Tiga Model Pendidikan ala Mesin Cetak

Mahasiswa
Tiga Model Pendidikan ala Mesin Cetak 09/08/2020 218 view Pendidikan pixabay.com

Pendidikan masa lampau dan masa depan pasti memiliki berbagai perbedaan dalam penerapan modelnya. Mulai dari model transfer ilmu layaknya khutbah ceramah. Bahkan sampai model praktik langsung keilmuan yang dipelajarinya.

Berbagai model pendidikan selalu berubah menyesuaikan kebutuhan dari peserta didik itu sendiri. Sebab, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberi apa yang dibutuhkan oleh peserta didik. Bukan pendidikan yang memberi apa yang diinginkan pendidik.

Pendidikan sering sekali berkutat pada transfer ilmu yang begitu membosankan. Memang tidak keliru, namun apabila hanya tentang itu melulu maka peserta didik dapat lupa untuk berkarya. Peserta didik akan selalu bergantung dengan dikte yang dilakukan pendidik.

Berdasarkan realita pendidikan yang terjadi maka terdapat tiga kategori model pendidikan yang selama ini berlangsung. Tiga model pendidikan tersebut terkategorisasi layaknya mesin cetak yang memiliki ciri khasnya masing-masing.

Pertama, Pendidikan ala Mesin Fotocopy. Pendidikan yang sering ditemui. Kenapa dikatakan seperti itu? sebab peserta didik hanya sebatas mencopy apa yang diberikan oleh pendidiknya. Sedangkan pendidik hanya mendikte para peserta didik dengan begitu amat semangatnya.

Dikte yang begitu gencar mengakibatkan karya yang bergantung pada dikte pendidik. Karya-karya yang diciptakan peserta didik hanya sebatas pengulangan karya yang dimiliki para pendidik. Ditambah ilmu yang ditransfer tidaklah seratus persen tersampaikan. Pastinya ada beberapa aspek yang kurang tersampaikan.

Oleh karena itu, pendidikan seperti ini layaknya mesin fotocopy yang mencetak karya dan ilmu sebatas hitam putih atau tidak berwarna. Dapat dikatakan hanya mendapatkan setengah saja dari ilmu keseluruhan yang dimiliki pendidik. Dan juga mencetak karya yang hanya mencopy karya pendidik.

Kedua, Pendidikan ala Mesin Scanner. Ilmu memang hampir tidak mungkin seratus persen tersampaikan secara penuuh. Namun setidaknya sembilan puluh persen tersampaikan itu sudahlah cukup. Sedangkan sepuluh persen sisanya adalah degradasi ilmu yang dialami pendidik sembari berlangsungnya lika-liku kehidupan pendidik.

Seiring berjalannya waktu, keilmuan yang dimiliki pendidik tidak mungkin stagnan begitu saja. Pasti ada pengurangan ataupun tambahan pada keilmuannya. Oleh karena itu, transfer ilmu yang diberikan pada peserta didik amat tidak mungkin secara penuh tersampaikan.

Kondisi pendidikan semacam ini layaknya pendidikan ala mesin Scanner. Tidak jauh berbeda dengan mesin fotocopy. Keduanya sama-sama masih berkutat dengan transfer ilmu yang begitu membosankan.

Namun disisi lain, perbedaan yang mencolok dalam pendidikan ala mesin scanner yakni pendidikan tersampaikan setidaknya sembilan puluh persen, sehingga hasil yang diberikan lebih berwarna. Perlu diketahui juga bahwa transfer ilmu atau copy ilmu memang hampir sempurna, akan tetapi ilmu yang diperoleh tidak serupa.

Sedangkan untuk karya yang diciptakan masih berkutat pada peniruan dengan karya yang dimiliki pendidik. Paling mentok hanyalah modifikasi suatu karya terdahulu. Tanpa menciptakan suatu karya yang benar-benar orisinil dan baru.

Ketiga, Pendidikan ala Mesin Print. Inti dari berlangsungnya pendidikan ini yakni ilmu mungkin saja dapat diperoleh dari manapun seperti transfer ilmu layaknya mesin fotocopy atau scanner. Atau ilmu juga dapat diperoleh langsung dalam realita layaknya pendidikan praktik.

Namun yang perlu ditekankan pada pendidikan ala mesin print adalah karya. Pendidikan tanpa karya, ibarat makan nasi tanpa lauk yakni akan terasa hampa, kosong. Oleh karena itu, pendidikan harus terus digenjarkan dengan berbagai karya agar pendidikan tidak hadir secara monoton apalagi membosankan.

Pendidikan harus berorientasi pada karya setiap peserta didik. Sehingga pendidikan tidak berkutat pada transfer ilmu saja. Melainkan harus ada output suatu karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pendidikan seharusnya tidak dihadirkan layaknya model pendidikan ala fotocopy dan scanner yang mana hanyalah pengulangan karya para pendidik terdahulu. Melainkan pendidikan harus menciptakan karya yang memiliki orisinalitas dan otentik layaknya print yang memiliki kebebasan untuk mencetak lembaran kertas yang orisinil dan otentik.

Dari beberapa model pendidikan di atas, dapat diambil sebuah benih yang bermanfaat bahwa pendidikan kita selama ini mengalami krisis akan karya yang orisinil. Karya-karya para peserta didik selama ini hanyalah pengulangan atas karya para pendidik. Sehingga karya tersebut layaknya mesin cetak fotocopy maupun mesin scanner.

Krisis karya yang orisinil ini menjadi problematika pendidikan yang cukup serius. Jika karya orisinil telah mati, maka keberlangsungan pendidikan itupun akan ikut mati.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya