Usir Para Pengemis Elite!

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Usir Para Pengemis Elite! 02/02/2022 387 view Ekonomi beritasampit.co.id

“Permisi…” Kata setiap pengemis jalanan sambil menadahkan tangannya. Entah dengan topi, gelas plastik kosong, dan ragam alat yang digunakan dan dikenakan agar orang memberikan sedikit rupiah bagi mereka. Yah, mungkin tidak banyak. Seribu hingga dua ribu rupiah sudah membuat mereka senang. Sebab, pikir mereka “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”.

Jujur saja, perasaan ini sudah lama saya pendam. Bahwasanya pengemis-pengemis ini cukup kasihan, namun sekaligus cukup meresahkan dan menjengkelkan. Sebab, setiap kali mampir di kafe misalnya, selalu saja datang ragam macam pengemis. Setiap lima belas menit kemudian entah laki-laki atau perempuan, entah usianya tua ataupun muda, entah anak-anak atau orang dewasa. Entah yang berpakaian masih cukup lumayan bagus hingga yang paling kotor dan jorok. Entah yang benar-benar sakit sampai yang sebenarnya sehat dan kuat, namun masih minta-minta.

Namun, saya harus mengakui bahwa hampir semua pengemis itu hidup dan kebutuhannya cukup dan berada. Namun, mereka ini selalu saja menadahkan tangannya. Pengemis-pengemis semacam ini banyak saya jumpai terutama di kota-kota terbesar. Melihat fenomena masyarakat semacam ini, lalu siapa yang salah sebenarnya? Mereka atau kurangnya lapangan pekerjaan yang dalam hal ini peran pemerintah turut mengambil peran?

Jikalau saya boleh berpendapat dan melihat kenyataan yang ada, harus dianalisis kedua subjek yang dipermasalahkan ini. Pertama, dari diri “si pengemis” tersebut. Saya harus mengatakan bahwa pengemis tersebut rata-rata sebagian besar dari mereka orang berada. Ya, untuk makan dan minum sehari masih bisalah. Beberapa kali saya menjumpai mereka ini justru memiliki rumah. Selain itu mereka juga saling kerja sama di mana ada pihak keluarga yang mengantar mereka di lokasi-lokasi yang menjadi sasaran dan target mereka. Setelah selesai mengemis, mereka akan dijemput keluarganya. Kejadian lain, mereka malah memanfaatkan hasil mengemis untuk hal yang tidak penting dan benar-benar mereka butuhkan.

Di sisi lain, saya juga harus mengakui bahwa sebagian sangat kecil dari mereka adalah pengemis yang benar-benar harus kita bantu. Misalnya, karena bagian tubuhnya yang cacat atau yang benar-benar miskin dan menderita. Kalau untuk pengemis yang memiliki masalah serius ini, saya bisa memaklumi dan justru iba melihatnya sehingga akan memberi. Namun, untuk mereka yang dalam hal ini berpura-pura haruskah dibantu?

Sebenarnya, ada banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan daripada hanya sekedar menadahkan tangan dan meminta-minta. Misalnya, memungut sampah yang bisa digunakan lagi atau dijual, tukang sapu, asisten rumah tangga, atau yang paling kasar jadi tukang nyuci piring dan seterusnya. Yang pentingkan pekerjaannya halal dan bukan soal gengsi dan harga diri. Saya kira ada banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan.

Kedua, jikalau dilihat dari sisi pemerintah. Kiranya tidak ada yang salah dengan ragam pekerjaan yang sebenarnya bisa dicari dan dipekerjakan untuk para pengemis ini. Ada banyak pekerjaan yang sebenarnya dapat dicari dan dikerjakan asal ada kemauan dan niat kerja keras yang serius. Artinya, tanpa hanya meminta saja pasti bisa makan untuk sehari saja. Permasalahannya, pemerintah kurang tegas dalam menindaklanjuti para pengemis ini. Terkadang mereka hanya diusir atau dibawa ke kantor, setelah itu dinasihati dan dipulangkan. Akibatnya, si pengemis kembali ke profesinya semula.

Di lain hal, pemerintah juga terkadang menutup mata dengan orang-orang ini. Seharusnya mereka ini diperhatikan dan diberi pendidikan profesi sederhana. Selanjutnya, mereka ini dikumpulkan dan benar-benar diurus, dilihat apa bakat mereka di bidang profesinya lalu carikan pekerjaan. Tujuannya, supaya mengurangi pengemis di jalanan.

Selain itu, memberi efek jera supaya jangan mengemis terus. Dalam hal ini, pemerintah harus tegas terhadap pengemis-pengemis ini. Negara ini sebetulnya kaya, namun pekerjanya yang selain malas, abal-abalan, juga kaum elite dan pemerintah sibuk dengan urusannya sendiri.

Akhirnya, melalui tulisan dan keresahan ini membuka mata hati dan nurani setiap dari kita yang menyadari dan membacanya. Saya yakin bahwa banyak orang yang resah dengan pengemis-pengemis ini. Jujur saja ketika mereka datang dengan memohon dan mengemis-ngemis meskipun keadaan mereka mampu bekerja tentu hati nurani ini tetap untuk memberi.

Masalahnya, bukan soal keikhlasan memberi atau tidak. Atau kalau mau memberi ya memberi, kalau tidak ya tidak. Melainkan sampai kapan pengemis ini akan terus seperti ini dan jumlahnya semakin bertambah? Bisa jadi kita hanya akan bermental meminta tanpa ada usaha keras. Artinya, para koruptor dan siapa saja yang memanfaatkan uang rakyat dengan tidak jujur, bukankah mereka ini juga “pengemis elite”?

Kalau sudah ada “pengemis elite” apakah rakyat kecil yang harus memberikan sebagian hasilnya untuk pengemis elite tersebut? Bukankah yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya