Crazy Rich, Flexing dan Dikotomi Sosial

Mahasiswa, kolomnis
Crazy Rich, Flexing dan Dikotomi Sosial 27/03/2022 345 view Lainnya banjirembun.com

Sepanjang hari-hari ini, pelbagai media massa gencar memberitakan penangkapan beberapa selebritis-pengusaha muda. Ditengarai, penangkapan ini terkait dengan tindak penipuan dan pencucian uang yang mereka lakukan. Dengan modus money game, banyak orang berhasil ditipu, milyaran uang berhasil diraup. Umpatan kecewa, sedih, dan marah seakan menyatu dalam diri para korban. Uang jutaan hingga ratusan rupiah telah raib dan hilang, menyisakan bayang-bayang himpitan utang dan tunggakan. Pertanyaan dasar yang mendesak dan relevan untuk dijawab adalah mengapa banyak orang mudah masuk dalam lingkaran setan penipuan semacam ini?

Media sosial merupakan arena bermain dari para selebritis dan pengusaha. Melalui media sosial, mereka berusaha mengaktualisasikan dirinya, mencari panggung agar dikenal publik. Beragam cara dilakukan demi melegitimasi tujuan ini. Salah satunya adalah dengan melancarkan tindakan flexing. Secara sederhana flexing merupakan kegiatan memamerkan kekayaan. Konkretiasinya tampak dalam usaha pamer kekayaan di media sosial. Di sisi lain flexing juga dilakukan secara implisit melalui pamer kegiatan bagi-bagi kekayaan dengan teman, kerabat, atau juga orang tak dikenal.

Masifikasi penyebaran informasi di media sosial memudahkan para selebritis untuk mempublikasikan aksi flexingnya. Dengan jumlah followers dan subsriber yang mencapai jutaan, mereka dapat dengan mudah menjadi influencer bagi khalayak media sosial. Alhasil, tindakan flexing ini pun memperoleh umpan balik dari masyarakat. Masyarakat kemudian memberi julukan para pelaku flexing dengan istilah sultan atau crazy rich, dua istilah yang populer akhir-akhir ini.

Ada rasa sukacita, bangga, (mungkin juga angkuh) apabila seseorang berpredikat sultan atau crazy rich. Kegandurungan akan pengggunaan istilah ini di media sosial kemudian menarik banyak orang untuk turut memperolehnya. Apalagi potret perhiasan, kendaraan, rumah yang serba mewah yang diproduksi melalui media sosial (tindakan flexing) secara simultan juga menjadi magnet bagi khalayak. Konsumerisme dan hedonisme para crazy rich berhasil menyilaukan mata para korban. Kalimat-kalimat sloganistis-persuasif yang selalu mereka gemakan dalam setiap kontennya –misalnya kaya sambil rebahan atau memetik cuan dengan instan-, seakan mempunyai daya magis untuk menarik orang untuk turut terjun dalam kubangan permainan mereka.

Secara sosial-ekonomi, kondisi ini diperparah dengan situasi pandemi yang melumpuhkan perekonomian dan memasung daya juang masyarakat untuk berinvestasi. Dalam situasi pandemi, logika ekonomis untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya menjadi sangat relevan bagi masyarakat. alhasil, dalam situasi yang sedemikian kalut, masyarakat dapat dengan mudah digiring pada jebakan penipuan dan pemerasan. Tanpa menjaga logika dan sikap hati-hati, masyarakat dapat dengan mudah menjadi korban.

Secara sederhana, dikotomi sosial merupakan istilah yang merujuk pada partisi atau pembagian dari keseluruhan. Istilah ini terkait erat dengan model stratifikasi sosial dalam masyarakat. Dalam sosiologi dan semiontika, situasi dikotomi sosial menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan disintegrasi dan ketakselarasan dan tatanan sosial masyarakat.

Tanpa sadar, sepanjang hari-hari ini pun kita justru hidup dalam situasi dikotomi sosial. Kian hari, media sosial begitu gamblang mempertontonkan dikotomi sosial. Secara linguistik, media sosial kian masif memproduksi istilah sultan dan melarat. Selain itu, media sosial, melalui kanal-kanal media para selebritis-pengusaha, juga aktif mempertontonkan aksi heroik para crazy rich ketika beramal kepada orang-orang kecil. Segala kegiatan pemberian, baik melalui game show, prank, sampai pemberian aksidental tak luput dari sorotan kamera.

Kedua hal ini kian menegaskan dikotomi sosial antara orang kaya dan orang miskin. Seolah-olah ada jurang pemisah yang membatasi relasi interpersonal antara keduanya. Sosiolog, Robertus Robet berpendapat bahwa semua bentuk bantuan pada dasarnya bekerja di bawah logika “saya membantu kamu justru supaya kamu sadar bahwa saya lebih berkuasa dibanding kamu". Logika ini berfungsi mempertahankan distansi dan pastisi sosial: si miskin =/ dengan si kaya. (Tempo, 07/02/2021).

Dikotomi sosial ini membuat khalayak berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan -bahkan dengan cara yang instan- guna memperoleh tempat sebagai si kaya. Alhasil, akumulasi dari semua faktor itu pada akhirnya menggiring khalayak kepada kubangan kebohongan dan penipuan.
Menyikapi persoalan ini, sikap menjaga logika serta kewaspadaan agar tidak mudah hanyut dalam argumen sloganistis-pencitraan merupakan langkah preventif yang perlu senantiasa ditingkatkan. Literasi pun tak kalah penting. Digitalisasi hendaknya diimbangi dengan sikap melek literasi. Apabila miskin litersi keuangan misalnya, dapat membuat kita dengan mudah digiring pada kubangan investasi bodong dan pembodohan berlapis-lapis.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya