Menilai Almira

Menyelesaikan pendidikan filsafat dan ilmu pendidikan, peminat masalah sosial dan politik
Menilai Almira 07/05/2020 661 view Pendidikan Pixabay.com

Beberapa waktu lalu terjadi perdebatan yang cukup sengit di Twitter antara Denny Siregar dan Anisa Pohan. Semua itu bermula dari postingan Agus Yudhoyono di akun Instagram-nya tentang tugas sekolah anaknya Almira. Unggahan Agus itu kemudian dikutip oleh salah satu media dengan judul yang agak sensitif sebagai “Surat Terbuka Putri AHY, Almira Yudhoyono untuk Jokowi, Minta Lockdown agar Tidak Ada Lagi Korban”.

Denny Siregar kemudian menghubungkan berita tersebut dengan menyinggung politik Cikeas yang terkesan mempolitisasi cucunya. Cuitan Denny itu kemudian ramai ditanggapi termasuk oleh ibu kandung Almira, Anisa Pohan. Tentu Anisa mengambil posisi untuk menentang cuitan Denny tersebut. Dalam tulisan ini saya tidak ingin masuk dalam pertengkaran antara Denny dan Anisa serta elit Demokrat lainnya. Fokus saya adalah bagaimana seharusnya publik memberikan penilaian terhadap Almira.

Apa yang diunggah oleh Agus Yudhoyono sebenarnya merupakan tugas sekolah anaknya. Tentu saja sebagai bagian dari tugas sekolah Almira punya hak untuk menentukan pilihan akademisnya terhadap solusi mengatasi penyebaran covid 19 melalui lockdown. Sekali lagi ini adalah pilihan akademis, bukan dukungan kebijakan politik.

Namun hasil pekerjaan Almira sudah terlanjur tersebar di kalangan publik dan bahkan sudah dikutip secara keliru oleh media sebagai ″surat terbuka“ padahal tidak sama sekali. Itu adalah tugas tentang membuat naskah pidato di depan presiden terkait solusi mengatasi penyebaran covid 19.

Ketika diberitakan sebagai ″surat terbuka” publik kemudian menafsirkan itu dari kaca mata persaingan politik, apalagi Demokrat sedang bermain peran sebagai kuasi oposisi terhadap pemerintahan yang ada. Di mana letak kesalahannya? Saya pikir kesalahannya ada pada media yang telah salah mengutip tugas akademis sebagai surat terbuka dan kemudian memberi dimensi politis pada sesuatu yang akademis.

Sebagai tugas sekolah saya pikir Almira mempunyai kebebasan untuk mengambil posisi apapun terhadap kebijakan lockdown. Apakah publik berhak menekan Almira agar tugas akademis harus sesuai dengan kebijakan pemerintah saat ini? Sama sekali tidak. Dalam pendidikan kebebasan dalam mengambil posisi akademis adalah imperatif utama. Pendidikan akan kehilangan jiwanya ketika dia tak mampu menjamin kebebasan akademis para peserta didik. 

Penilaian Akademis

Yang menarik dari perdebatan di media sosial khususnya Twitter yang saya ikuti adalah munculnya beberapa netizen yang berkomentar bahwa "mana mungkin anak SD dikasih tugas tentang lockdown, itu belum mereka pahami dan berlebihan". Komentar tersebut justru datang dari netizen mengaku berprofesi sebagai guru.

Saya tentu merasa miris dengan komentar seperti itu sebab teman kuliah saya yang juga seorang guru sekolah dasar pernah menunjukkan rekaman video muridnya yang baru kelas 4 SD berdebat tentang pilihan terhadap Hilary Clinton atau Donald Trump saat pilpres Amerika 2016 lalu.

Sebagai mantan guru sekolah dasar di salah satu sekolah swasta saya juga pernah berhadapan dengan anak kelas 2 SD yang bertanya tentang di mana keberadaan manusia sebelum dilahirkan, apakah di suatu tempat tertentu dan jika di suatu tempat mengapa kita tidak ingat tempat itu.

Sebagai seorang guru anda tidak boleh langsung melarang anak didik anda untuk memiliki imajinasi akademisnya atau melarang mereka berpikir karena mengganggap itu belum layak untuk usia mereka. Tugas sebagai seorang guru adalah memberikan perspektif berbeda atau mengkaji variabel lain yang mungkin belum dilihat oleh peserta didik.

Dalam tugas Almira tentang solusi mengatasi Covid 19 misalnya, penilaian yang harus diberikan pada Almira adalah penilaian akademis bukan bullying politik. Jika saya adalah gurunya maka saya akan sangat mengapresiasi hasil kerja itu sebagai bagian dari kebebasan mengambil posisi sambil juga memberikan masukan terhadap variabel yang belum disentuh seperti variabel sosial dan ekonomi yang harus dipertimbangkan jika lockdown dilaksanakan.

Sebagai seorang guru anda tidak boleh menilai hasil pekerjaan itu secara politis misalnya dengan menyanggah naskah pidato itu dengan hal yang tidak substansial seperti menyinggung posisi politik ayahnya.

Campur Aduk Politik

Yang terjadi di sini sebenarnya mencampurkan apa yang akademis dengan apa yang politis. Orang menilai tugas akademis sebagai trik politik dan kemudian melupakan esensi dari tugas akdemis tersebut. Alih-alih memberikan variabel yang berbeda atau mengemukan perspektif lain dari kebijakan lockdown, beberapa oknum malah menanggapinya dengan cemoohan politik yang keluar dari esensi masalah yang ada. Ini tentu tidak bagus dalam dunia pendidikan apalagi untuk seorang anak sekolah dasar yang sedang belajar untuk menyusun jalan pikiran.

Jika publik ingin memberikan penilaian politik maka tentu arah dari penilaian politik tersebut bukan Almira sebab ia tidak sedang menjalankan peran politik sebagai ketua partai atau pengurus partai. Tanggapan yang wajar diberikan terhadap tugas akdemis hasil kerja Almira tersebut adalah tanggapan akademis dengan orientasi pada pokok permasalahan lockdown, bukan pada pada siapa ayahnya, kakeknya, serta embel-embel politik yang ada di belakangnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya