Tragedi Perempuan Paruh Baya

PNS BKKBN
12/03/2020 207 view Budaya piqsels.com

Jum’at itu, suasana begitu sendu. Mendung menggelantung, angin semilir namun tak turun hujan. Memasuki jam istirahat siang kami pergi ke tempat ibadah yang biasa ramai dikunjungi banyak jamaah. Parkiran hampir penuh. Di depan halaman pintu masuk, puluhan para pedagang masih menjajakan dagangannya untuk mencari rezeki guna menyambung hidupnya dan keluarga.

Ketika kami sedang memasuki halaman dimana banyak orang yang berjualan tersebut, tiba-tiba terdengar oleh kami ada petugas keamanan tempat ibadah tersebut membentak-bentak seorang ibu setengah baya yang berjualan jajanan tradisional namun dianggap oleh petugas keamanan tersebut bahwa tempat dia berjualan mengganggu atau menghalangi jamaah untuk masuk tempat ibadah.

Atas bentakan demi bentakan yang terlontar dengan cukup kasar dari petugas keamanan, ibu setengah baya tersebut merasa ketakutan dengan raut muka yang terlipat-lipat dan semakin mengkerut. Intinya ibu tersebut diusir untuk mencari tempat jualan yang baru, karena di tempat itu, dirasa mengganggu orang yang ingin beribadah menurut versi petugas keamanan tersebut.

Di sela-sela bentakan petugas keamanan dan ketakutan seorang ibu paruh baya itu, datanglah seorang bapak-bapak bersorban menengahi. Dengan suara lembut penuh kasih, bapak tersebut bilang kepada ibu paruh baya, bahwa semua daganganya dia yang beli, lalu dia minta tolong agar makanan yang sudah dia beli untuk dibagikan kepada seluruh jamaah guna disantap bersama sehabis melaksanakan ibadah.

Kejadian tersebut selesai dengan manis, sebab seluruh dagangan si ibu paruh baya diborong hingga habis oleh seorang bapak bersorban dan makanan yang sudah dibeli tersebut disedekahkan kepada jamaah sehabis melakukan ibadah. Sayapun dapat makanan dari gratisan bapak bersorban itu.

Memang untuk sementara urusan yang terkesan sepele tersebut selesai, namun persoalan lain akan muncul pada hari berikutnya pada diri seorang ibu setengah baya tersebut. Ibu tersebut pasti akan kehilangan tempat berjualan bahkan bisa jadi kehilangan mata pencaharian. Beliau pasti akan kebingungan mencari tempat berjualan sebab sehari-hari berjualan di tempat tersebut untuk mengais rejeki.

Cerita di atas mungkin bukan sebuah tragedi, hanya sekelumit goresan nasib perempuan yang berusaha membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di sektor informal di ruang publik.

Namun tantangan bagi perempuan setengah baya tersebut ternyata cukup berat. Kekerasan terjadi di depan mata. Meskipun bukan kekerasan fisik namun dimarahi di muka umum dengan kata-kata kasar dan nada tinggi merupakan kekerasan verbal yang sungguh menyanyat hati.

Penulis meyakini bahwa kasus yang dialami perempuan paruh baya itu, bukanlah satu-satunya namun kejadian serupa pasti sudah sering terjadi pada perempuan-perempuan lain yang bekerja di sektor publik dengan tingkat kekerasan yang dialami memiliki kadar yang berbeda-beda.

Kita sudah sering mendengar kabar bahwa kekerasan yang dihadapi perempuan di negeri ini bukan hanya kekerasan verbal semata seperti yang dialami ibu setengah baya yang kebetulan kami saksikan. Namun masih banyak kejadian kekerasan yang dialami perempuan negeri ini lebih dari sekedar itu. Banyak para perempuan yang mengalami kekerasan fisik bahkan ada juga kekerasan yang berupa pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Jika kekerasan terhadap perempuan bisa terjadi di ruang publik yang banyak dikunjungi orang seperti yang kami saksikan, barang kali banyak juga kekerasan yang terjadi di ruang privat di dalam tembok-tembok keluarga. Bukan hanya itu kekerasan terhadap perempuan juga sering mengintai kepada mereka yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri.

Nasib pekerja perempuan, baik yang bekerja di sektor formal maupun di sektor informal memang masih mengalami diskriminatif tanpa perlindungan dari pihak-pihak terkait secara optimal. Setiap hari kita masih sering mendengar kabar mengenai kekerasan yang dialami perempuan baik itu kekerasan secara fisik, verbal maupun sosial.

Mungkin seperti itulah nasib perempuan yang berada dalam konstruksi masyarakat patriarkis. Perempuan masih dianggap sebagai manusia kelas kedua sehingga ketika perempuan ini memilih untuk bekerja, baik di sektor formal maupun sektor informal, mereka tetap saja memperoleh diskriminasi seperti sistem pengupahan yang lebih rendah dari pada pekerja laki-laki hingga kepada resiko kekerasan dan pelecehan seksual yang mengintai kepada kaum hawa ini. Kita tidak tahu kapan kekerasan pada perempuan terutama perempuan pekerja ini akan berakhir.

Untuk itu seyogyanyalah kita semua perlu mendorong dan memastikan agar semua perempuan yang bekerja baik di sektor formal maupuan informal dan yang bekerja baik di dalam maupun di luar negeri memperoleh perlindungan dan perlakuan yang sama seperti pada pekerja laki-laki. Kita semua harus mampu memastikan bahwa ke depan tidak akan ada lagi kekerasan yang dialami perempuan yang bekerja.

Lebih dari itu, kita, pemerintah, perusahaan dan pihak-pihak yang terkait juga perlu memberikan dukungan secara optimal pada kebutuhan spesifik perempuan pekerja baik di sektor formal maupun informal. Kebutuhan spesifik perempuan bekerja ini adalah kebutuhan yang berkaitan dengan hak-hak reproduksi seperti haid, melahirkan, menyusui dan lain sebagainya.

Perlu dipikirkan bersama agar ada semacam pangaturan pada perempuan bekerja supaya mereka memperoleh hak cuti haid, hak cuti melahirkan dan juga hak cuti untuk menyusui secara optimal. Perlu juga dipikirkan dan disediakan infrastruktur tempat penitipan anak yang bisa dimanfaatkan bagi pekerja perempuan untuk menitipkan anaknya ketika mereka sedang bekerja, sambil sesekali menengok di sela-sela jam istirahat.

Sambil terus merenung dan berpikir tentang nasib perempuan paruh baya yang diusir dan dimarah-marahin petugas keamanan sebuah tempat ibadah tersebut, saya pun teringat kepada ibu dan juga nenek saya yang merupakan bagian dari perempuan Indonesia dan juga bekerja untuk membantu perekonomian mencukupi kebutuhan keluarga. Jangan-jangan perempuan-perempuan hebat ini yang mampu membiayai sekolah anak-anaknya dengan ikut membantu suami bekerja juga pernah mendapatkan perlakuan yaitu kekerasan di ruang publik. Semoga hal ini tidak pernah terjadi. Aamiin.

The Columnist memiliki obsesi menghargai artikel para intermediate writer yang belum mendapat tempat di media mainstream. Karena kami punya keyakinan, artikel yang ditolak terbit media mainstream tersebut bukan berarti tidak kritis dan menarik. Silahkan kirim artikel tersebut di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami akan bantu menerbitkan untuk menemui pembacanya.
Artikel Lainnya