Berhentilah Menjadi Covidiot!

Penulis Buku Cerita Anak 'Si Aropan'
Berhentilah Menjadi Covidiot! 10/07/2021 132 view Lainnya freepik.com

Tren pandemi Covid-19 di negeri ini belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Bila hendak membandingkan, kondisi Indonesia kini sangat berbeda dengan, katakanlah, negara-negara di Eropa.

Sebagai contoh perhelatan Piala Eropa 2020. Turnamen yang sedianya digelar tahun lalu itu, saat ini tengah diselenggarakan di sebelas kota di Eropa: London, Baku, Munchen, Roma, Saint Petersburg, Amsterdam, Bucharest, Budapest, Kopenhagen, Glasgow dan Sevilla. Di setiap pertandingan, penonton diperkenankan masuk ke stadion. Jumlahnya pun tidak sedikit. Mencapai angka ribuan. Malah, banyak yang tidak mengenakan masker dan banyak pula yang tidak menjaga jarak.

Apakah virus corona sudah benar-benar lenyap di negara-negara itu sampai-sampai mereka sudah tak memiliki rasa takut lagi? Mereka bisa seberani itu tentu bukan tanpa alasan. Kasus Covid-19 di sana rata-rata sudah turun drastis dan dapat dikendalikan. Selain itu, cakupan vaksinasi mereka juga tinggi dan, yang paling penting, masyarakatnya dikenal disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Bagaimana dengan kita? Boleh dikatakan, keadaan kita berbanding 180 derajat dengan mereka. Di banyak daerah, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diambil sebagai respon atas lonjakan kasus Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir.

Sekolah-sekolah yang tadinya bersiap untuk mengadakan pembelajaran tatap muka di awal tahun ajaran baru 2021/2022, terpaksa harus kembali ke moda daring. Rumah-rumah ibadah pun konon akan kembali ditutup. Pusat perbelanjaan dan pasar-pasar tradisional dibatasi jam operasionalnya.

Ini mirip dengan kondisi awal pandemi tahun lalu, ketika kita memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Saat itu, kondisi ekonomi, spiritual dan sosial bangsa ini benar-benar terguncang. Seluruh elemen masyarakat dipaksa beradaptasi dengan keadaan yang belum pernah dialami sebelumnya. Seharusnya, sesudah satu tahun lebih wabah ini terjadi, kita semakin adaptif. Keadaan semestinya sudah relatif lebih baik, layaknya di negara-negara benua biru.

Tapi, ternyata tidak. Dan sekarang, kita harus menerima semuanya sebagai konsekuensi logis atas sikap kita yang abai dan tidak bertanggung jawab. Lihat saja belum lama ini. Pemerintah berupaya menekan penyebaran virus corona dengan melarang mudik pada libur lebaran lalu. Tapi, banyak dari kita yang tidak mengindahkan. Meski razia dilakukan di sana-sini dengan ketat, kita seperti tak kekurangan akal untuk mencari celah. Pada akhirnya, banyak orang yang berhasil mudik dengan cara curi start atau mencari jalan-jalan tikus. Kini, menyesal pun tidak ada gunanya lagi. Angka positif Covid-19 meningkat tajam. Rumah sakit penuh. Tenaga medis kewalahan. Tabung oksigen kurang.

Saya jadi teringat dengan istilah ‘covidiots’ saat pandemi Covid-19 mulai melanda di tahun 2020 lalu. Terminologi itu digunakan untuk merujuk kepada orang-orang yang abai terhadap protokol kesehatan Covid-19. Suka tidak suka, orang-orang yang tergolong ‘covidiots’ masih banyak di negeri ini. Mereka ada sejak awal pandemi muncul hingga sekarang.

Tingkat kebebalan orang-orang seperti ini juga bervariasi. Ada yang sama sekali tidak percaya terhadap keberadaan virus corona. Ada yang percaya, namun meyakini bahwa efek yang ditimbulkan tidak ada bedanya dengan flu atau demam biasa. Orang-orang ini sering ditemukan tidak menggunakan masker dan masih kerap berkerumun.

Namun, ada level yang lebih parah lagi. Mereka adalah ‘covidiot’ yang menganggap pandemi Covid-19 ini sebagai konspirasi kelompok tertentu belaka. Kelompok tertentu ini dipercaya mengusung agenda terselubung demi kepentingannya menguasai dunia. Jangankan soal menaati protokol kesehatan, ‘covidiot’ jenis ini bahkan tak sungkan ‘berkampanye’ agar masyarakat turut percaya bahwa pandemi ini hanya akal-akalan.

Tak jarang, mereka mengumbar ketidakpercayaan mereka itu dengan cara menebar sensasi di media sosial agar menjadi viral. Ironisnya, ada juga kalangan artis atau social influencer yang ikut-ikutan menyebar propaganda serupa. Seharusnya mereka bahu-membahu turut mengampanyekan protokol kesehatan untuk memerangi pandemi ini.

Memang belum ada studi yang mengkaji apakah perangai dan hasutan para ‘covidiot’ ini menjadi penyebab rendahnya kedisiplinan masyarakat kita. Tapi, terlalu riskan juga jika mengatakan bahwa masyarakat tidak terpengaruh. Setidaknya, pantaulah portal berita media-media online. Setiap kali muncul pemberitaan mengenai Covid-19, tidak sedikit komentar-komentar bernada miring bermunculan.

Saya bahkan sering menemukan komentar-komentar seperti ini: “Selama masih ada anggaran, Covid akan selalu ada.” “Makanya kalau sakit, jangan bawa ke rumah sakit, nanti bakal di-covid-kan.” Benar-benar miris melihatnya.

Memang, tak bisa dimungkiri, ada oknum-oknum ‘nir-perikemanusiaan’ yang menjadikan pandemi ini sebagai ajang menambah pundi-pundi kekayaan. Sebut saja korupsi dana bansos atau penggunaan alat tes swab antigen bekas—untuk sekadar memberi contoh. Namun, tudingan adanya rumah sakit-rumah sakit atau dokter-dokter nakal yang sengaja ‘meng-covid-kan’ pasien non-covid demi gelontoran anggaran yang besar dari pemerintah, sejauh ini masih belum terbukti alias masih simpang siur.

Artinya, tuduhan-tuduhan tidak berdasar kepada para tenaga medis dan ketidakpercayaan pada Covid-19, hanya akan membuat kita terus-menerus terkurung dalam posisi sulit seperti sekarang. Intinya begini. Jangan sampai menunggu terpapar dulu, atau ada anggota keluarga tercinta yang terjangkit, baru kesadaran kita muncul. Karena, seperti adagium dalam dunia kedokteran ‘mencegah lebih baik daripada mengobat,’ hanya kepedulian yang akan menyelamatkan kita.

Negara-negara maju seperti para tuan rumah Piala Eropa berhasil mencapai herd immunity (kekebalan kelompok) karena kedisiplinan. Tanpa kedisiplinan dan kerja sama semua pihak, yang terus terjadi hanyalah herd stupidity (kebebalan kelompok). Maka, berhentilah menjadi covidiot sebelum semuanya menjadi jauh lebih sulit!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya