Membangun Sistem Pemilu Yang Ramah Lingkungan, untuk Siapa ?

Pengamat Sosial
Membangun Sistem Pemilu Yang Ramah Lingkungan, untuk Siapa ? 23/09/2022 506 view Politik Pixabay

Demokrasi sangat identik dengan kebebasan, kesetaraan, dan partisipasi yang terbuka tanpa pengecualian. Menjalankan demokrasi sama halnya menyelenggarakan kekuasaan tertinggi yang meletakkan otoritas itu ditangan rakyat. Oleh karena itu apapun kebijakan ataupun produk hukum yang dihadirkan di tengah-tengah masyarakat oleh pemerintah ataupun dari wakil rakyat, implikasinya diharuskan demi kepentingan rakyat bukan demi kepentingan individu atau kelompok yang lebih elitis.

Oleh karena itu sangat penting partisipasi masyarakat pemilih dalam berdemokrasi. Ini sebagai bentuk pilar terdepan untuk melanjutkan perjuangan bangsa Indonesia ke depannya. Esensi berdemokrasi sebagai wujud nyata memainkan peran partisipasi politik dalam hal perbaikan sistem pemerintahan suatu negara. Agar demokrasi berjalan aman dan damai, maka sudah saatnya masyarakat berperan aktif dalam berbagai sendi kehidupan negara di bidangnya masing-masing.

Keaktifan masyarakat tersebut yang sebetulnya menjadi kontrol kuat dalam pelaksanaan demokrasi yang kemudian melahirkan sistem pemilu? Lantas sudahkah demokrasi itu dimanifestasikan dalam sistem pemilu yang setara dan berkeadilam, khususnya bagi pelestarian lingkungan hidup?

Wajah Sistem Pemilu: Tradisi Berkelanjutan?

Sudah menjadi rutinitas yang lumrah menjelang pemilihan umum selalu diwarnai dengan aktivitas kampanye politik. Aktivitas ini menjadi bagian dari sistem rangkaian sistem pemilu kita yang terus terbangun sehingga sulit digantikan dengan aktivitas lainnya.

Begitu obsesinya, tidak jarang juga para kandidat calon, simpatisan dan bersama dengan partai politik cenderung melakukan curi start untuk melakukan kampanye politik. Namun, dalam pelaksanaan kampanye politik yang terjadi di lapangan justru berisiko membahayakan lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Adapun kampanye politik yang paling aktual misalnya memberikan BBM gratis untuk melakukan iring-iringan dengan para simpatisan, pemasangan alat peraga kampanye yang berlebihan, seperti banyaknya poster, baliho dan stiker para kandidat calon di jalanan, dan yang lebih parahnya pemasangannya pun kebanyakan merusak pohon-pohon pelindung yang ada di jalanan. Aktivitas seperti ini tanpa kita sadari sangat beresiko terhadap alam dan juga terhadap keberlangsungan hidup manusia ke depannya.

Sistem Pemilu Hijau: Seberapa Penting?

Sistem pemilu hijau diartikan sama halnya dengan sistem pemilu yang ramah lingkungan. Ini bertujuan agar semua pelaku politik baik itu calon kandidat, simpatisan serta para elit partai politik agar senantiasa memikirkan resiko yang akan terjadi dari kegiatan-kegiatan kampanye politik yang akan dilakukan.

Planning semacam ini perlu dilakukan bagi para pelaku politik supaya bisa menindaklanjuti secara tanggap apabila akan terjadi aktivitas kampanye politik yang dapat merusak lingkungan. Situasi semacam ini apabila dibiarkan tanpa ada solusi, maka dampaknya sangat buruk bagi alam dan keberlangsungan hidup manusia ke depannya.

Oleh karena itu, untuk mewujudkannya diperlukan adanya kolaboratif dan sinergitas sebagai wujud kerja nyata para pelaku politik untuk melakukan kampanye politik yang ramah lingkungan.

Tidak terlepas juga peran aktif Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) senantiasa dengan gencarnya mensosialisasikan terkait dengan peraturan pelaksanaan kampanye politik, dan apabila kedapatan para calon kandidat, simpatisan dan para elit partai politik melakukan kegiatan kampanye politik yang berimplikasi pada kerusakan dan pencemaran lingkungan, agar diberikan sanksi tegas berupa denda dan pertanggungjawaban yang lainnya sesuai dengan tingkat kerusakan atau pencemaran yang dilakukan pasangan calon. Karena elemen-elemen inilah yang merupakan ujung tombak menciptakan demokrasi yang aman, damai dan ramah lingkungan.

Adapun yang dimaksud dengan kampanye politik yang ramah lingkungan di atas, tidak lain ialah bermaksud kepada para calon kandidat, simpatisan dan para elit partai politik, sejatinya lebih menampakkan komitmennya dalam melakukan kegiatan kampanye politik yang ramah lingkungan dan tidak berlebihan, misalkan menggunakan alat peraga kampanye politik yang seperlunya saja, dalam pemasangan alat peraga kampanye pun tidak sampai merusak pohon-pohon pelindung di jalanan, serta tidak etisnya melakukan iring-iringan dengan para simpatisan.

Kegiatan seperti di atas selain berdampak dalam pemborosan penggunaan BBM akan tetapi juga menimbulkan polusi udara, macet, dan sampah berserakan dimana-mana. Permasalahan seperti ini menjadi tugas kita bersama sebagai warga negara demokrasi. Supaya tidak terjadi lagi ke regenerasi penerus kita selanjutnya, dan senantiasa agar selalu menanamkan sejak dini untuk menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan hidup disekitar tempat kita hidup.

Muhasabah Diri?

Di sisi lain juga sama-sama kita tumbuhkan sikap keprihatinan terhadap kondisi aliran sungai ataupun selokan-selokan di sekitar tempat kita tempati, baik di desa maupun di perkotaan yang di alih fungsikan sebagai tempat pembuangan sampah masyarakat. Keadaan seperti ini justru sangat bertolak belakang dengan kondisi sungai aeree yang berada di swiss dan sungai-sungai maupun selokan di negara luar. Di sini dapat kita simpulkan bahwa masyarakat di sana justru dengan giat nya untuk saling menjaga, merawat dan melestarikan ekosistem alamnya, sehingga menimbulkan keindahan dan kenyamanan tersendiri bagi rakyat di sekitarnya.

Pertanyaanya, mau sampai kapan kita menampakkan ego kita sendiri terhadap alam sekitar kita? Tidak butuhkah kita hidup di alam yang indah dan udara yang segar di sekitar tempat yang kita tempati? Pertanyaan tersebut menjadi penting untuk kita renungkan. Untuk itu, mari kita bersama-sama menciptakan sistem pemilu yang ramah lingkungan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya