Lebih Dekat Dengan Hatta

Lebih Dekat Dengan Hatta 12/06/2022 47 view Lainnya Republika Online

Karangan ini secara khusus ditulis untuk menuangkan apa yang saya rasakan setelah membaca buku karya Sergius Susanto yang secara indah menuliskan alur kehidupan salah satu putra terbaik bangsa, Mohammad Hatta.

Hatta mashyur dengan kesederhaaan dan kecerdasannya. Lelaki berkacamata kelahiran 12 agustus 1902 di Bukit Tinggi, Kecamatan Aur Tajungkang, Sumatera Barat ini begitu mencintai buku. Dikisahkan saat ia harus dibuang ke Digul, terdapat setidaknya enam belas peti (ukuran seperempat meter kubik tiap petinya) yang kesemuanya berisi buku. Buku-buku itu akan terus dibawa Hatta kemanapun ia harus tinggal atau diasingkan ke pembuangan.

Semasa kecil, Hatta ingin menjadi seroang ulama. Beri ia lima pilihan, rendang, laut, buku, sekolah dan Mekkah, maka yang pertama dipilih Hatta adalah Mekkah. Namun itu hanyalah rencana, beliau pada akhirnya ditakdirkan untuk menjadi bapak proklamator Indonesia.

Betapa besar kecintaanya pada bangsa ini, hal ini dituangkan dalam buku tersebut, salah satunya bagaimana ia memperjuangkan agar nama indonesia dikenal dunia dengan mengikuti berbagai konferensi tingkat internasional di beberapa negara di Eropa. Saat ia berusia 22 tahun ia diangkat menjadi ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda. Sempat ia mengalami masa tahanan di Belanda selama beberapa bulan. Kejadian ini adalah kali pertama ia masuk penjara sebelum berbagai penahanan dan pengasingan yang menantinya di kemudian hari.

Apa yang ia minta saat di penjara kala itu? Tak lain tak bukan ialah buku. Baginya untuk menjaga kewarasan selama masa-masa tahanan, ia harus menyibukkan diri, dan membaca adalah hobinya. Ia minta dibawakan buku oleh salah seorang pengacara Belanda yang datang dengan suka rela ingin membantunya, karena merasa Hatta sedang diperlakukan tidak adil.

Ditahan di Belanda, di buang di Digul bersama sahabat dekatnya “Bung Kecil” yakni Soetan Sjahrir. Di Digul selama masa pembuangan ia menghasilkan sebuah buku yang di beri judul “Alam Pikiran Yunani”, buku ini pula yang nantinya menjadi maskawin dari Hatta untuk Rahmi, istrinya.

Hatta mengajarkan kita kesederhanaa, keteguhan prinsip, kedisiplinan, kesetiaan, rasa nasionalisme, dan banyak lagi. Saya mendapat banyak pelajaran tentang Hatta melalui buku ini. Seketika saya jatuh cinta dengan beliau. Tak ayal kadang ada beberapa paragraf dalam buku yang saya baca berulang kali.

Hatta sangat produktif dalam menulis, sejak muda ia selalui menulis, entah sudah berapa ratus karya tulis yang ia hasilkan. Sebuah sumber mengatakan ada hampir 800 karangan Mohammad Hatta, yang kemudian dibukukan. Belum lagi dengan buku-buku yang dihasilkannya selama masa pembuangan. Ah, pengasingan dan penjara memang tempat lahirnya karya-karya masterpiece, seketika saya teringat dengan Aidh Al-Qarni dengan bukunya “La Tahzan” yang juga lahir di penjara, atau Pramoedya Ananta Toer dengan tetralogi masterpiecenya hingga Marco Polo dengan “travel” nya. Tokoh-tokoh dahulu sungguh sangat bernilai. Maka, jangan ajari Hatta soal menulis, sebab dia ahlinya. Hatta memiliki pembawaan yang tenang dan tutur katanya yang jelas, menggambarkan ia seorang yang sangat karismatik dan berpendidikan. Susah menemukan orang seperti itu di masa sekarang. Dengan pandangan dan cakrawala yang luas, bagi saya ia bak buku berjalan.

Ia sangat menjujung tinggi kebenaran, sedih hatinya melihat pemerintahan yang mulai melenceng dan dipenuhi oleh orang-orang yang haus akan kekayaan dan kekuasaan. Ini pula lah yang menjadi salah satu alasan mengapa Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada tahun 1956 dan lebih memilih menjadi negarawan biasa. Bisa dikatakan ia lebih memilih “kemanusiaan” daripada “kedudukan”.

Ia habiskan waktunya untuk mengajar sebagai dosen di Universitas Gajah Mada, dan terus menelurkan karya-karyanya lewat tulisan. Adalah hal pelik bila ada satu orang yang mengutamakan kebenaran dan kejujuran, namun dikelilingi oleh mereka yang munafik dan curang, tentu yang seorang itu akan kalah. Dan sangat tak adil bila seorang itu terus mengalah di saat dia tahu apa yang dikerjakan oleh orang-orang sekitarnya adalah salah, bagaimana mungkin seorang harus terus-terusan memikul tanggung jawab moral orang lain?

Sejauh ini mungkin yang ada dalam bayang pembaca Hatta adalah pribadi yang “kaku”, namun tunggu dulu pada hakikatnya tokoh kita ini tidak selalu demikian. Jangan mengira bahwa Hatta tak memiliki sisi romantis. Mungkin sudah menjadi hal umum bahwa Hatta pernah bersumpah ia tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Ia merasa tak pantas merasakan kenikmatan pernikahan, di saat negerinya sedang di ujung tanduk. Dan benar adanya ucapan adalah do’a, Hatta menikah setelah tiga bulan Indonesia merdeka, di usianya yang sudah lebih dari empat puluh tahun. Ia dilamarkan oleh Soekarno, dengan seorang gadis Jawa bernama Rachmi. Itulah cinta hidup semati Hatta, ya hanya satu perempuan itu, yang memberinya tiga orang putri, Meutia, Gemala dan Halida. Tak hanya cerdas namun ia juga orang yang setia.

Sikap romantis Hatta dengan orang disayanginya mungkin tidak seperti orang-orang sekarang yang lebih megedepankan pada aspek-aspek material. Bagi Hatta hal romantisnya lebih seperti, apabila berada di dalam mobil entah itu ada acara keluar kota atau kedinasan dengan istrinya, maka ia akan memilih duduk di tempat yang terkena sinar matahari agar sang istri tidak kepanasan akibat sinar tersebut. Sederhana memang. Namun beginilah cara Hatta mengungkapkan kasih sayangnya.

Bila dilihat ke belakang, rata-rata orang yang berkarakter seperti Hatta yang sudah dasarnya sudah jatuh cinta dahulu dengan buku atau ilmu pengetahuan, jarang di antara mereka yang mau menikah. Misalnya saja Immanuel Kant, filsuf yang terkenal akan ke-relijiusan dan kecerdasannya ini tak pernah menikah seumur hidupnya. Tokoh besar lain seperti Sir Issac Newton atau Nikola Tesla mereka juga sama-sama tak menikah.

Bung Hatta, terlepas dari kecerdasan dan kesederhaannya, saya pikir ia tokoh yang unik. Ia seorang sosialis namun juga anti-komunis sebab ia tidak fanatik kiri. Ia seorang nasionalis tapi juga anti-fasis karena ia tidak fanatik kanan. Cakrawala dan pandangannya luas bak buku berjalan. Cita-citanya luhur, ingin memberikan pendidikan bagi bangsanya. Bila Soekarno bilang merdeka dulu baru belajar , maka Hatta akan mengatakan belajar dulu, lalu merdeka. Semuanya butuh taktik, bukan hanya sekedar agitasi. Salam hormat untukmu Bung!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya