Ayolah, Jangan Berbuat Baik Supaya Masuk Surga

Mahasiswa
Ayolah, Jangan Berbuat Baik Supaya Masuk Surga 06/12/2019 1496 view Agama WWW.cathnewsindonesian.com

Apa itu surga? Jawabannya amat subjektif. Bagi suku Afrika yang sedang krisis air, hujan adalah surga. Bagi Romeo, Juliete adalah surga. Dan bagi adik saya surga itu saat dia “Booyah” dan killed 30-an orang saat main Freefire. Freefire, bukan PUBG karena handphone-nya Samsung J2 Prime yang kapasitas memori internalnya tidak mencukupi untuk PUBG yang berkapasitas 2,5 GB itu. Adik saya pernah minta uang di Papa dan Mama untuk dibelikan hand phone baru, namun mereka bilang mau bayar uang BPJS yang sudah naik. Naik untuk apa sih iuran BPJS itu? Demikian keluhan adik saya. Sudahlah, keluhan “sampah” seperti itu pasti tidak layak untuk telinga-telinga kaum kerajaan di Istana, Istana darah dan tulang.

Saya heran dan takjub ketika adik saya dan orang-orang lainnya bisa memberikan jawaban seperti apa surga itu. Karena mereka hebat bisa tahu mempersonifikasikan surga. Seolah-olah mereka pernah mati lalu masuk surga kemudian mereka hidup kembali, sehingga mereka bisa tau surga itu seperti apa. Tapi saya yakin adik saya mendengar surga dan segala keindahan dari cerita om dan tante yang taat beragama. Sama saja bagi saya, para pemimpin agama yang mengajarkan tentang surga tidak pernah mati kok, dan mereka tidak pernah masuk surga. Tapi sudahlah namanya juga iman dan keyakinan. Bagi saya hal itu sudah final dan tidak perlu diperbedatkan. Dengan iman dan keyakinan itu juga mereka berlomba-lomba untuk berbuat baik karena tiket untuk masuk surga adalah berbuat kebaikan sebanyak-banyak.

Saya kadang berpikir, kenapa kita harus berbuat baik agar dapat tiket ke surga? Saya bingung. Bagaimana kalau kita berbuat baik saja tanpa harus punya motivasi untuk masuk surga? Apakah bisa? Saya kadang mencari jawaban dari mereka yang dianggap “para penggejar kebijaksaan”. Mereka itu semisal Aristoteles, Plato, Socrates, dan lain sebagainya. Tapi saya belum menemukan jawabannya yang memuaskan.

Lagipula bacaan dan pemikiran “para pencari kebijaksanaan” seperti itu di negeri ini dianggap hanya membuang-buang waktu saja. Lebih baik bekerja daripada membuang waktu membaca buku dan refrensi dengan bahasanya yang rumit itu. Tapi saya pribadi semakin sering saya membaca buku-buku filsafat seperti itu saya menjadi terbiasa, apalagi kalau ditemani kopi dan sebatang rokok. Aduh rasanya nikmat. Atau ikut-ikutan adik saya, rasanya seperti surga. walaupun saya tidak pernah tau surga itu seperti apa. Tapi percaya saja, cukup percaya. Karena mereka bilang iman itu seperti percaya habis-habisan.

Saya pernah nonton di Youtube, khotbah dan ceramah para pemimpin agama atau lain sebagainya yang berkecimpung atas nama agama. Mereka katakan jika kita berbuat baik dalam hidup, kita akan mendapatkan pahala di surga. Wah, menarik sekali sudah masuk surga dapat pahala lagi. Mungkin rasanya seperti tiba-tiba dapat uang satu Miliyar dan paketan internet 100 GB.

Betapa bahagianya jika adik saya kalau dapat paketan sebanyak itu, dia bisa main Freefire sampe puas. Tapi kayanya sama saja karena di daerah kami jaringan masih susah, untuk dapat 3G saja masih susah apalagi untuk dapat jaringan 4G. kok bisa ya? Mereka yang tinggal di kota jaringan internetnya bagus sedangkan kami di desa masih susah. Mungkin itu perwujudan sila ke-5 Pancasila, “Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Versi keadilan yang aneh. Sangat jauh berbeda dengan yang dikatakan oleh John Rawls dalam Theory of Justice.

Saya orangnya bisa dibilang punya rasa solidaritas yang tinggi, iya lumayan tinggi, atau mungkin pas-pasan. Sehingga saya merasa terpanggil untuk berbisik kepada mereka yang berbuat baik supaya bisa masuk surga. Ingin rasanya saya bertanya kepada mereka yang berceramah tentang hal itu, bagaimana kalau surga itu tidak ada?

Saya cuma takut teman-teman saya yang punya kepercayaan akan hal itu merasa tersakiti karena PHP, Pemberi Harapan Palsu. Saya sering berbicara kepada teman-teman saya untuk cukup berbuat baik saja satu sama lain, tidak usah berpikir untuk masuk surga.

Bagi saya hal itu amat naif. Kita berbuat baik demi masuk surga dan takut berbuat buruk supaya tidak masuk neraka. Bagaimana kalau surga dan neraka itu tidak ada? Kan rasanya seperti di-PHP. Bagi saya tanpa ada surga dan neraka pun kita mesti berbuat baik.

Kemanusiaan kita sudah cukup menjadi alasan yang kuat dan kemanusiaan itu niscaya dalam diri setiap orang. Jadi tidak akan ada yang dikecewakan karena PHP. Oh iya, salah satu dari “para pencari kebijaksanaan”, namanya Aristoteles mengatakan manusia itu binatang yang berakal budi. Ketika akal budinya tumpul dia tidak bedanya dengan binatang. Kebaikan atau perbuatan baik itu adalah bentuk konkret dari akal budi. Logikanya kalau kita tidak berbuat baik kita tidak ada bedanya dengan binatang. Percayalah saya tidak mau disamakan dengan ular piton atau nyamuk.

Alasan lain mengapa kita tidak boleh berbuat baik untuk masuk surga adalah karena itu termasuk pemikiran instrumental. Dalam relasi dengan sesama, ada unsur subjek dan objek. Kita sering kali melihat orang lain sebagai objek. Idealnya karena alasan kemanusiaan kita harus melihat sesama sebagai subjek-subjek, bukannya subjek-objek. Dengan mengartikan orang lain sebagai objek maka kita memiliki kehendak untuk menggunakannya sebagai alat atau sarana untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Dengan berbuat dengan alasan untuk masuk surga kita menganggap orang lain sebagai objek atau alat supaya kita dapat masuk surga. Dengan kata lain kita menginstrumentalisasikan orang lain. Berbeda dengn relasi subjek-subjek, kita melihat yang lain sebagai diri kita sendiri. Kita berbuat baik kepada orang lain sebagaimana kita berbuat kebaikan untuk diri kita sendiri. Atau kita melihat yang lain sebagai “aku yang lain”, bukannya sebagai instrumen belaka.

Dalam realitas, relasi demikian seringkali banyak ditemui. Relasi antara pemerintah dan masyarakat tidak lebih dari subjek-objek. Program-program pemerintah jadinya tidak lebih dari kepentingan atau interese pribadi bukannya demi kemakmuran rakyat. Bahaya relasi demikian ada baiknya dimulai dari mindset pribadi yang memandang perbuatan baik sebagai suatu keniscayaan, bukan karena alasan untuk masuk surga atau karena alasan lain tapi demi kabaikan in se, kebaikan pada dirinya sendiri.

Begitu pula dalam hidup keagamaan, hal yang amat tendensius dalam agama adalah logosentrisme atau dalam istilah Jean-Francois Lyotard disebut metanarasi. Dalam agama ada banyak doktrin dan diktum yang secara eksplisit menampilkan logosentrisme, kebenaran mutlak di balik ajaran-ajaran religius. Namun, jika dicermarti secara lebih dalam hal demikian amat membuat manusia menjadi lupa akan hal-hal mininarasi, hal-hal substansial yang anti identitas metanarasi.

Untuk dalam setiap ajaran agama perlu ada dekonstruksi. Dekonstruksi pertama kali diperkenalkan oleh Jaques Derrida dalam seni hermeneutisnya melawan kecendrungan logosentrisme. Hal ini bukan terutama untuk melawan ajaran-ajaran religius tetapi dengan maksud untuk menyepurnakannya.

Dekonstruksi mencoba melihat hal-hal kecil yang seringkali dilupakan dan tertutup oleh identitas. Seperti dalam ajaran berbuat baik untuk masuk surga, ada kemanusiaan yang dilupakan. Surga menjadi tujuan semata dan oleh karena itu manusia hanya sebagai sarana bagi manusia lain untuk mencapai surga. Jika didekonstruksi secara hermeneutis, kebaikam seharusnya tidak perlu memandang “langit” dan terarah pada bumi di mana realitas kemanusiaan itu ada. Surga serentak mengandaikan adanya bumi dan neraka. Begitu pula divinitas atau keillahian serentak mengandaikan adanya humanitas atau kemanusiaan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya