Terorisme dan Gelora Ephitumia

Mahasiswa Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero
Terorisme dan Gelora Ephitumia 18/11/2019 2044 view Opini Mingguan pxhere.com

Beberapa waktu belakangan ini, publik kembali digegerkan dengan aksi bom bunuh diri di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Medan, Sumatera Utara pada Rabu, 13 November 2019 lalu. Dalam penyelidikan sementara pihak kepolisiaan, peristiwa tersebut bermula saat pelaku berhasil masuk ke area ‘dalam’ setelah lolos dari pemeriksaan petugas di pintu masuk Markas Polrestabes Medan (kompas.com, diakses pada 15 November 2019).

Pelaku yang ketika itu mengenakan jaket ojek online berhasil melewati pemeriksaan dengan melilitkan bom di pinggang. Alhasil, tepatnya beberapa menit sesudah petugas kepolisian menggelar apel bersama pukul 08.00 WIB, pelaku meledakan diri di sekitar halaman kantor operasional Markas Polrestabes Medan.

Jika dirunut lebih jauh, kita dapat memaklumkan betapa kasus bom bunuh diri sudah menjadi barang laku di Indonesia. Hal ini disadari mengingat terorisme dengan motif bunuh diri sudah marak terjadi. Kasus terorisme dengan tipikal bom bunuh dapat terlihat dalam kasus serangan bom Bali I, Bom Kedubbes Autralia, Bom Bali II, Bom JW Marriot dan Ritz Carlton 17 Juli 2009, BOM Masjid Az-Dzikra Cirebon, Bom Sarinah, Bom Mapolresta Solo, maupun Bom Surabaya dan Sidoarjo.

Harus diakui, kasus terorisme di Indonesia sudah menjadi problem akut yang mengandung konsekuensi serius. Di tengah faktum pluralitas, seorang teroris hadir dan berani mewartakan kebenaran parsialnya seraya memaklumlan itu sebagai sesuatu yang bersifat mutlak. Ia yang pada mulanya ‘direcoki’ dan dibius dengan sejumlah doktrin radikal lantas dengan lantang menerobos masuk ke dalam bingkai demokrasi sambil menebarkan narasi ‘suci’ yang diilhaminya.

Seorang teroris menganggap doktrin keagamaan yang dianutnya sebagai sesuatu yang suci dan karena itu ia merasa pantas menegasi the others sebab mereka tidak selaras dengan keyakinannya. Dengan demikian, seorang teoris adalah seorang pengidap ideologi radikal-totaliter semu.

Di dalam kawasan ini, menurut Hannah Arendt, seorang pemuja diilhami seperangkat gagasan dunia fantasi atau sistem tertutup yang tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan realitas (bdk. Keladu Koten, 2018). Dengan itu, seorang teroris tidak lain berpredikat sebagai budak ideologis yang diindoktrinasi dengan seperangkat gagasan palsu. Ia dikondisikan untuk bersikap tiranik-hegemonik dengan memaksa klaim kebenaran absolutnya dalam dunia nyata. Dunia riil didominasi dan dipaksa untuk menyeragamkan paradigama dan keyakinan dengan fantasi suci seorang teroris.

Gawatnya di dalam ideologi, agama, maupun keyakinan yang dianut, seorang teroris melupakan pengalaman konkret kemanusiaan. Kesadarannya akan cita rasa kemanusiaan, perasaaan solidaritas terhadap sesama, toleransi akan keberagaman, dan saling pengertian justru diformat secara total dengan seperangkat ilusi kematian suci.

Seorang yang mati dalam keadaan suci adalah seorang yang dengan gagah mengorbankan dan membasmi yang lain yang dianggap sebagai ‘iblis’. Pikirannya dibonsai dengan sejumlah janji eskatologis bahwa surga yang diyakininya adalah surga yang ditempuh dengan jalan menghabiskan nyawa sendiri dan orang lain.

Karena itu, sabda Karl Marx dalam konteks ini benar. Bahwasannya agama adalah perwujudan fantastis dari hakikat manusia selama ia belum menemukan penggenapnnya dalam kenyataan. Ia adalah jantung dari dunia yang tak punya hati dan jiwa dari keadaan tak berjiwa (bdk. Martin Suryajana, 2016:31). Dengan demikian, agama yang dianut seorang teroris adalah agama yang menyediakan imajinasi palsu tentang yang transeden yang dapat dijangkau dengan membunuh kemanusiaan.

Agama demikian adalah agama ilusif yang sadistik, yang tak punya hati dan jiwa, sebab ia menyediakan corak peribadatan dengan jalan menuntut pemuja untuk mencela, menghujat, dan membasmi mereka yang berada di luar lingkaran keyakinan. Karena itu, seorang teroris beribadah dengan jalan mengorbankan diri: mati bersama mereka yang dianggap sebagai musuh.

Selain karena dikondisikan dengan seperangkat ideologi radikal, ada baiknya kita juga mesti memahami terorisme dalam kaitannya dengan Epithumia. Sebagaimana plato, epithumia sesungguhnya adalah bagian jiwa manusia yang terletak pada bagian perut ke bawah dan dinyatakan sebagai segala sesuatu yang berkenaan hasrat atau nafsu manusia. Epithumia digambarkan seperti monster berkepala banyak, yang masing-masing mencari kepuasaannya sendiri-sendiri. Monster ini tak pernah bisa mati, satu kepala diputus, tumbuh kepala lain lagi (Wibowo, 2017:28).

Epithumia tidak lain merupakan gambaran manusia akan hasrat atau keinginan manusia akan segala sesuatu. Hasrat itu tidak pernah berhenti ataupun tidak pernah mau untuk dibatasi. Jika konsep mengenai epithumia dibaca dalam kaitannya dengan kasus terorisme belakangan ini, maka kita dapat memaklumkan bahwa selain karena diindoktrinasi dengan seperangkat kebahagiaan eskatologis, terorisme juga dimungkinkan dengan kondisi ‘jiwa’ eptihumia.

Seorang melakukan terorisme justru karena terkondisi dengan hasratnya untuk menguasai, menyingkirkan atau membasmi yang lain. Terorisme dimungkinkan, karena sang aktor digandrungi epithumia yakni sejenis ‘monster’ yang menggerakan pelaku untuk mengorbankan diri sembari membasmi yang lain. Seorang teroris yang disesaki epithumia adalah seorang yang menyingkirkan nous (akal) dan mematikan imajinasi: sebuah kemampuan untuk berdistansiasi (mengambil jarak) dari kenyataan dengan tujuan untuk memahami dan merefleksikan keadaan.

Seorang yang digandrungi hasrat yang ganas (ephitumia) akan cenderung mengarah pada problem pengabaian identitas yang lain. Sebagaimana, Amartya Sen, problem pengabaian identitas terlihat ketika seorang menihilkan atau menegasikan identitas pengikat dengan yang lain (Sen, 2006:27). Dalam konteks ini, seorang teroris yang mengalami defisit refleksi serentak dibanjiri hasrat menguasai akan cenderung akan mengabaikan identitas bersama yang mengikat keberbedaaannya, semisal identitas sebagai warga Negara Indonesia.

Malahan pengabaian akan identitas bersama ini justru memungkinkan seorang teroris mengobjektifikasi yang lain. Yang lain dijadikan sebagai objek diskursus, sentral kajian, dan dasar persepsi pelaku terorisme. Seorang teroris yang digandrungi hasrat yang kian bergejolak, akan menyingkirkan kemurnian nalar, mengakibatkan pengabaian identitas bersama, dan karenanya ia mempresepsi, mengobjektifikasi dan mereduksi yang lain sebagai pembawa masalah. Yang dipahami sebagai advocates diaboli kemapanan subjek dan karena itu mereka layak dibunuh, diberantas, dan dimusnahkan melalui serangkaian ibadah bom bunuh diri.

Di tengah eskalasi persoalan bom bunuh diri belakangan ini, ada beberapa point reflektif yang dapat dipetik. Pertama, negara mesti membumikan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus dasar pengikat identitas yang berbeda. Pembumian pancasila dilakukan dengan mengupayakan radikalisasi pendidikan pancasila di dalam lingkup pendidikan negeri maupun pendidikan religius. Proses pengajaran dan pemahaman pancasila tidak dilakukan secara monologal yang mana seorang pendidik membanjiri peserta didik dengan seperangkat pengetahuan tentang pancasila, melainkan proses pengajaran dan pemahaman pancasila itu dilakukan secara dialogal.

Dalam hal ini, seorang pendidik dan pengajar semestinya membangun iklim dialektis dengan memperbincangkan secara bersama nilai adiluhung pancasila. Nilai-nilai pancasila dijabarkan, dipahami, dan coba diafiliasi dengan isu-isu aktual. Dengan begitu seorang peserta didik tidak sekadar tahu mengenai keutamaan pancasila, tetapi ia juga memahami bagaimana pancasila itu dikontekstualisasi dan dipahami dalam kaitannya dengan isu-isu aktual (terorisme).

Kedua, perkara terorisme dapat ditanggulangi ketika agama-agama bergerak dari ortodoksi menuju ortopraksis. Itu berarti agama-agama semestinya tidak lagi membebani umatnya dengan dogmatisme religius ataupun pengajaran yang muluk-muluk. Agama semestinya mengarahkan pengikutnya untuk menunjukan ketakwaan iman yang nampak dalam upayanya membela kemanusiaan universal.

Terorisme dan benih-benih radikal dibentengi dengan geliat agama untuk bergerak dari keluhuran menuju mereka yang miskin, ditindas, ataupun dikucilkan. Hemat penulis, sangat boleh jadi agama yang terlalu menitikberatkan dogma keagaamaan adalah agama yang melahirkan benih para teroris, sebab disana para penganut merasa asing di hadapan kemanusiaan.

Ketiga, agama-agama di Indonesia semestinya mengedepankan inklusivitas bersama agama-agama lain. Sikap keterbukaan diyakini sebagai langkah yang pas agar masing-masing agama menghindari kecurigaan antara satu sama lain. Dalam nuansa keterbukaan itu, masing-masing agama semestinya berdiri di atas fundasi cinta yang universal.

Cinta yang universal adalah cinta yang meretas batas-batas kategorial dan yang memungkinkan terciptanya kebahagian bersama antar-agama-agama. Melalui perasaan cinta yang universal, masing-masing agama bersatu sembari memikirkan langkah yang pas bagaimana semestinya terorisme ditanggulangi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya