“Wajah” Kartini(an) itu Liyan

Mahasiswa
“Wajah” Kartini(an) itu Liyan 30/06/2020 893 view Lainnya ANTARA/M Risyal Hidayat

Narasi pandemi Corona baru saja ditulis dengan tinta hitam pekat pada kertas kehidupan bangsa kita. Alhasil bekas-bekas baru yang kadang tidak kelihatan (tapi ada) muncul di balik halaman lainnya. Salah satunya wajah kartinian yang menjadi entitas terentan akan kekerasan dalam rumah tangga selama pandemi Corona ini berlangsung. Tekanan ekonomi yang menyesakkan dada dan kebijakan “stay at home” memungkinkan kaum perempuan tidak berdaya akan kekerasan yang dilakukan laki-laki.

Karena itu “Wajah” Kartini(an) setidaknya berbicara tentang dua hal ini; Pertama, korban kekerasan yang dialami oleh perempuan merupakan wajah lain Kartini di akhir abad ke-19 yang diperbudak oleh kultur patriarkhis maskulinistik. Kedua, menyadarkan “diri” siapa saja akan teriakan Kartini dan Levinas tentang subjektivitas kehadiran yang bermakna. Bahwa perempuan bukan sekadar berbeda dari Aku, tapi juga subjek ber-wajah yang “mengusik” keberadaanku.

Wajah Kartinian itu Liyan

Wajah Kartinian itu liyan, menurut penulis dapat dijelaskan sebagai berikut, Pertama, Raden Ajeng Kartini adalah seorang pahlawan bangsa dan tokoh emansipasi perempuan. Namanya selalu diidentikkan dengan kesetaraan gender dan yang memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Karena itu, Presiden Soekarno misalnya menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini, bahkan wajahnya pernah menjadi gambar uang lima rupiahan di tahun 1952. Semua ini tentu saja dimaksudkan agar perjuangan dan cita-cita Kartini tidak terkubur begitu saja bersama nasibnya yang miris.

Kepada Stella Zeehandelaar di Belanda, ia menulis sangat banyak tentang bangsanya; agama, sekolah, perkawinan, dan terutama yang sangat mendominasi adalah gagasannya tentang kesetaraan gender yang melampaui zaman. Ia menjelaskan semuanya dengan begitu njlimet; sebuah gambaran keprihatinan yang mendalam.

“Kami tidak bisa bercita-cita, satu-satunya yang boleh kami impikan adalah: sekarang atau esok akan menjadi istri yang kesekian dari seorang laki-laki ini/lainnya” (surat 23 Agustus 1900).

“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah. Saya tiada boleh keluar bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami” (surat 25 Mei 1899).

Itulah R. A. Kartini dan kartini-kartini lainnya pada masa itu. Mereka adalah liyan tanpa subjektivitas; objek patriarkhis maskulinistik dan aksiden laki-laki.

Kedua, kita hidup di sebuah masa di mana Megawati Soekarno Putri pernah menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-5, Sri Mulyani menjadi juru kunci perekonomian bangsa, Puan Maharani mengepalai suara rakyat, dan ribuan perempuan lain yang kini berani bertindak atas dasar kemandiriannya sendiri. Terhadap hal ini, kita menemukan wajah kartinian yang tersenyum manis.

Namun gambar senyuman itu bersebelahan langsung dengan lukisan tangis kartini-kartini lainnya. Mereka adalah liyan yang terabaikan tanpa kepastian. Terakhir, data kekerasan terhadap perempuan menunjukkan peningkatan selama pandemi Corona ini berlangsung.

Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perempuan (UN Women) menyebutkan, pantauan selama 100 hari pertama sejak kasus Covid-19 diumumkan pada 31 Desember 2019 menunjuk adanya peningkatan ketimpangan gender dan diskriminasi norma sosial di semua negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Perempuan di akar rumput sangat rentan secara ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (Kompas, 21 April 2020). Hal ini pun diamini oleh Komisaris Komnas Perempuan, Maria Ulfah Ansor, yang mengungkapkan, selama pandemi Corona pihaknya menerima laporan sebanyak 319 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan jumlah korban mencapai 321 orang. Ratusan aduan yang paling banyak dilaporkan adalah soal kekerasan seksual (VOA, 23 Mei 2020).

Hemat saya, itulah narasi lain di balik akutnya virus Corona bangsa kita. Kaum perempuan sedang kehilangan “wajah”nya. Mereka menjadi liyan; manusia yang mengalami ketidakadilan dan penindasan serta berada di luar wilayah kominikasi diri dan dipandang sebagai objek (Jhon Lecte, 2001). (Selanjutnya istilah liyan merujuk pada perempuan sebagai korban kekerasan).

Simone de Beauvoir (1908-1986), seorang pelopor gerakan feminisme dalam bukunya The Second Sex menjelaskan bahwa perempuan pada kenyataannya memang tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan. “One is not born, but rather becomes a women”. Bukan suratan biologis, psikologis, atau ekonomis yang menentukan sosok perempuan ada dalam masyarakat, namun peradaban kebudayaan patriarkhislah yang melahirkan perempuan. Laki-laki adalah subjek dan ia absolut, sedangkan perempuan adalah orang lain atau Liyan (Simone de Beavour, 1949).

Hal ini serupa dengan apa yang ditulis oleh Kartini kepada Steela Zeehandelaar: “Kami tidak bisa bercita-cita, satu-satunya yang boleh kami impikan adalah: sekarang atau esok akan menjadi istri yang kesekian dari seorang laki-laki ini/lainnya.” Atau jika diterjemahkan ke konteks kartinian saat ini: “Saya terpaksa menjadi objek pelampiasan nafsu kepala sekolah karena takut dipecat.” Atau “Saya tidak berani melapor ke polisi karena saya selalu diancam.”

Ya, mereka selalu menjadi liyan dan karenanya menjadi objek dan aksiden yang menempel pada laki-laki.

Benar apa yang dijelaskan oleh Armada Riyanto, bahwa diskursus filosofis liyan tak pernah terpisahkan dari eksistensi perempuan. Karena dalam sejarah peradaban manusia, perempuan kerap memegang peran keduanya, dipandang protagonis dan diperlakukan antagonis. Perempuan berada dalam pengalaman eksistensial subjek sekaligus objek dalam societas (Armada Riyanto, 2011).

Dalam sejarah bangsa kita misalnya, lukisan Kartini mengatribusi “habisnya gelap dan terbitnya terang” bagi kaum perempuan. Tapi perjalanan socitas modern justru masih menempatkan perempuan dalam dunia liyan yang terabaikan.

Wajah dan Liyan

Sebelum masuk ke dalam ide kesetaraan gender a la Kartini, saya menyentil sedikit “relasi etis” Emmanuel Levinas (1906-1995), seorang filsuf Prancis yang berbicara tentang Yang Sama (the Same) dan Yang Lain (the Other). Yang-Sama menggambarkan Aku, sedangkan Yang-Lain merujuk pada segala sesuatu yang berada di luar Aku, baik tumbuhan, hewan, maupun manusia, yaitu liyan. Dalam sejarah peradaban manusia, Aku selalu berusaha mencapai kesempurnaan diri dengan menaklukkan Yang-Lain/liyan.

Nantinya Levinas akan mengumandangkan bahwa liyan tidak dapat dikuasi oleh Aku karena liyan memiliki “wajah”. Wajah merupakan “keseluruhan cara Yang Lain memperlihatkan dirinya, melampaui gagasan mengenai Yang Lain dalam diriku. Wajah adalah jejak Yang Tak Terbatas.” (Levinas, 1961). Dengan demikian, wajah mengungkapkan subjektivitas kehadiran liyan yang juga memberi makna pada Aku.

Sebagai ilustrasi kita bisa mengkontemplasikan “wajah” Markonah yang ditampar suaminya, Markucel hanya karena membangunkannya dari tidur (Jawa Pos, 20 Juni 2020). Sekilas, perjumpaan wajah fisik tersebut adalah sebuah hal yang biasa, apalagi Markucel memang terbiasa menganiaya istrinya. Namun hal ini sebenarnya mengungkapkan bahwa Markucel belum berjumpa dengan “wajah” istrinya, karena “makna relasi dengan liyan tidak dapat direduksikan kepada manifestasi tubuh atau wajah fisik semata, melainkan menyangkut keseluruhan dirinya kepada kita” (Thomas Tjaya, 2012: 148).

Sebaliknya, kala Aku berjumpa dengan “wajah abstraksi diri” yang adalah jejak Yang Tak Terbatas, ketika itulah wajah liyan akan berbicara banyak kepada Aku tanpa kata-kata: “Jangan mencampakkanku, aku menderita dan terluka, kasihanilah aku!” Maka pada saat itu jugalah Aku akan “terusik” oleh liyan seperti pedang yang menyayat hati. Liyan (yang sebelumnya diperlakukan sebagai objek) telah menampilkan diri menjadi subjek yang setara dengan Aku dan meberi makna baru pada Aku.

Persis inilah yang menginspirasi Kartini untuk mengibarkan bendera kesetaraan gender. Ia melihat wajah; wajahnya sendiri dan perempuan sebangsanya. “Tidak wajarkah jika aku sendiri membenci, memandang rendah perkawinan jika hasilnya merendahkan martabat perempuan dan menganiaya perempuan sedemikian mengerikan?” (surat 23 Agustus 1900).

Seperti kata Goenawan Muhamad, bukan karena gagasan feminisme maka Kartini ada, tetapi karena Kartini ada, maka ia seorang feminisme.

Sayangnya, kekerasan terhadap liyan seringkali berangkat dari gagasan (ideologis) semata. Pada masa Kartini misalnya, pengabaian terhadap liyan diformat oleh kultur patriarkhis maskulinistik dan doktrin agama yang rupanya masih terus berlanjut sampai pada detik ini. Orang belum berani berjumpa secara langsung, “face to face” karena orang takut melihat kerapuhannya sendiri, terusik oleh wajah orang lain. Padahal “relasi etis intersubjektif” Emmanuel Levinas dapat terjadi kala Aku berjumpah dengan “wajah” yang lain secara langsung. Face to face.

Dengan demikian, wajah kartinian tidak lagi dipandang sebagai liyan semata melainkan wajah yang membentuk Aku menjadi lebih manusiawi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya