Tagar ‘Indonesia Terserah’ : Haruskah kita Menyerah?

Pemerhati PSIKOLOGI (Sosial)
Tagar ‘Indonesia Terserah’ : Haruskah kita Menyerah? 21/05/2020 500 view Pendidikan via Twitter @itsmeeyd

Saat ini, tagar ‘Indonesia Terserah’ ramai diperbincangkan dan menjadi trending di Twitter, Instagram dan beberapa media sosial lain. Tagar tersebut kemudian dipopulerkan sebagai bentuk protes dari tenaga medis terhadap perilaku masyarakat yang sudah tidak lagi mengindahkan protokoler kesehatan dan aturan Pemerintah yang selalu berubah.

Adanya tagar ini, menuai banyak respondan dan penilaian dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Guru Besar Psikologi Sosial UGM, Prof Faturochman. Baginya, tulisan ‘Indonesia Terserah’ yang ramai di media sosial tersebut, meskipun bernada menyerah, sebenarnya para tenaga medis tidak menyerah, karena mereka terikat sumpah profesi dan tentu semangat pelayanan dalam diri mereka tidak bisa hilang begitu saja.

Tagar tersebut dilihat hanya sebagai bentuk protes tenaga kesehatan terhadap kurangnya disiplin masyarakat terkait pencegahan Virus Corona dan peraturan Pemerintah yang selalu berubah-ubah bahkan ‘melonggarkan’ PSBB, (Kompas.com, 17/5/2020).

Pertanyaan sekarang adalah, kalau sampai protes ini diabaikan, dan seandainya para tenaga medis sudah tidak peduli dan cuek (masa bodo), apa yang akan terjadi? Mampukah kita merawat diri kita sendiri? Dapatkan orang mati menguburkan orang mati, atau orang sakit menolong orang sakit?

Saya kira tagar ini bukan sesuatu yang biasa. Tagar ini perlu mendapat perhatian serius dari kita semua, terlebih para pemangku kebijakan. Bahwasannya para tenaga medis sudah sangat kelelahan dan jenuh dengan situasi yang terjadi sekarang. Bahkan, saya pernah bertanya kepada salah satu perawat, dia secara jujur mengatakan bahwa dia jenuh karena capek dan lelah mengurus para pasien yang terlalu banyak.

Inilah realita yang tidak bisa kita tampik, bahwa para tenaga medis yang bertugas menangani pasien Covid-19 kini banyak yang mengalami stres/tekanan karena tuntutan pekerjaan yang overload, seperti memberikan pelayanan keperawatan pada pasien, baik untuk kesembuhan ataupun pemulihan status fisik dan mentalnya, memberikan pelayanan lain bagi kenyamanan dan keamanan pasien seperti penataan tempat tidur, melakukan tugas-tugas administratif, dan lain sebagainya.

Apabila keadaan seperti ini berlangsung lama dan terus-menerus, maka pasti para tenaga medis akan mengalami kelelahan fisik, emosi, dan mental. Inilah dikenal dengan gejala burnout (kelelahan kerja).

Karena pelayanan dan penanganan bagi semua orang, baik yang masih berstatus ODP, PDP ataupun bagi yang sudah positif corona, menjadi prioritas utama para tenaga medis yang tidak bisa ditinggalkan apalagi dibiarkan begitu saja, maka kelelahan pun tak terelakkan. Walau demikian, atas nama kemanusiaan mereka tidak bisa melepas tanggung jawabnya begitu saja. Hal utama yang menjadi prioritas adalah kesehatan dan keselamatan banyak orang.

Saya tentu sepakat dengan perkataan Prof. Faturochman, bahwa tagar ‘Indonesia Terserah’ hanya merupakan bentuk ketidakpuasan para tenaga medis atas situasi yang semakin ‘kacau’ dan tidak tentu saat ini. Kalau memang kita mau masuk dalam situasi ‘new normal’, tentu kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Belum lagi, Indonesia saat ini sepertinya akan menerapkan konsep herd immunity. Bagi saya, untuk masuk dalam ‘new normal’ dengan diawali herd immunity belum dapat dilakukan, sebab kebiasaan dan perilaku masyarakat kita masih dibilang ‘sulit’ untuk mengikuti protokoler kesehatan. Sehingga kalau ini dipaksakan, maka angka kematian akan meningkat drastis.

Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga tidak merekomendasikan setiap negara menerapkan herd immunity dan/atau melonggarkan lockdown. Sebab menurut WHO herd immunity bukanlah cara utama yang tepat untuk memutus penyebaran COVID-19. Inilah kompleksitas permasalah yang mungkin tidak kita sadari.

Saat ini, tanggung jawab besar berada di pundak para tenaga medis. Dunia sekarang sedang menggantungkan harapan pada mereka agar semua pasien bisa ditangani dengan baik. Karena itu, dukungan sosial, juga dukungan moril dan materil harus diberikan oleh kita semua. Kalau kita melakukan pembiaran, saya kira akan ada banyak kejadian buruk yang bisa terjadi.

Kita sebagai masyarakat biasa, perlu kritis dan pandai dalam mengelola aktivitas hidup keseharian. Para tenaga medis perlu diberi dukungan agar mereka tetap teguh dalam menjalankan tugas pelayanannya.

Ada banyak bentuk dukungan yang bisa kita lakukan, salah satunya adalah dengan mengikuti anjuran Pemerintah; tetap di rumah, hindari keramaian, jaga jarak, cuci tangan setiap kali menyentuh benda di tempat umum, memakai masker saat keluar rumah dan berbagai cara lain yang kita bisa lakukan sendiri.

Kita juga perlu memberikan dukungan secara emosional kepada para tenaga medis, sebab dengan adanya dukungan emosional itu, mereka merasakan adanya perhatian yang membuat mereka merasa lebih nyaman saat menghadapi kesulitan di tempat kerja. Melalui adanya hubungan yang berarti serta dukungan sosial yang menandakan seseorang diterima, maka pada akhirnya resiliensi perawat akan meningkat.

Dalam situasi ini, resiliensi merupakan hal yang perlu dibangun oleh tenaga medis untuk dapat mengatasi tantangan dan kesulitan di tempat kerja serta sebagai faktor protektif mencegah burnout dan stres berlebihan. Dengan adanya resiliensi, maka kemampuan tenaga medis untuk bangkit kembali dalam mengatasi situasi sulit dapat terjadi.

Resiliensi di tempat kerja merupakan sarana untuk memfasilitasi seseorang tenaga medis agar mampu beradaptasi dengan lingkungan yang penuh tekanan di tengah pandemi ini. Salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi kemampuan tenaga medis dalam mengatasi kesulitan atau stressor adalah ketahanan mental (resilience of efficacy).

Kalau kita ingat jasa mereka, saya kira kita akan tergerak untuk taat melaksanakan berbagai aturan yang disampaikan dalam protokoler kesehatan. Ini semua untuk kebaikan kita bersama.

Semoga para perawat tetap teguh melayani, dan kita harus menghargai mereka dengan cara tetap mengikuti semua anjuran. Biarpun aturan Pemerintah kadang berubah karena kepentingan ‘politis’, tetapi dalam hal kesehatan, kita perlu mengambil sikap yang lebih kritis.

Bijaklah dalam bertindak dan beraktivitas, hormati dan hargailah para tenaga medis, sembari beri dukungan sosial yang penuh terhadap mereka, sebab tanggung jawab mereka sangat berat. Kiranya tagar ‘Indonesia Terserah’ bisa berubah menjadi ‘Indonesia Bangkit’. Bersama kita pasti bisa!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya