Meniti Jalan Menggapai Keluasan: Sebuah Renungan Pendidikan

Guru di MI Al-Muhajirien Kota Bekasi
Meniti Jalan Menggapai Keluasan: Sebuah Renungan Pendidikan 02/05/2020 508 view Pendidikan Piqsels.com

Mari sejenak kita geser fokus pandangan dan pikiran kira dari persoalan coronavirus yang telah mengambil amat banyak energi kita berapa bulan belakangan. Sebagai organisme yang bebas, saya merasa perlu memerdekakan pikiran dengan beristirahat sejenak dan keluar dari perasaan terbelenggu sepanjang waktu oleh diskusi seputar wabah dengan melakukan pembacaan yang berlainan. Namun meski begitu, ajakan saya ini masih memiliki korelasi konseptual terhadap fenomena coronavirus, khususnya yang berkaitan dengan proses pemecahan masalah.

Anggaplah melalui tulisan ini saya mencoba untuk mengajak para pembaca melakukan rekreasi pikiran. Dan saya cukup percaya untuk meyakinkan para pembaca, bahwa rekreasi yang saya tawarkan ini bukan pembahasan tanpa visi yang mengasyikkan, sekurangnya bagi orang yang peduli terhadap diskursus pendidikan dan cita-cita manusia—suatu narasi purba dalam sejarah manusia yang memiiliki daya dorong misterius.

Artikel sederhana ini bermula dari lamunan saya beberapa tahun lalu, yang dalam lamunan itu saya bertanya: “Mau jadi apa saya?” Pertanyaan umum yang pernah menghinggapi sebagian besar orang di planet bumi ini juga saya ajukan kepada beberapa anak dalam sebuah kegiatan belajar tidak resmi di satu rumah belajar di sudut Kota Bekasi.

Sama seperti saya, dari sebagian besar anak yang saya tanya, mereka merasa tidak cukup hanya menyebutkan satu jenis cita-cita yang mereka impikan. Rata-rata anak memilih dua hingga tiga jenis profesi yang menurut mereka layak untuk diidamkan. “Saya ingin menjadi dokter, tentara, dan guru,” kata salah seorang anak.

Namun di dunia yang menuntut spesialisasi tingkat tinggi ini, memiliki banyak cita-cita seperti anak-anak di atas bukanlah tindakan yang dibenarkan. Untuk mencapai sukses, seseorang perlu menentukan satu tujuan, kemudian fokus pada hal tersebut, hingga mencapai satu titik tertentu sebagai seorang hyperspecialist dalam bidang tersebut.

Spesialisasi ekstrem menuntut kita untuk menentukan satu bidang yang spesifik, lalu fokuslah! Kita tidak dibenarkan memiliki cita-cita yang terlalu umum, misalnya menjadi seorang guru. Dalam dunia profesi kita yang terspesialisasi ini, kita perlu menjelaskan secara terfokus: guru dalam bidang apa yang kita maksud itu; apakah menjadi guru olahraga, guru kesenian, guru matematika, atau guru sekolah dasar?

Sebagai organisme yang berorientasi pada kebermanfaatan, kita tentu mengajukan pertanyaan: seberapa besarkah manfaat dari spesialisasi itu bagi kemanusiaan kita? Apakah menguasai banyak bidang keahlian—meski tidak mencapai derajat hyperspecialist—adalah suatu kesalahan dan merupakan tindakan yang tidak tepat guna?

Saya mengajukan pertanyaan tersebut, karena terpengaruh secara pribadi oleh tokoh multidisiplin seperti Ibnu Sina (lihat Syamsuddin Arif, 2013), dan Isaac Newton (lihat Michael H. Hart, 1983). Kedua tokoh besar itu merupakan beberapa contoh dari sekian banyak ilmuwan dan penemu yang berkiprah di beberapa bidang kelimuan sekaligus.

Manusia: Lahir sebagai Spesialis Atau Multidisiplin?

Kalau tokoh-tokoh besar di atas dan banyak lagi yang lainnya merupakan orang dengan multidisiplin, atau orang dengan keluasan bidang, mengapa dunia kita saat ini—termasuk dunia pendidikan—seakan terbelenggu pada paradigma spesialisasi bidang yang amat ketat? Apakah spesialisasi dengan begitu menyatakan bahwa pada dasarnya manusia memang terlahir sebagai seorang spesialis?

Terdapat beberapa bukti yang dapat menolak pernyatan bahwa manusia merupakan organisme spesialis sejak lahir. Dan, yang cukup populer adalah bukti yang dikemukakan oleh Howard Gardner menjelang akhir abad ke-20, yang kemudian dikenal sebagai teori kecerdasan majemuk. Meskipun pada perkembangannya secara pragmatis dikatakan bahwa dari kemajemukan tersebut terdapat jenis kecerdasan yang dominan dari tiap-tiap individu, namun hal tersebut cukup untuk menegaskan bahwa manusia tidak terlahir sebagai seorang dengan spesialisasi tunggal. Sejak lahir, kita telah dilengkapi dengan sekurangnya tujuh kecerdasan dasar yang potensial (Julia Jasmine, 2016)

Di samping itu, otak manusia pun rupanya tidak diciptakan dengan fungsi tunggal. Otak yang terbagi ke dalam dua bagian besar, yakni bagian kanan dan bagian kiri, memiliki kecenderungan serta fungsi yang beragam. Fungsi bagian otak kanan cenderung berkenaan pada hal-hal yang bersifat holistik, musikal, intuitif dan impulsif; sementara bagian kiri cenderung pada kegiatan yang bersifat logis, analitik, dan verbal.

Meskipun masing-masing belahan otak memiliki kecenderungan yang berbeda secara fungsi, namun itu semua tidak menunjukkan dominasi yang satu atas yang lain. Kedua belah otak, memiliki fungsi kesatuan yang seimbang (Atkinson, dkk., 1983).

Pola Belajar Terspesialisasi Menghadapi Masalah yang Kerap Datang dengan Kompleksitas

Salah satu fungsi dari kecerdasan manusia adalah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Melalui masalah, manusia dipaksa untuk berpikir, dan akan selalu menggunakan pengetahuan dan pengalamannya sebagai peta untuk menemukan pintu keluar. Namun, kerap kali masalah datang dengan kompleksitas yang tinggi, sehingga memaksa manusia untuk membuka beragam pintu untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Dalam menghadapi masalah yang kompleks seperti itu, pola belajar yang terspesialisasi telah kehilangan relevansinya.

David Epstein di dalam bukunya yang terkenal, Range, mengutip beberapa hasil penelitian serta sejumlah studi kasus untuk menunjukkan bahwa pengalaman dan pengetahuan yang digali dengan pola belajar terspesialisasi kerap tidak banyak membantu untuk memecahkan masalah yang kompleks—dan masalah memang lebih sering wujud seperti itu, sebagaimana yang kita hadapi saat ini: pandemi coronavirus.

Untuk masalah-masalah yang kompleks dengan pola-pola penyelesaiannya yang acak, dibutuhkan sudut pandang yang luas dan multidisiplin—bahkan kerap kali tidak biasa, dan hal tersebut mustahil diperoleh melalui pola yang dibentuk oleh pola belajar terspesialisasi (David Epstein, 2020).

Dan dari sisi pragmatis, abad teknologi komunikasi pun sepertinya menuntut keluasan itu dari manusia. Revolusi teknologi informasi telah menyebabkan disrupsi yang amat dinamis, sehingga membuat pasar kerja kerap berubah dengan tidak menentu.

Kondisi-kondisi seperti itu bukan saja menuntut manusia untuk memiliki keahlian tingkat tinggi, tetapi juga menuntut manusia agar selalu siap menyediakan alternatif-alternatif keahlian di berbagai bidang. Kita tidak pernah tahu robot pintar jenis apa yang kelak akan menggantikan pekerjaan kita di bidang yang kita geluti hari ini (Yuval Noah Harari, 2018).

Hidup: Upaya Meniti Jalan Menggapai Keluasan

Di bagian akhir dari rekreasi pikiran ini, kita akhirnya bisa memahami mengapa anak-anak merasa tidak cukup untuk memilih satu cita-cita dalam hidupnya. Sebab, pada dasarnya kapasitas mereka sejak lahir memang potensial untuk memijaki dunia yang multidisiplin ini. Dan, nampaknya hal tersebut memang telah didesain oleh Sang Pencipta agar manusia dapat menjawab tantangan-tantangan hidup di dunia nyata yang lebih sering datang dengan begitu kompleks.

Tetapi di hadapan dunia profesional kita dewasa ini, anak-anak itu seakan tidak diizinkan untuk mengepakkan sayap dan menjelajah seluas-luasnya. Ketika sayap-sayap kecil itu memasuki ruang publik bernama lembaga pendidikan, paradigma hiperspesialitas dengan beragam bentuknya telah menganga seperti mulut-mulut gunting yang siap untuk memotong sayap-sayap kecil itu agar sesuai dengan tuntutan bidang keahlian.

Hal tersebut akan terus menjadi sebuah ironi, selama ruang-ruang publik kita—termasuk lembaga pendidikan dan lembaga profesional lainnya—masih melihat manusia sebagai organisme dengan potensi tunggal, dan terjebak dalam paradigma pengkhususan bidang secara ekstrem. Kita perlu kembali ke penafsiran bahwa manusia adalah organisme yang multiple sejak kelahirannya, dan bahwa kehidupan adalah upaya meniti jalan untuk menggapai keluasan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya