Tafsir Sosial atas Kenyataan Identitas para Aktivis

Mahasiswa
Tafsir Sosial atas Kenyataan Identitas para Aktivis 19/10/2020 1038 view Opini Mingguan pxhere.com

Masih dalam suasana demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law oleh kalangan aktivis dari berbagai latar belakang. Berbagai aksi demontrasi yang terjadi nampaknya tak kunjung usai hingga hari ini. Bahkan sampai tulisan ini ditulis pun aksi demonstrasi para aktivis masih berlangsung di beberapa daerah di Indonesia.

Di balik hiruk pikuk penolakan UU Cipta Kerja oleh kalangan aktivis, ditemui fenomena yang cukup viral di media sosial mengenai foto jadul beberapa figur elit kuasa yang mendorong munculnya berbagai opini di masyarakat.

Foto yang tersebar di media sosial tersebut memperlihatkan sosok aktivis pada masa orde baru yang hari ini justru menjadi figur di lingkaran elit kuasa. Beberapa figur tersebut diantaranya seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Adian Napitupulu.

Entah bersumber dari mana foto tersebut, namun nyatanya yang terjadi adalah fenomena viralnya beberapa foto jadul tersebut yang malah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Viralnya foto tersebut mengakibatkan munculnya berbagai respon di masyarakat.

Berbagai opini muncul dari masyarakat sebagai bentuk tanggapan mereka atas beredarnya foto jadul beberapa aktivis orde baru. Mulai dari respon penolakan melalui dalih lunturnya idealisme yang dimiliki figur tersebut, maupun sebuah persetujuan dengan dalih masa yang telah berubah.

Melalui tulisan ini, saya mencoba mencermati realita foto beberapa aktivis orde baru tersebut melalui sudut pandang yang dimiliki. Sebelum pembahasan lebih jauh, perlu dipahami bahwa perihal viralnya foto beberapa aktivis di masa orde baru tersebut merupakan sebuah realita identitas yang dimiliki pihak yang bersangkutan.

Setiap individu tentu saja memiliki identitas yang melekat dalam dirinya sesuai dengan internalisasi yang diserapnya berdasarkan berbagai realita yang dialami. Sederhananya, identitas terbentuk atas dasar suatu pengalaman atau kenyataan yang terjadi di sekitar individu.

Begitupun yang terjadi pada Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Adian Napitupulu, yang mana identitas elit kuasa yang melekat dalam diri mereka terbentuk atas dasar realita kenyataan di sekitar mereka. Mereka mengalami sebuah pengalaman tertentu yang membentuk suatu identitas yang melekat dalam diri mereka.

Sedangkan perihal inkonsistensi identitas yang dahulu merupakan seorang aktivis, hanyalah sebuah dinamika proses sosial yang dialami individu tersebut. Perlu diketahui bahwa identitas terbentuk atas kenyataan yang diserap oleh individu melalui proses sosialisasi secara primer maupun sekunder.

Sosialisasi kenyataan primer terjadi pada realita paling intim yang dimiliki manusia seperti didikan dari keluarga. Sosialisasi ini cenderung bersifat langgeng, sebab membentuk identitas individu dalam aspek yang sangat fundamental seperti sifat manusia.

Sedangkan sosialisasi kenyataan sekunder lebih hadir dalam realita sehari-hari yang dimiliki manusia. Sehingga identitas yang terbentuk melalui sosialisasi ini lebih dinamis seperti status yang dimiliki individu. Namun dalam konteks tertentu, identitas ini dapat langgeng selagi terdapat elemen yang mendukungnya secara terus menerus.

Lantas yang terjadi oleh Fahri Hamzah, Fadli Zon maupun Adian Napitupulu merupakan realita identitas yang terbentuk atas dasar sosialisasi sekunder yang dialami. Sebab identitas tersebut merupakan bentuk status tertentu yang melekat pada mereka.

Mereka yang disoroti memiliki identitas aktivis pada masa lampau, namun sangat memungkinkan terjadinya perubahan suatu identitas mereka menjadi identitas elit kuasa melalui berbagai proses dinamika yang diserapnya. Sebab kedua identitas tersebut merupakan identitas yang bersumber dari sosialisasi sekunder yang bersifat cukup dinamis.

Bukan perihal pro maupun kontra, melainkan hanya menegaskan bahwa identitas sekunder dalam konteks tertentu dapat bersifat dinamis. Namun, tidak memungkiri juga dalam konteks tertentu yang lain identitas sekunder dapat terlestarikan melalui realita kenyataan yang mendukung identitas tersebut secara terus menerus. Sebagai contoh dapat dilihat pada identitas aktivis yang melekat pada sosok aktivis Munir. Semenjak di bangku kuliah, ia telah memiliki identitas aktivis yang diserapnya melalui realita kenyataan di sekitarnya, seperti tergabung dalam organisasi eksternal HMI.

Menginjak usia dewasanya, identitas aktivis Munir tersebut terus dilestarikan oleh realita kenyataan sekitarnya melalui pendirian LSM dalam bidang kemanusiaan yang diberi nama Kontras. Sehingga melalui realita kenyataan yang terus mendukung identitas aktivis Munir tersebut, maka Identitas yang dimiliki akan terus terlestarikan hingga akhir hayatnya.

Sedangkan dalam konteks Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Adian Napitupulu, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa identitas aktivis mereka yang mulanya dimiliki tergeserkan oleh identitas baru melalui dinamika proses sosial yang mereka alami.

Ditambah identitas aktivis yang dimiliki mereka sebelumnya tidak memiliki faktor kenyataan yang mendukung secara terus-menerus. Sehingga identitas aktivis tersebut dapat tergantikan oleh identitas baru yang mampu menempati diri individu tersebut.

Dapat dikatakan bahwa, segala identitas sekunder yang dimiliki manusia entah apapun itu, akan dapat terus langgeng jika terdapat suatu realita kenyataan yang terus menerus mendukungnya.

Begitupun sebaliknya, jika tidak ada realita kenyataan yang mendukung, ditambah terdapat dinamika proses sosial yang memprovokasi, maka identitas lama dapat tergantikan oleh identitas baru yang relevan dengan realita kenyataan sekitar yang dialami individu.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya