Komunikasi Pasca Corona: Dunia Maya (Bisa) Terasa Nyata

Pemerhati PSIKOLOGI (Sosial)
Komunikasi Pasca Corona: Dunia Maya (Bisa) Terasa Nyata 02/05/2020 1188 view Lomba Esai images.app.goo.gl

Pernahkah kita merenung tentang keadaan kita saat pandemi ini? Adakah yang pernah berpikir bahwa situasi ini, secara tidak langsung telah memaksa kita untuk lebih cepat ‘melek’ terhadap perkembangan teknologi (internet)? Saya kira, tidaklah berlebihan kalau saya berargumen bahwa situasi selama wabah ini sebenarnya telah ‘memaksa’ kita semua (entah tua-muda, anak-anak dan dewasa) untuk ‘segera’ berpacu dan mempelajari perkembangan dunia teknologi yang berkembang sangat cepat.

Sedikit lebih ekstrim, mungkin saja ada unsur politik terselubung yang bisa kita telusuri dari situasi ini, yakni bahwa perkembangan dunia teknologi digital sudah mulai memasuki masa terpentingnya. Karena itu, dunia saat ini, mungkin sedang di ‘refresh’ agar segala kerja kita pada masa lampau yang terlalu kaku dan konvensional, segera beralih ke pekerjaan yang lebih online, lebih cepat, lebih efektif, dan efisien.

Mudah-mudahan prediksi saya tidak benar-benar terjadi. Sekali lagi, ini hanya tulisan kecil yang lahir dari keprihatinan saya selama menjalani masa sulit di tengah pandemi yang belum surut. Terlepas dari semua kepentingan, saya hanya mencoba berpikir ‘miring’ dari kebiasaan kita selama ini. Inilah perkembangan dunia digital yang sudah dan sedang berlangsung dan menggerogoti hidup kita. Di sini, internet telah dipuja layaknya ‘dewa’ atau ‘tuhan’ yang tidak bisa dipisahkan dari keseharian hidup.

Kalau kita lihat, kehadiran internet sebagai media baru dengan sebutan lain cybermedia atau media siber, tidak hanya menjadi sarana menyampaikan pesan dan bank informasi, tetapi juga menjadi ruang budaya baru di era new media seperti sekarang ini. Di mana pada satu titik, sudah menjadi penentu ‘revolusi’ budaya di masyarakat. Bagaimana tidak, kita begitu riuh dan asyik berkutat dalam media siber ini.

Dampak yang nyata dari kemunculan media siber adalah tercetusnya banyak model media sosial dan aplikasi chatting. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, adalah sebagian contohnya. Sedangkan aplikasi chatting seperti Black Berry Messenger, WhatsApp, Line, dan Kakao Talk adalah misal yang lain.

Pergeseran cara berkomunikasi masyarakat begitu pesat, sementara interaksi manusia melalui internet begitu dinamis selama 24 jam non stop.

Bertolak dari data Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), per 8 April 2020, jumlah kenaikan trafic atau lalu lintas data dan suara masih di kisaran 5 sampai 10% (Tirto.id, 8 April 2020).

Di sisi lain, data dari penyedia jasa internet, IndiHome dan Biznet mencatat lonjakan lalu lintas (traffic) data dan pengguna baru sejak diberlakukan bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan belajar dari rumah meningkat 13 persen pada malam hari, sedangkan meningkat 15 persen dibandingkan traffic rata-rata. Lonjakan traffic juga terjadi pada penonton harian TV Interaktif Indihome yang meningkat dari 8 juta ke 11 juta orang, (CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2020). Dan kenaikan akses yang paling signifikan terjadi pada media sosial (medsos).

Hal ini sesuai dengan survei yang dilakukan Lembaga Kantar pada 14 hingga 24 Maret, menunjukkan bahwa WhatsApp sebagai anak perusahaan Facebook itu secara keseluruhan mengalami peningkatan penggunaan sebanyak 40%. Jumlah itu meningkat dari 27% di awal pandemi ke angka 41% pada pertengahan fase ini. Di beberapa negara yang sudah lebih dulu menerapkan kerja dari rumah, penggunaan WhatsApp sudah melonjak ke angka 51% (Tek.Id, 27 Maret 2020).

Fenomena melonjaknya akses media sosial sepanjang pandemi ini kemudian menjadikan sebagian dari kita ‘merasa nyaman’ dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara virtual melalui media sosial yang ada. Bahkan, tanpa kita sadari, komunikasi virtual dalam dunia yang ‘maya’ itu sudah membuat kita merasa seolah-olah nyata. Sadar atau tidak, kita semua akan menganggap bahwa dunia maya itu adalah sesuatu yang ‘nyata’. Padahal faktanya tidak demikian.

Dunia interaksi manusia pada hakekatnya adalah nyata (face to face). Internet dengan segala anak cucu media sosialnya, haruslah dipandang sebagai sarana penghubung, dan tidak bisa dirasakan atau dijadikan sebagai keadaan yang nyata atau benar-benar terjadi. Ke-maya-an dunia interaksi manusia melalui internet (baca:media sosial) yang ditawarkan saat ini, tidak bisa menjadi alasan untuk merubah budaya gotong royong, kebiasaan duduk bersama, (baku dapa dan bacerita), budaya musyawarah, budaya sosial, budaya kekeluargaan dalam arisan dan sebagainya.

Ke-nyata-an interaksi manusia yang sebenarnya harus terus terjaga, kendati perkembangan sarana komunikasi terus berkembang, karena pada hakekatnya, interaksi dan komunikasi adalah kesempatan di mana dua atau lebih orang saling bertatapan mata, dan dilengkapi dengan ‘sentuhan’, baik itu berupa jabat tangan, berpelukan, cipika-cipiki, bergandengan, atau dalam tradisi kami di NTT ada kebiasaan 'cium hidung', dan beragam sentuhan rasa saudara yang lazim dilakukan masyarakat selama ini.

Bagi saya, tradisi ‘sentuhan’ kekeluargaan dan persaudaraan yang sudah sejak lama kita lakukan itu adalah tindakan nyata yang tidak bisa tergantikan dengan teknologi secanggih apapun.

Tegas saya, manusia membutuhkan sesama yang nyata, bukan maya. Memang tak bisa dielak bahwa perkembangan telekomunikasi dan teknologi saat ini terus berjalan. Hal itu wajar dan tidak salah. Akan tetapi, kita perlu ingat bahwa sebenarnya kita masih hidup dan berinteraksi di dunia nyata. Karena itu, pantas dan layaklah kalau saya mengatakan bahwa intensitas berkomunikasi di dunia nyata harus menjadi prioritas utama, supaya rasa kekeluargaan kita semakin kuat dan nyata.

Saya tahu, bahwa situasi ini di tengah pandemi ini memang memaksa kita untuk berkomunikasi secara virtual dengan orang lain. Tetapi kita harus ingat, jangan sampai di dalam rumah (se-rumah) pun kita berkomunikasi secara maya dengan orang tua, atau kakak-adik, atau dengan anggota keluarga lainnya.

Realita ini bukan tanpa alasan, sebab kalau melihat keadaan dan perilaku kita sekarang, dalam suatu pertemuan, sebut saja di rumah misalnya, komunikasi intens yang terjadi paling hanya 10-15 menit awal. Itupun hanya sapaan biasa yang dihiasi dengan basa-basi menanyakan kabar dan keadaan lawan bicara kita.

Selebihnya, setiap kita akan lebih sibuk dengan orang lain di ‘genggaman’ alat yang dinamakan gadget (Hp). Sungguh menyedihkan ketika melihat ada dua/tiga orang berkumpul di suatu ruangan, atau tempat umum, tetapi mereka sibuk dengan Hp mereka masing-masing dan tidak peduli dengan sesama di samping.

Sudah hilangkah rasa dekat bersama orang lain? Bagaimana relasi batin bisa terbentuk, kalau perilaku dan rasa kita menganggap kalau dunia maya itu lebih mengasyikan? Kasihan ya,,, dunia maya yang sebenarnya tidak nyata sudah merubah ‘kebiasaan’ kita dalam berperilaku, saling menyapa dan bertutur kata.

Sekali lagi, saya tidak menyalahkan perkembangan teknologi saat ini. Yang sangat saya sayangkan adalah perilaku kita yang perlahan mulai bergeser ke dunia maya. Kita seolah merasa lebih penting berurusan dengan teman-teman di media sosial, dari pada sahabat atau tetangga atau keluarga sendiri yang mungkin sedang ada di hadapan kita.

Kiranya, lewat tulisan kecil ini, kita bisa disadarkan bahwa dunia yang sebenarnya adalah dunia nyata, di mana komunikasi langsung yang terjalin pasti disempurnakan melalui ‘sentuhan’ kasih persaudaraan bersama orang lain yang hadir di hadapan kita secara riil. Dunia maya hanyalah ‘fantasi’ akal kita yang tidak boleh merusak semangat kebersamaan untuk saling ‘baku dapa’ secara langsung. Dunia maya, janganlah dianggap nyata, selama masa sulit ini.

Kalau kita tetap mempertahankan ke-nyata-an komunikasi dan interaksi yang intens, niscaya, pasca pandemi Covid-19 ini, dunia yang maya akan tetap menjadi sarana dan bukan kebutuhan utama. Dunia maya akan tetap maya selamanya.

Jadilah pribadi yang kuat merindu ‘nyata’ dalam berelasi bersama orang lain, karena kita sedang hidup di dunia ‘nyata’, bukan virtual. Jadikan Komunikasi mayamu menjadi nyata pasca corona, sebab jumpa nyata selalu membawa sejuta makna.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya