Disrupsi dan Tantangan Pendidikan di Era Digital

Aktivis Mahasiswa
Disrupsi dan Tantangan Pendidikan di Era Digital 11/05/2024 109 view Pendidikan Kompas.id

Dunia telah mengalami revolusi di bidang teknologi. Gelombang pertama revolusi teknologi dimulai dengan ditemukannya mesin uap, gelombang kedua dimulai karena penemuan motor listrik, revolusi teknologi gelombang 3.0 dan 4.0 karena penemuan digital, semua aspek kehidupan manusia berbasis digital.

Perkembangan teknologi di era digital saat ini dapat dianalogikan seperti pisau bermata dua. Dimana satu sisi membawa dampak baik berupa kemudahan bagi manusia. Di sisi lain memberikan dampak buruk berupa perubahan secara besar-besaran jika tidak diantisipasi dengan baik.

Masifnya penggunaan jaringan internet di berbagai penjuru dunia dapat tandai dengan perkembangan di bidang teknologi digital ini. Tentu saja, hal ini ditandai dengan orang-orang di satu kota dan kota lain dengan sangat mudah bisa bertukar informasi dengan yang lain. Sebuah era baru pun muncul karena adanya perkembangan teknologi digital. Era ini Bernama Cyber Communication Era, yang ditandai dengan perkembangan di berbagai platform media sosial yang ada di tengah kehidupan masyarakat.

Pada saat ini, komunikasi bukan lagi hanya sebatas interaktif tapi juga dapat berjejaring. contohnya, jika kita sedang mengakses media sosial bukan berarti kita hanya sebagai konsumen informasi dan bukan hanya terlibat dalam komunikasi tersebut, namun kita juga berjejaring atau membuat jaringan dengan orang lain. Ada jaringan followers atau saling tag satu dengan yang lain sehingga muncul jejaring sosial tersebut.

Pada Cyber Communication Era, juga bisa membuat setiap individu menjadi produsen informasi, seperti membuat akun di berbagai media sosial atau membuat channel di Youtube sehingga batas antara produsen dan konsumen informasi semakin tipis.

Selain itu, perkembangan di era teknologi digital sangatlah berperan penting dan memberikan dampak dalam kehidupan manusia, baik dampak positif dan negatif. Di era digitalisasi yang begitu masif sekarang, jaringan internet sangat mempermudah segala kebutuhan primer manusia, baik dari aspek informasi hingga kebutuhan sehari-hari dapat dijangkau dengan sangat mudah.

Dampak dari dunia digital sekarang ini, bisa diibaratkan dengan frenemy yaitu Friend dan Enemy. Friend berarti teman yang mana memiliki arti bahwa dunia digital bisa mempermudah pekerjaan manusia dan menjadikan pekerjaan seseorang menjadi lebih efisien. Sedangkan kata Enemy berarti musuh yang memiliki arti bahwa dunia digital bisa menjadi musuh karena mereka terlalu banyak mengambil privasi seseorang.

Masifnya Perkembangan teknologi atau yang disebut dengan disrupsi teknologi ini terjadi pada abad 21 yang di tandai dengan suatu perubahan yang drastis dari masyarakat industri menjadi industri teknologi dan informasi. Disrupsi digital mengacu pada interupsi atau perubahan radikal yang terjadi di suatu industri atau pasar akibat adopsi dan penerapan teknologi digital. Hal ini melibatkan transformasi model bisnis tradisional dan penciptaan pendekatan baru yang memanfaatkan peluang yang disediakan oleh teknologi digital. Disrupsi digital dapat berdampak pada berbagai sektor seperti ritel, perbankan, pendidikan, kesehatan, dan dapat mengubah cara perusahaan beroperasi, berinteraksi dengan pelanggan, dan menghasilkan nilai.

Di era disrupsi digital yang terus berkembang, Pendidikan di perhadapkan dengan tantangan yang begitu luar biasa dalam menyesuaikan diri pada perkembangan teknologi yang sangat massif. Revolusi teknologi digital telah mengubah lanskap pendidikan yang signifikan, membawa berbagai perubahan cara siswa atau mahasiswa, guru pengajar, dan institusi pendidikan. Tantangan-tantangan ini memunculkan pertanyaan kritis tentang efektivitas Pendidikan dan keberlanjutan pembelajaran di era disrupsi digital ini. Lalu, apa saja yang menjadi tantangan Pendidikan di Era Disrupsi teknologi?

Tantangan pertama adalah tentang kurikulum, karena ini merupakan pegangan sebagai bekal kegiatan para pelajar di sekolah. Selama ini indonesia mempunyai tradisi mengganti kurikulum setiap 10 tahun, padahal perubahan dunia teknologi digital terjadi setiap hari.

Hal ini harus dipikirkan bagaimana cara untuk membentuk kurikulum yang bisa beradaptasi, ini mendisrupsi kebiasaan yang ada selama ini. Mungkin lebih baik secara bertahap sehingga polanya mengikuti zaman. Melalui kurikulum, kita ditantang untuk menyiapkan anak-anak yang bisa mempunyai pemikiran antisipatif, kritis, analitis, kreatif dalam memecahkan masalah, berinovasi, dan mempunyai karakter yang bisa beradaptasi untuk hal-hal baru di dunia digital. Karakter itu akan membekali anak-anak kita agar bisa hidup dalam zaman yang penuh kompleksitas dan ketidakpastian, tapi pada saat yang sama penuh dengan kesempatan.

Tantangan kedua yakni mengenai pengajaran atau penyampaian. Materi pelajaran yang bisa diajarkan oleh guru dengan mudah biasanya akan mudah pula digantikan dengan teknologi. Kalau guru mengajarkan hanya menyampaikan materi yang tertulis di buku, maka tidak ada bedanya dengan internet. Bahkan informasi di internet jauh lebih banyak dan kaya, dimana para pelajar sekarang sudah bisa mencarinya sendiri tanpa bantuan guru.

Namun, untuk mengubah kebiasaan mengajar bukan persoalan mudah. Selama ini segala macam hal mengenai pengajaran diatur dari pemerintah pusat. Pengajaran seolah-olah pekerjaan manual, padahal sebenarnya penuh dengan kreativitas, inovasi. Maka dari itu, harus ada perubahan aspek di semua lini. Jadi, tantangan yang sebenarnya adalah perubahan paradigma mengajar. Hal yang mudah biasanya akan mudah juga di otomasi. 

Tantangan terakhir yakni mengenai tes atau asesmen. Saat ini negara terus berusaha memperbaikinya. Sebab, asesmen diperlukan untuk mengetahui keberhasilan suatu sistem belajar. Asesmen yang baik adalah yang benar-benar bisa menunjukan kemajuan dan perkembangan seorang siswa dengan jujur, tanpa dibuat-buat. Asesmen harus melibat diri kita apa adanya untuk mengetahui kemajuan hasil pembelajaran anak-anak dan bisa memperbaiki diri sehingga dapat belajar lebih baik.

Dalam dunia pendidikan, kemajuan teknologi membawa manfaat yang sangat besar, baik dalam segi menyampaikan pelajaran untuk para pengajar dan pemahaman materi bagi peserta didik. Di beberapa sekolah, penggunaan media pembelajaran digital sudah menjadi sarana wajib bagi setiap sekolah. Sarana media pembelajaran digital yang bermutu dapat meningkatkan kualitas belajar siswa dan meningkatkan motivasi siswa dalam kegiatan belajar. Motivasi ini terbentuk karena kesadaran diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan masa depan. Selain itu, faktor eksternal lain berupa rangsangan dari orang lain, atau lingkungan sekitarnya yang memengaruhi psikologis peserta didik yang bersangkutan.

Kecanggihan teknologi digital memudahkan para pelajar karena beroperas secara otomatis, cepat, berkualitas, efektif, effisien, mudah mentransfer data dan informasi. Kemajuan digital yang semakin masif tentunya membawa dampak yang positif dan juga negatif jika tidak disikapi dengan seksama.

Penggunaan teknologi memunculkan ide baru yang lebih inovatif sehingga kelas tidak terkesan monoton, namun perlu mengontrol diri agar nilai humanisme guru terhadap murid tidak hilang. Setiap pelajar harus cerdas memanfaatkan peluang kemajuan teknologi digital di berbagai bidang kehidupan termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan. Peluang ini cukup memberikan harapan jika dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam rangkaian meningkatkan kualitas dalam dunia pendidikan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya