Social Media Rule the World!

Mahasiswa manajemen industri
Social Media Rule the World! 26/02/2020 1706 view Lainnya

Rasanya banyak sekali fenomena yang bisa kita ambil dari media sosial dan betapa media sosial merubah kehidupan “sosial” manusia. Tulisan saya ini akan berpusar pada beberapa fenomena yang berkaitan dengan dunia sosial media saat ini.

Sebelum masuk pembahasan, menurut Cambridge Dictionary, media sosial adalah website dan program dalam komputer yang mengizinkan manusia untuk berkomunikasi dan berbagi informasi di internet dengan menggunakan perangkat komputer atau handphone. Menurut definisi ini, saya memberi highlight pada platform – platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan sebagainya yang selain mampu menyediakan hal – hal sesuai dengan definisi media sosial diatas, juga merupakan “raksasa” dalam dunia media sosial ini.

Kekuatan pengaruh media sosial sudah banyak digunakan dan tidak hanya pada sebatas tingkat individu per individu. Tetapi juga pada level korporat hingga negara.

Sebagai contoh pada level korporat, perusahaan minuman asal Amerika serikat, coca cola memiliki Youtube channel Coke TV yang menggandeng youtuber setempat. Mereka paham betul dan mengincar kuatnya ikatan emosional antara youtuber dengan subscribernya.

Perusahaan Pizza, domino, memiliki program ”tweet-to-order” dengan memanfaatkan sistem bot di platform Twitter. Lebih keren lagi. Pada tahun 2012, mereka melakukan kampanye di Twitter ber-hashtag #letsdolunch, dimana domino menawarkan harga yang semakin murah dengan semakin banyaknya konsumen yang melakukan tweet.

Contoh lain untuk level negara, Amerika Serikat dilaporkan meminta informasi lengkap mengenai media sosial seseorang yang akan mengajukan visa ke negaranya. Dilaporkan oleh BBC news, pihak berwenang menegaskan akan ada “serious immigration consequences” bagi mereka yang berusaha berbohong mengenai infromasi di dalam media sosialnya.

Setelah memahami beberapa contoh nyata kekuatan pengaruh dari sosial media, utamanya dari di luar negeri atau secara global, kini kita berbalik menatap apa yang terjadi di Indonesia kita tercinta. Di Indonesia sendiri, masifnya dampak dari media sosial memaksa pemerintah untuk merumuskan hukum bagi pengguna media elektronik secara umum yang kita kenal dengan Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE.

Memang nyatanya, salah satu dampak paling riil dari media sosial adalah teramplifikasinya konsep “bisik – bisik tetangga” yang mendarah daging di dalam budaya orang Indonesia. Jangankan ngomongin mobil baru tetangga depan rumah bareng tetangga samping rumah, nyinyirin pemerintah dengan orang yang sama sekali tidak dikenalpun biasa dilakukan dalam hitungan detik.

Fenomena media sosial yang menjadi gaya hidup baru dari masyarakat ini juga ternyata bisa membantu pemerintah dalam membuka lapangan kerja yang baru. Saat ini, mungkin jika anda bertanya pada anak usia delapan atau sembilan tahun tentang cita – cita mereka, jangan kaget jika anda menemukan jawaban “ingin menjadi youtuber”. Faktanya, youtuber sudah menjadi sebuah profesi yang memungkinkan bagi seseorang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih dari cukup.

Sudah terlalu banyak contoh media sosial memberi lahan penghasilan bagi seseorang yang mungkin dulunya adalah mas – mas biasa atau mbak – mbak mahasiswi pada umumnya. Seseorang yang rajin menghasilkan video, diupload di Youtube, orang suka kemudian nonton, dapat uang, jadi youtuber. Mas – mas atau mbak – mbak yang punya penampilan rupawan dan menawan, suka foto – foto, diupload, banyak yang suka, ditawarin endorsement, dapat uang, jadi selebgram di Instagram. Orang yang hobinya ngelamun, suka beropini, diuplod di Twitter, jadi seleb twit. Ah, kreativitas ditambah kerja keras dan sedikit keberuntungan rasanya sudah bisa hidup jaman sekarang.

Selanjutnya saya mau memperkenalkan sebuah konsep yang sangat penting dalam memahami fenomena dahsyatnya media sosial saat ini, yaitu konsep “virality”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, kata viral mengambil dari sifat virus, yaitu menyebar luas dan cepat.

Dengan adanya media sosial, orang tidak perlu menunggu headline berita hari ini hingga pagi hari esok termuat di dalam koran. Jangankan headline berita, apa yang terjadi di sebuah gang di seberang pulau saja dapat diketahui dengan cepat.

Jangankan apa yang dialami seorang artis ibukota, pertengkaran Ibu dan seorang pemudi di dalam KRL saja bisa diketahui oleh orang yang bahkan tidak tahu dua objek itu siapa. Jangankan kejadian kerusuhan yang terjadi di kantor pemerintah, ada pengemudi yang mengamuk saat ditilang di jalan saja bisa ditonton jutaan masyarakat Indonesia.

Konsep virality inilah yang biasanya diincar oleh korporat dalam program pemasarannya. Bayangkan saja, dengan biaya pemasaran yang minim (tanpa menaruh iklan di televisi atau koran) dengan pengelolaan media sosial yang baik, korporat dapat menjangkau puluhan juta orang untuk mengenalkan produknya.

Hal ini berujung pada fenomena terkahir yang membuat saya geleng – geleng kepala. Sebuah cerita yang menjadi viral di platform Twitter yang kemudian diangkat menjadi sebuah film yang akan diputar serentak di Indonesia tidak lama lagi. Wow.

Bayangkan, seorang penulis film sekarang tidak perlu pusing berkreasi membuat alur cerita film. Cukup dengan mengamati cerita apa yang lagi viral di media sosial dan kemudian dibikin film. Voila!

Menurut analisa saya pribadi, 90% penonton film ini adalah mereka yang sudah mengikuti ceritanya sejak cerita ini viral di Twitter karena termotivasi oleh rasa sense of belonging atau terikat secara emosi dan ikut memiliki cerita ini. Sisanya adalah orang yang belum baca ceritanya dan dipanasin sama orang yang sudah baca cerita ini.

Begitulah kurang lebih pandangan saya mengenai dahsyatnya dampak media sosial. Betapa media sosial mampu merubah gaya hidup masyarakat.

Saran pribadi dari saya jangan terkejut terlalu lama. Karena perubahan – perubahan berikutnya sudah siap di depan mata. Sekarang program di Internet sudah memungkinkan kita untuk “mengkreasi ulang” hidup kita secara utuh.

Cobalah buka website – website semacam secondlife.com. Disana anda dapat membuat sebuah pribadi virtual, lengkap dengan pilihan tampilan bentuk fisik, jenis kelamin, pekerjaan, dan lain – lain sesuai dengan yang anda inginkan. Pribadi virtual anda akan “hidup secara virtual” 24 jam sehari, melakukan rutinitas layaknya di kehidupan nyata, berkenalan dengan pribadi virtual lainnya dari seluruh penjuru dunia.

Saya punya sedikit kekhawatiran bahwa perkembangan “sosial” ke arah ini akan membuat semacam wadah bagi mereka yang tidak puas dengan kehidupan nyatanya untuk hidup di dunia virtual. Semoga ini tidak pernah terjadi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya