Terbunuhnya KAMI di Dunia Maya

Esais
Terbunuhnya KAMI di Dunia Maya 21/08/2020 432 view Politik Detik.com

Donald Trump dikerjai fans K-Pop. Presiden jumawa ini hendak mengadakan kampanye akbar di Tusla, Oklahoma Juni lalu. Lalu fans K-Pop yang social media friendly itu menyusun rencana menggelikan.

Mereka yang biasa bergadang lewat tengah malam memesan tiket kehadiran di kampanye Trump. Lalu beberapa saat sebelum acara dimulai, mereka serentak membatalkan kehadiran.

Bagaimana hasilnya? Trump yang mengira akan disambut puluhan ribu pendukung mendapati kenyataan pahit. Stadion sepi. Hanya beberapa ribu saja yang hadir. Itupun sudah termasuk panitia dan media yang meliput.

Padahal lima hari sebelumnya Brad Pascale, ketua panitia, sudah memberi berita cerah. Ada satu juta orang yang mendaftar ingin hadir di acara itu.

Hanya saja ia tidak tahu kalau Mary Jo Laupp, generasi tiktok America memposting video. Mengajak orang-orang mengerjai Trump dengan membuat kampanyenya sepi pengunjung. Video itu mendapat 713 ribu likes.

Atas semua ini, Trump meradang. Fans K-Pop girang. Nyatalah bagaimana media sosial menghadirkan lanskap politik yang sama sekali berbeda.

Di Indonesia lain lagi. Buronan korupsi Djoko Tjandra berhasil ditangkap. Tapi penangkapannya itu bukan lahir dari demonstrasi besar berhari-hari. Berjuta-juta. Bukan, bukan begitu. Melainkan dari rasa malu pemerintah kepada rakyatnya.

Para hacker membuka fakta petualangan Djoko Tjandra di media sosial. Pesan itu dilihat, mendapat reaksi, dan dibagikan ke ribuan akun lainnya.

Perhatian media massa terfokus pada isu tersebut. Investigasi dan diskusi digelar di koran dan layar kaca. Rakyat semakin paham bagaimana kongkalikong oknum aparat. Yang seketika mencoreng marwah pemerintah di hadapan rakyat.

Pemerintah mengamuk. Tiga jenderal dicopot, seorang lurah dibebastugaskan, pengacara Djoko Tjandra ditetapkan sebagai tersangka. Dan puncaknya, Djoko Tjandra dijemput dari Malaysia.

Bak di film-film, Polisi Diraja Malaysia dan Polisi Republik Indonesia melakukan transaksi di udara. Di pesawat Garuda, Polisi Malaysia menyerahkan buruan pemerintah Indonesia, Djoko Tjandra.

Jadi Djoko Tjandra sebetulnya tidak diburu di dunia nyata. Ia di eksekusi di dunia maya, media sosial. Informasinya dibongkar di dunia maya untuk membuat pemerintah Indonesia mengamuk dan memburunya.

Begitulah media sosial. Ia merupakan alat yang dapat digunakan untuk banyak tujuan politik. Ia bisa membelokkan perhatian publik dari sebuah isu ke isu lainnya.

Bahkan ada yang bilang, media sosial sudah mengubah relasi publik dan media massa. Jika dulu media massa mengendalikan opini publik lewat framing dan priming. Namun sekarang media massa justru melayani keinginan publik.

Media sosial mampu memberi tahu media massa tentang preferensi berita yang diharapkan pembaca. Apa isu yang publik ingin agar media massa membicarakannya. Yang dengan begitu artinya perhatian pemerintah juga akan beralih ke isu tersebut.

Tapi tampaknya keampuhan media sosial ini tak banyak dimengerti oleh tokoh-tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Kemarin, 18 Agustus, sejumlah tokoh hadir di Tugu Proklamasi, Jakarta. Mereka mendeklarasikan kelompok oposisi non-parlemen.

Menurut KAMI, parlemen sudah masuk angin. Mulutnya tersumpal entah oleh apa sehingga tak mampu lagi kritis. Upaya pemberantasan korupsi juga mandeg. Dan ada banyak persoalan lain yang mendesak untuk diselesaikan pemerintah. Termasuk ancaman resesi ekonomi terkait pandemi corona.

Banyak yang mendukung, dan banyak pula yang mengkritik KAMI. Tapi satu hal yang pasti, KAMI sama sekali tidak memperhitungkan keampuhan media sosial.

Padahal media sosial bukan hanya dapat digunakan untuk mendorong agenda politik mereka. Media sosial juga dapat digunakan untuk membunuh mereka.

Sejak beberapa hari lalu, akun-akun hacker pro istana sudah membobol informasi KAMI dan menyebarnya ke publik. Termasuk password zoom meeting persiapan deklarasi KAMI.

Akun-akun buzzer istana juga sama. Pengerangkaan KAMI sebagai kumpulan orang-orang sakit hati kalah pilpres 2019 lalu sudah dilepas. Cuitan ini mendapat banyak respon.

Hastag-hastag bertebaran di twitter. Sebagaimana lazimnya, hastag adalah salah satu ajian andalan di jagat maya.

Karena hastag bukan hanya berfungsi klerikal, yaitu memgumpulkan cuitan yang membahas topik sejenis. Tetapi juga bersifat semiotik, yakni menginformasikan publik makna apa yang ada dibalik hastag tersebut. Dalam kasus ini, hastag yang dibuat itu kurang lebih bermakna: KAMI hanyalah barisan sakit hati.

Ketika serangan demikian gencar melalui internet, KAMI dapat dibilang tidak melakukan apapun di dunia maya. Memang betul, di KAMI ada Rocky Gerung dan Refly Harun yang punya akun media sosial dengan pengikut ratusan ribu. Tapi itu kalah masif dan taktis dibanding musuh virtual mereka.

Itu karena KAMI seolah melihat realitas politik yang sudah sedemikian canggih dengan kaca mata konvensional. Sama seperti dulu saat media sosial belum hadir untuk membuat erat komunikasi manusia.

Padahal sejak adanya media sosial, cara komunikasi manusia sudah banyak berubah. Semua bisa memproduksi informasi, mengirimnya, mendapatkan tanggapan dalam waktu yang cepat dan biaya murah. Perubahan cara komunikasi ini mengubah realitas politik.

Dulu tanpa adanya media sosial, semua gerakan politik bersifat vertikal. Didahului oleh kemunculan tokoh atau beberapa tokoh kritis yang berkoalisi. Lalu publik akan mempercayai dan mengikuti arahan mereka. Seperti peristiwa 98.

Tapi kini media sosial telah mengubah realitas politik. Gerakan politik justru mensyaratkan sifat horizontal. Yaitu sebuah gerakan politik tanpa pemimpin (leaderless), cair, dan merencanakan sendiri strategi gerakannya. Bukan tersentral pada sosok tertentu.

Mutasi sifat gerakan yang vertikal menuju horizontal ini bisa dilihat pada demo tahun lalu. Terkait sejumlah RUU kontroversial.

Meski belum sepenuhnya horizontal, tapi sifat-sifat partisipasi atas kesadaran pribadi, bukan sorongan tokoh, sudah mulai tampak. Dan semua itu berawal dari hastag menggelitik di twitter. Diperkuat ribuan perbincangan di platform media sosial lainnya. Peran tokoh memang ada, tetapi sudah berkurang kadarnya.

Hasilnya, dalam kadar tertentu, tekanan politik itu berhasil. Jumlah massa yang turun aksi cukup fantastis. Para demonstran berasal dari beragam latar belakang. Gelombang demonstrasi juga menyebar ke banyak tempat di Indonesia. Meski masih ada beberapa kelemahan, tapi sejumlah tuntutan dipenuhi pemerintah.

Jadi demikianlah realitas politik Indonesia saat ini. Kehadiran media sosial sudah mengubah cara manusia berkomunikasi. Akibatnya lanskap politik turut berubah. Media sosial kini punya peranan kunci dalam mendorong agenda politik.

Namun KAMI tidak sensitif akan hal itu. Maka alih-alih berhasil mencapai tujuannya. Koalisi baby boomers ini justru bisa terbunuh di dunia maya. Atau jika bernasib baik, mereka akan menjadi sekedar gerakan moral. Semacam tumpukan buku yang berisi ajaran moral. Hanya tumpukan buku. Tak lebih.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya