Kedigdayaan Pertanian Menghadapi Ancaman Resesi Ekonomi

Kedigdayaan Pertanian Menghadapi Ancaman Resesi Ekonomi 20/08/2020 985 view Ekonomi Koleksi pribadi

BPS telah merillis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia periode triwulan II tahun 2020, yaitu mengalami konstraksi 5,23 persen (yoy). Banyak pengamat ekonomi telah memberi “warning” Indonesia masuk jurang resesi ekonomi akibat pandemi covid-19. Beberapa negara dunia telah mengalami era resesi di triwulan II 2020 ini antara lain negara adikuasa USA, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Hongkong dan Singapura. Para konsultan keuangan memberikan saran agar lebih banyak memegang uang tunai untuk antisipasi resesi tersebut.

PDB Indonesia pada triwulan II 2020 telah menunjukkan bagaimana pertanian menjadi sektor yang mampu bertahan terhadap gempuran pandemi covid-19, masih mampu tumbuh positif 2,19 persen (yoy) dan 16,24 persen (q to q). Jika dibandingkan triwulan satu 2020, pertanian merupakan sektor yang tumbuh di triwulan II 2020 selain infokom dan pengadaan air. Kondisi yang patut untuk dicermati sebagai pertimbangan menghadapi resesi.

Tingginya pertumbuhan pertanian di triwulan II sangat mungkin mengingat sekitar bulan April terjadi puncak panen padi. Ditambah lagi dampak budaya masyarakat yang mengutamakan Ramadhan dan lebaran Idhul Fitri serta menghadapi tahun ajaran baru, maka pada bulan April dan Juni masyarakat lebih bersemangat menghasilkan “rupiah”, demikian juga dengan para petani. Dengan kata lain sektor pertanian dapat menjadi andalan dalam menjawab permasalahan dan kebutuhan. Berbagai potensi yang dimiliki pertanian dapat diberdayakan untuk menjadikan sektor tersebut sebagai andalan menghadapi resesi ekonomi.

Pada triwulan II 2020 peranan sektor pertanian dalam struktur ekonomi nasional mencapai 15,46 persen hanya berada di bawah sektor industri yang sebesar 19,87 persen. Peningkatan pertanian di triwulan II dan III 2020 sangatlah mungkin terjadi. Meski BMKG memberi warning bahwa beberapa wilayah akan terdampak kekeringan dalam musim kemarau tahun 2020 ini. Namun demikian pada saat yang sama BMKG juga memperkirakan bahwa di 2020 kondisi cuaca lebih baik dibanding tahun 2019, musim kemarau di 2020 merupakan musim kemarau basah. Masih relatif aman untuk pelaksanaan proses bisnis pertanian.

Sisi positif lain dari pertanian adalah menjadi multiplier efek terhadap sektor lain. Peningkatan pertanian akan menjadi “pengungkit” bagi sektor lain baik secara langsung maupun tak langsung. Perdagangan, industri dan transportasi menjadikan sektor yang menerima langsung dampak dari peningkatan di pertanian. Sektor jasa keuangan, infokom dan pariwisata sangat mungkin merupakan sektor yang tak langsung menerima dampak.

Pada triwulan II 2020 sektor-sektor tidak searah dengan pertanian, kontradiksi ini sangat mungkin sebagai akibat “faktor psikologis” pemberlakuan PSBB karena pandemi covid-19. Saat itu peningkatan produksi pertanian tidak terserap oleh sektor penerima dampak, karena ditutup ataupun dihentikannya kegiatan sektor tersebut untuk mengurangi/menghentikan penyebaran virus korona. Sementara proses bisnis pertanian tetap berjalan mengingat minimnya interaksi antar manusia di kegiatan pertanian. Minimnya interaksi inilah yang menyebabkan proses bisnis dapat dilaksanakan seiring terjadinya pandemi covid-19.

Potensi lain yang menjadikan pertanian andalan menghadapi resesi ekonomi adalah banyaknya sumber daya yang terlibat dalam kegiatan pertanian. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) BPS Bulan Februari 2020 menyebutkan dari 131,03 juta penduduk Indonesia yang bekerja, sekitar 29,04 persen bekerja di sektor pertanian, angka tertinggi jika dibanding sektor lainnya. Angka tersebut memberi informasi betapa besarnya potensi untuk terjadinya peningkatan di sektor pertanian.

Masih dari sumber daya manusia, Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) BPS pada tahun 2018 menuliskan dari 27,68 juta rumah tangga usaha pertanian di Indonesia sekitar 61,82 persen kepala rumah tangganya berumur 25-54 tahun, kelompok umur yang sedang produktif. Sangatlah potensial dalam rangka peningkatan output di sektor pertanian, meski dihantui bahaya covid-19. Pemanfaatan teknologi pertanian sangat mungkin dikembangkan pada kelompok umur tersebut. Pemanfaatan teknologi sejalan dengan fenomena yang terjadi saat pandemik covid-19, hampir semua proses bisnis ekonomi berbasis teknologi.

Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pertanian sangat mungkin akan menurunkan tingginya biaya produksi. Penurunan biaya produksi tersebut akan berakibat pada kenaikan nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor pertanian. Secara tidak langsung akan merubah pola pikir ataupun pandangan bahwa sektor pertanian adalah sektor terbelakang dan rendah nilai tambah. Peningkatan nilai tambah pada sektor pertanian menjadikan pertanian sebagai sektor yang “seksi” bagi penduduk milenial. Selanjutnya sangat mungkin akan lahir petani-petani milenial yang akan melanjutkan sektor pertanian berbasis teknologi.

Kenaikan nilai tambah juga dapat ditunjukkan oleh tingginya Nilai Tukar Petani (NTP). Pada bulan Juli NTP nasional mencapai angka 100,09 naik 0,49 persen dibandingkan NTP bulan sebelumnya, secara nasional, NTP Januari–Juli 2020 sebesar 101,29. Angka tersebut menunjukkan bahwa dalam kegiatannya petani mengalami surplus baik untuk biaya produksi maupun untuk konsumsi sehari-hari.

Hal lain yang tidak bisa diabaikan menjadikan pertanian andalan menghadapi resesi ekonomi adalah potensi pasar domestik. Jumlah penduduk lebih dari 260 juta merupakan potensi pasar yang sangat besar. Kebutuhan pangan yang diperlukan untuk memenuhi penduduk tersebut harus dipenuhi dan hanya dapat hasilkan oleh sektor pertanian. Kondisi ini memberi arti tingginya keberhasilan peluang usaha di bidang pertanian. Budaya dari penduduk Indonesia yang sangat bergantung pada pangan karbohidrat ataupun kebutuhan pangan tertentu pada saat perayaan hari raya menambah tingginya kebutuhan pangan, sehingga menambah besar pula peluang sukses usaha pertanian.

Namun demikian dalam pencapaian kedigdayaan pertanian pasti akan menghadapi kendala baik dari internal pertanian maupun eksternal. Dari internal pertanian tantangan klasiknya adalah masih adanya pola pikir bahwa seseorang yang bergelut di dunia pertanian akan mengalami ketertinggalan. Dalam kehidupan masyarakat mereka akan lebih bangga bekerja di sektor lainnya dibanding sektor pertanian. Sangat mungkin petani akan menjual lahannya untuk membeli barang modal lain seperti motor, mobil atau mesin-mesin sebagai modal kegiatan ekonomi di luar pertanian. Mereka melakukan tersebut karena menilai nilai tambah yang dihasilkan akan lebih tinggi dan lebih cepat dibanding bertani.

Tantangan berikutnya adalah seiring pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi di luar pertanian yang muncul sebagai konsekuensi pertambahan penduduk akan membutuhkan lahan untuk menopangnya. Penduduk memerlukan tempat tinggal, aksesibilitas infrastruktur dan ruang lainnya dalam kehidupan. Mau tidak mau akan memanfaatkan lahan yang selama ini menjadi media pertanian, terjadilah konversi lahan pertanian ke non pertanian. Kondisi ini menjadikan pertanian menemui “buah simalakama”, penduduk membutuhkan pangan sehingga produksi pertanian harus terjaga. Namun di sisi lain lahan untuk menghasilkan telah berkurang karena beralih fungsi.

Disamping alih fungsi lahan, kondisi yang dihadapi adalah masih tingginya angka petani gurem di Indonesia. SUTAS2018 menyebutkan 58,07 persen petani menguasai lahan kurang dari 0,5 ha, persentase ini mengalami kenaikan 10,95 persen jika dibandingkan tahun 2013 saat sensus pertanian dilaksanakan.

Era pandemi covid-19 telah membangkitkan pemanfaatan teknologi informasi, kondisi suatu wilayah akan dengan cepat tersampaikan ke pihak lain. Demikian juga dipertanian, kemudahan komunikasi telah melahirkan persaingan global. Di komoditi karet Indonesia bersaing dengan negara tetangga Thailand dan Malaysia, kemudian di kelapa sawit Indonesia berkompetisi dengan Malaysia, Thailand dan Colombia. Dalam persaingan global tersebut tidak hanya kualitas produksi yang menjadi indikator, tetapi juga memperhatikan sisi keberlangsungan lingkungan. Isu lingkungan sering menjadi topik “negosiasi” pemasaran produk pertanian terutama komoditi perkebunan.

Menyikapi kondisi-kondisi di atas, perlu kiranya adanya sinergi antara stakeholder yang terlibat. Petani berkenan membuka diri untuk menerima informasi ataupun teknologi baru dalam rangka peningkatan produksi tetapi kualitas lingkungan terjaga lebih kita kenal dengan istilah sustainable agriculture dan lancarnya proses pasca panen. Sehingga produk yang dihasilkan akan terserap oleh proses kegiatan lanjutannya baik di perdagangan, transportasi ataupun industri. Pemerintah menjaga konsistensi nya dalam menghasilkan dan melaksanakan regulasi yang berpihak pada petani. Regulasi-regulasi yang dihasilkan dapat mendorong petani untuk lebih berkinerja. Perguruan tinggi bisa berperan dalam penyediaan teknologi tepat guna dan waktu, sehingga petani bisa lebih efisien dan efektif dalam proses bisnisnya.

Sinergitas antara stakeholder akan melahirkan kedigdayaan pertanian dengan tetap menjaga kelangsungan lingkungan sehingga tercapainya sustainable agriculture. Kedigdayaan pertanian akan menjadi modal utama dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya