Si Kutu Buku dan Minat Baca Masyarakat

Mahasiswa
Si Kutu Buku dan Minat Baca Masyarakat 24/04/2021 60 view Lainnya pexels.com

“Buku, Jendela Dunia”, kalimat yang akrab dijumpai di perpustakaan, toko-toko buku, sekadar tertulis di tembok-tembok jalanan, dan juga sering keluar dari para pendidik demi memotivasi orang membaca. Buku sebagai jendela dunia, sama seperti halnya melihat pemandangan dari jendela rumah, buku menjadi jendela untuk melihat dunia. Kendati kita berada di ujung timur bumi, kita bisa tahu seperti apa bumi bagian barat.

Kalimat tersebut seakan digaungkan di mana-mana sampai hampir semua orang pernah mendengarnya. Namun ironisnya, kendati kita mengetahuinya, tidak langsung membuat kita tertarik untuk membaca. Riset yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, dilakukan oleh Central Connecticut State University, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Sementara menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Tidak hanya soal minat  baca dari pribadi masing-masing saja yang mempengaruhi. Akses dan fasilitas juga menjadi faktor pendukung. Membaca buku sampai saat ini belum menjadi kebiasaan masyarakat umum. Lihat saja berapa banyak orang yang mengunjungi perpustakaan untuk membaca. Bahkan para pelajar pun, hanya akan membaca buku bila disuruh atau untuk mengerjakan tugas semata.

Dengan adanya internet dan berbagai teknologi komunikasi yang ada saat ini, kebiasaan membaca semakin pudar. Setiap orang membawa hand phone kemana mana, tapi tidak dengan buku. Saat saya masih kecil, banyak teman-teman saya cenderung menganggap saya aneh karena selalu membawa buku ke mana-mana. Saya selalu dipanggil ‘kutu buku’.

Istilah kutu buku, merujuk pada mereka dengan kegemaran membaca. Bukan istilah yang negatif bukan? Namun tidak jarang kita menemukan penggunaan kutu buku sebagai istilah dengan konotasi negatif. Seorang kutu buku, sering dicap sebagai orang yang pendiam, tidak mudah bergaul, introvert, dan beberapa anggapan lainnya.

Semua ini tidak terlepas dari pengaruh gambaran-gambaran negatif yang dimunculkan lewat berbagai media lainnya. Semua ini tentunya membentuk persepsi masyarakat. Gambaran negatif yang diterima terus menerus, akan membentuk pandangan yang negatif pula.

Sama halnya dengan saat kita melihat orang bertato. Dalam berbagai film, seorang penjahat selalu diidentikan dengan orang yang bertato. Gambaran negatif yang selalu kita dapatkan ini kemudian akan melekat dalam pikiran. Selanjutnya, setiap kali kita bertemu orang bertato, kita lantas menganggap bahwa dia adalah orang jahat. Padahal tidak semua yang kita pikirkan, sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Jika kita perhatikan, banyak film-film yang menampilkan seorang kutu buku sebagai seorang berkacamata, pendiam, dan selalu membawa buku. Mereka dipandang sebagai orang yang cupu, culun, dan tidak keren.Tidak jarang karakter seperti itu, menjadi bahan bulian. Dalam beberapa film barat yang saya tonton, istilah nerd sering digunakan sebagai ejekan. Padahal orang yang diejek bukan seorang pencinta buku.

Dengan semua anggapan tersebut, tidak mengherankan banyak orang kemudian takut dicap sebagai kutu buku. Maka bisa jadi, salah satu alasan minat baca dalam masyarakat terlihat rendah, dikarenakan kesalahpahaman dalam menilai seorang yang gemar membaca. Ditambah dengan dunia digital saat ini. Orang menjadi lebih akrab dengan laptop, dan hand phone. Saat melihat seorang membaca, itu malah menjadi suatu hal yang ‘wah’.

Pernah sekali saya pergi ke tempat nongkrong dengan teman-teman saya. Kebetulan saya membawa buku, sehingga saat semua tengah sibuk dengan hand phonenya masing-masing, saya menyempatkan diri untuk membaca.

“ Wahh kutu buku nih,  rajin sekali kau membawa buku ke mana mana”, ujar salah seorang teman saya. Mendengar itu, saya langsung merasa aneh sendiri, dan memutuskan untuk tidak lanjut membaca lagi.

Menurut saya, banyak orang yang sebenarnya suka membaca, justru perlahan meninggalkan kesukaannya tersebut untuk bisa bergaul dengan teman-teman sebayanya. Membaca bukanlah hal ilegal atau pun haram, namun pandangan yang diberikan orang membuat seolah itu merupakan hal yang aneh.

Padahal tidak semua pandangan tersebut benar adanya. Semua kembali lagi pada pribadi masing-masing. Seorang kutu buku dianggap tidak bergaul, lebih karena dia memang membutuhkan suasana yang tenang untuk membaca. Tidak mungkinkan, bila kita membaca sambil mengobrol ria?

Dari pada cap pendiam yang diberikan pada kutu buku, bukankah saat ini hand phone juga sudah menjadi barang adiktif? Di tempat-tempat tongkrongan, atau saat kita berkumpul dengan keluarga ataupun teman, sedikit sekali waktu yang digunakan untuk mengobrol. Semuanya lebih terpaku pada layar gawai mereka masing-masing. Apa bedanya dengan seorang kutu buku?

Program-program yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat, bisa dikatakan cukup baik. Namun secara bersamaan, pandangan tentang kegemaran membaca juga harus diubah. Melihat bahwa seorang ‘kutu buku’ bukanlah orang-orang pendiam yang nggak asik.

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari buku. Bukan hanya buku pelajaran, buku apapun memiliki ilmu. Bahkan buku cerita fiksi sekalipun yang hanya khayalan penulisnya. Saya menyadari, banyak hal yang saya dapatkan sebagai seorang kutu buku. Banyak istilah-istilah baru yang saya peroleh. Buku juga tidak lantas membuat saya tidak bisa bergaul dengan teman-teman saya. Justru, buku membuat pikiran saya lebih terbuka sehingga bisa menerima semua pendapat yang berbeda dari saya.

Buku membantu saya memahami realitas dengan lebih jelas. Benar adanya, lewat membaca kita bisa berkeliling dunia tanpa harus beranjak dari kursi. Buku adalah jendela dunia, dan membaca adalah kunci untuk bisa membuka jendela tersebut. Selamat hari buku sedunia!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya