza hingga kini terus menyala. Ribuan tubuh roboh, ambruk bersimbah darah. Mayat-mayat bergelimpangan. Terserak di sembarang tempat. Terhimpit di antara rerutuhan puing-puing dan bangunan.

Apa yang hendak didapat dari perang yang terlanjur digelar ini, kecuali kehancuran yang total dan keadaan rakyat yang kian rumit. Perang hanya menyisakah kecemasan yang membatin, luka yang mengarat, dan dendam yang kian menggumpal dalam dada.

“Tidak ada contoh negara yang diuntungkan dari perang yang berkepanjangan”, kata Sun Tzu (554 SM), panglima perang China yang kesohor, juga penulis buku The Art of War yang melegenda dari zaman ke zaman.

Bagi Sun Tzu, perang hanyalah kesia-siaan yang nyata, yang hadir di pelupuk mata kedua belah pihak. Para pelakunya harus melewati kengerian demi kengerian. Hidup mereka mencekam, penuh dengan teror dan horor, sebab nyawa kapan saja bisa hilang.

Dalam perang yang terlanjur digelar, apapun bentuk dan modelnya, apapun motif dan tujuannya, tak ada yang dimenangkan, tak ada yang diuntungkan. Yang didapat oleh mereka yang berseteru hanyalah kekalahan yang nyata, baik materi maupun non-materi.

Apa yang nampak dari kemenangan dalam sebuah pertempuran, tidak lain hanyalah kemenangan yang semu dan menipu. Merobohkan puluhan musuh dalam hitungan menit bahkan detik, tidaklah bisa dikatakan kemenangan yang hakiki. Sebab sebenarnya mereka sedang memupuk dendam di hati orang lain.

Saat para penduduk dari kalangan perempuan, manula dan anak-anak tak berdosa tewas tergelepar meregang nyawa. Boleh jadi bagi yang lain dianggap balas dendam yang tuntas. Tapi sesungguhnya mereka sedang memelihara kebengisan yang binal, yang disarangkan di dalam jiwa yang terdalam.

Kemenangan sejati adalah ketika musuh menyerah tanpa sebuah pertempuran, ketika ketegangan merenggang menjadi ketenteraman, ketika bara dendam padam dibasuh cinta dan kasih sayang. Kemenangan seperti itu tidak hanya milik satu pihak, tapi bisa juga dirasakan oleh kedua pihak.

Perang adalah nama lain dari diplomasi yang gagal. Fakta sebenarnya mereka tak mampu menciptakan tatanan dunia baru yang damai penuh persaudaraan. Untuk menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat tak perlu melewati desingan peluru atau harus menumpahkan darah manusia. Duduk bersama dalam satu meja dan mencita-citakan masa depan dunia yang lebih baik, jauh lebih bijaksana.

Perang Palestina dan Israel bukan perang yang baru saja terjadi, satu atau dua tahun belakangan. Tapi perang, yang dalam catatan sejarah, sudah tergelar dalam waktu yang cukup lama. Simon Sebag Montefiore dalam Jerusalem The Biography mengungkapkan, bahwa Palestina menyimpan banyak kisah tragis dari dulu hingga kini; perang, pemberontakan, pengkhianatan, intrik politik dan perebutan kekuasan.

Apa yang tersaji di Palestina saat ini sulit untuk diungkapkan. Nalar waras kita sulit menerima apa yang terjadi di sana. Lewat pemberitaan di sejumlah media kita disuguhkan aksi biadab yang dilakukan tentara Israel terhadap warga Palestina. Moralitas hilang. Nilai-nilai kemanusiaan tak berarti. Empati mati.

Siapa yang tega menyaksikan kengerian yang terjadi di Palestina, kecuali hati yang sakit, yang tak tersisa lagi empati walau setitik. Siapa yang tak pilu mendengar jerit tangis anak-anak yang kehilangan orang tua. Siapa yang tak pedih menyaksikan tumpukan mayat yang terkena tembakan dan terhimpit di reruntuhan gedung dan bangunan.

Kita hanya bisa menghela nafas dalam-dalam seraya berdoa kepada Sang Pengatur Segala Takdir, agar bangsa Palestina segera dibebaskan, dijauhkan dari selaksa penderitaan. Palestina adalah negeri para nabi, dengan kemuliaan dan karomah mereka, semoga kebebasan, kedamaian, keamanan, dan ketenteraman cepat jadi kenyataan.

Saya tidak bisa membayangkan bila Israel terus menggempur warga Gaza. Maka yang terjadi adalah penderitaan yang kian bertambah. Saya tidak bisa membayangkan nasib anak-anak Palestina, yang saat ini masa depannya dipertaruhkan oleh keputusan orang-orang dewasa untuk menggelar perang.

Perang yang disulut orang dewasa telah memakan korban anak-anak yang tak berdosa, yang tak tahu apa itu perang. Saya teringat dengan adik kecil bernama Maran, imigran dari Afghanistan yang saya temui di Ciputat. Perang telah membawanya tiba di Indonesia. Di sini dia tidak sendiri. Bersama imigran lain dari negara-negara konflik, dia meminta pelukan kasih.

Beginilah derita manusia bila negaranya dirundung perang berkepanjangan. Masa depan anak-anaknya dipertaruhkan semata-mata untuk ego orang-orang dewasa. Perang memang tidak pernah melahirkan apa-apa, kecuali kecemasan yang membatin. Korbannya selalu menggumpalkan dendam dalam dadanya. Dan dendam itu akan terus dipelihara di antara reruntuhan puing dan bangunan.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya