Mungkinkah Membuktikan Perkara Ghaib?

Anak Rumahan
Mungkinkah Membuktikan Perkara Ghaib? 20/12/2020 227 view Hukum pixabay.com

Beberapa waktu yang lalu saya dikejutkan dengan berita yang menuliskan bahwa Ust. Haikal Hassan atau yang akrab disapa Babe Haikal dipolisikan karena menceritakan mimpinya berjumpa dengan Rosulullah SAW.

Pernyataan beliau tersebut disampaikan ketika pemakaman laskar FPI yang meninggal pasca bentrok dengan aparat kepolisian. Dalam pidatonya tersebut, Babe Haikal menceritakan pengalamannya saat ditinggal kedua buah hatinya menghadap Sang Pencipta. Saat itu beliau bermimpi didatangi Rosulullah yang mengatakan jika kedua anaknya sudah bersama dengan Beliau SAW. Lantas apa yang salah sehingga Babe Haikal dilaporkan ke polisi?

Sejujurnya saya merasa lucu dan tergelitik karena kasus ini. Bisa-bisanya hal seperti ini dilaporkan ke Polisi dan dipermasalahkan secara hukum. Ust. Haikal dilaporkan karena melanggar beberapa pasal dengan tuduhan berbohong, menistakan agama, dan menimbulkan keonaran. Yang lebih membuat saya heran dan bertanya-tanya adalah dasar dari tuduhan tersebut yang berupa mimpi lalu bagaimana cara membuktikannya.

Didalam agama Islam, kita mengenal istilah alam nyata dan alam ghaib. Alam nyata adalah alam yang kita diami saat ini. Secara sederhana, sesuatu yang bisa dirasakan dengan Indera adalah hal yang berada di alam nyata. Sesuatu yang berada di alam nyata harus bisa dibuktikan secara empiris. Sedangkan, untuk hal-hal yang berada di alam ghaib tidak bisa dibuktikan secara empiris. Contohnya adalah jasad dan ruh. Jasad bisa dilihat, disentuh, digenggam, dibaui dan dirasakan. Sedangkan ruh, tentu saja tidak bisa. Bila ada sesorang yang mengaku bisa melihat ruh, apakah dia berbohong? Belum tentu, bisa jadi benar bisa jadi juga bohong, karena tidak ada cara untuk membuktikan hal tersebut, ruh adalah perkara ghaib yang menurut persepsi pribadi seseorang bisa saja ada bisa saja tidak.

Melaporkan seseorang ke Polisi atas dasar sesuatu yang ghaib menurut saya sebagai orang yang awam hukum adalah sebuah fenomena yang lucu. Karena bila kita melaporkan seseorang ke Polisi dengan tuduhan apapun, maka tuduhan tersebut harus dapat dibuktikan. Terbukti atau tidaknya, bukan menjadi masalah. Yang terpenting adalah ada cara untuk membuktikan apakah tuduhan itu benar atau tidak. Bila tidak ada cara untuk membuktikannya, lantas apa dasar yang akan digunakan untuk menghukum orang tersebut?

Dari laporan Pelapor, beliau menganggap Ust. Haikal Hasan telah berbohong. Pertanyaannya adalah, dimana letak keberbohongannya? Jika beliau berbohong bermimpi bertemu dengan Rosulullah, lantas bagaimana membuktikan kebohongan tersebut? Sedangkan kebohongan sendiri adalah ketidakcocokan antara ucapan dan fakta. Bagaimana menguji statement tersebut dengan mimpi yang beliau ceritakan? Bila saya berkata pernah pergi ke Eropa padahal kenyataannya belum pernah, jelas saya berbohong. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat catatan perjalanan saya di imigrasi, cacatan pembelian tiket dan lain-lain. Namun bila saya berkata saya bermimpi pergi ke Eropa, bagaimana membuktikan saya berbohong?

Saya bukan tipe orang yang percaya jika ada seseorang mengaku bermimpi bertemu dengan Rosulullah SAW. Menurut saya tidak ada cara untuk membuktikan apakah yang datang dalam mimpi itu Rosulullah atau bukan kerena tidak ada manusia yang masih hidup di zaman sekarang pernah bertemu dengan Rosulullah SAW. Namun hal ini juga tidak bisa menjadi bukti kalau seseorang tersebut telah berbohong. Di dalam mimpi, apapun mungkin terjadi. Tidak ada yang mustahil dalam mimpi. Seseorang bisa jadi pahlawan super, penyihir, presiden, peri, bidadari, orang kaya, sultan, raja, atau apapun yang dianggap mustahil terjadi di dunia nyata, bisa terjadi di dalam mimpi.

Pelapor juga menganggap bila sebaiknya mimpi seperti itu tidak usah diceritakan karena dapat menimbulkan pro dan kontra. Menurut pelapor, hal tersebut adalah pengalaman spiritual pribadi yang tidak perlu diumbar. Saya merasa ada yang lucu dalam hal ini. Sependek pengetahuan saya, Negara ini adalah Negara demokrasi dimana setiap warga Negara punya hak untuk bersuara dan mengemukakan pendapat. Bila menceritakan mimpi saja dilarang, lalu dimana letak demokrasi yang katanya menjunjung tinggi kebebasan berbicara. Bukan pula hal yang aneh bila pernyataan seseorang menimbulkan pro dan kontra. Pro dan kontra itu adalah hal yang biasa dalam hubungan antar manusia. Ketika saya bilang saya cantik, apa tidak akan menimbulkan pro dan kontra? Tentu saja tidak. Lantas bila terjadi pro dan kontra karena penyataan saya tersebut, apakah pernyataan itu tidak boleh diutarakan?

Selanjutnya disampaikan juga bila Babe Haikal telah berbohong karena menyatakan laskar FPI yang meninggal tersebut mati syahid dan telah bersama dengan Rosulullah. Pelapor menganggap jika keenam orang tersebut tidak mungkin mati syahid. Lagi-lagi hal ini juga merupakan perkara ghaib yang tidak bisa dibuktikan.

Bagaimana cara membuktikan jika seseorang mati syahid atau tidak? Bukankah hanya Allah yang mengetahuinya. Karena mati syahid bukan hanya perkara cara matinya tetapi juga niat dalam hati orang tersebut, yang tentu saja hanya diketahui oleh Allah. Babe Haikal hanya menyakini bila orang-orang tersebut mati syahid dan sudah bersama dengan Rosulullah. Apakah menyakini hal seperti itu adalah kejahatan?

Contoh lainnya, menurut kenyakinan Islam, bila seseorang mati tidak dalam keadaan muslim, maka dia masuk neraka. Misalnya ada seseorang atheis meninggal dunia. Kenyakinan saya sebagai seorang Muslim, seseorang tersebut masuk neraka karena dia mati dalam keadaan tidak beriman. Bagi orang-orang atheis yang lain, tentu saja mereka tidak percaya. Mereka bahkan tidak percaya adanya surga atau neraka, bagaimana bisa menyakini kalau yang meninggal tadi masuk neraka. Namun, apakah bisa dibuktikan bila saya berbohong?

Tuduhan selanjutnya yang dilaporkan oleh pelapor adalah tuduhan penistaan agama. Melihat dari sudut pandang orang awam, saya tidak melihat ada unsur penistaan agama di dalam pernyataan Babe Haikal tersebut. Babe haikal tidak sedang merendahkan agama Islam atau tidak sedang merendahan atau menghina Rosulullah SAW. Bila pernyataannya itu dianggap berbohong atas nama Rosulullah SAW, sekali lagi pertanyaannya adalah bagaimana cara membuktikan kebohongan tersebut.

Bila dalam tuduhan kebohongan tidak bisa dibuktikan, apakah masih bisa dilanjutkan proses hukumnya? Sebagai masyarakat awam tentu saja ini memancing rasa penasaran saya. Terlebih lagi pelapor mengaku melaporkan Babe Haikal untuk mencegah terjadinya keonaran dikarenakan penyataan beliau tersebut. Pelapor beranggapan jika hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan keonaran di kemudian hari sehingga pelapor merasa perlu melaporkan hal ini sebagai upaya pencegahan hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan.

Lagi-lagi hal ini menimbulkan pertanyaan bagi saya. Bisakah seseorang dilaporkan ke Polisi dengan tuduhan yang belum terjadi. Misal saya melaporkan tetangga saya karena saya merasa yakin kalau tetangga saya akan mencuri di rumah saya. Saya mencurigai tetangga saya mengincar perhiasan saya dan berniat untuk mencurinya suatu saat nanti. Untuk mencegah tetangga saya mencuri perhiasan saya, lantas saya melaporkannya ke Polisi. Saya menggap bahwa hal yang tidak diinginkan tersebut dapat dihindari bila tetangga saya dimasukkan ke penjara. Apakah hal ini dibenarkan dalam hukum?

Sebagai masyarakat awam biasa yang tidak mengerti banyak tentang hukum, saya merasa kasus ini adalah kasus yang lucu dan tidak masuk di akal. Bagaimana bisa hal-hal ghaib seperti mimpi, kematian dan masa depan dijadikan dasar untuk menghukum seseorang. Saya merasa hukum Negara ini akan menjadi bahan tertawaan dan lelucon jika hal tersebut sampai diproses secara hukum. Tidak masalah berbeda pendapat, tidak masalah jika kita tidak mempercayai ucapan seseorang, namun untuk membawa perkara tersebut ke ranah hukum, tentu saja harus berdasarkan bukti empiris, tidak bisa berdasarkan asumsi atau dugaan semata. Bila hal itu terjadi, saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Negara yang katanya Negara hukum ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya