Senja Kala Bocah Miskin Kota, Bola Raya, dan Impian menjadi Arhan

Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga
Senja Kala Bocah Miskin Kota, Bola Raya, dan Impian menjadi Arhan 06/03/2022 166 view Politik rmol.id

Dari kampung menuju go Internasional!, tak heran jika Arhan Pratama jadi sosok idola para bibit-bibit bintang pemain bola seantero nusantara.

Tak terkecuali Panjul. Bocah yang baru duduk di bangku kelas 2 SMP tersebut kiranya sangat mengagumi Arhan jika ditanya mengenai siapa sosok pemain bola idolanya sekarang. Entah dari sudut pandang mana ia mengidolakannya. Mungkin karena permainannya di piala AFF kemarin, atau bisa jadi dari kabar direkrutnya Arhan di klub luar, namun bisa juga karena skil lemparan bola Arhan yang terbilang langka di ranah sepak bola lokal.

Memang dari kecil Panjul sangat menyukai sepak bola, sempat ia bilang kepada orang-orang di sekitarnya bahwa suatu saat nanti ia akan bermain di klub luar untuk mengasah skilnya sama seperti Arhan sekarang. Namun naas, kelak apa yang menjadi impiannya tersebut kadang kala tidak semulus dengan apa yang dibayangkan.

Sebenarnya jauh dari persoalan mengasah skil potensi atau teknik permainan di atas lapangan dan sebagainya, untuk bermain bola saja Panjul harus seringkali bergesekan dengan ruang-ruang sempit di antara gedung-gedung mewah tengah kota. Hingga yang lebih parah lagi Panjul harus bermain dengan anak-anak lainnya di jalanan yang sering ia sebut dengan “Bola Raya”.

Panjul tinggal di kota, tepatnya tengah kota Surabaya bagian lorong-lorong, di mana cukup sulit untuk menemukan ruang hijau selain taman buatan. Bukan kota dengan histeria bola yang eksklusif, sehingga untuk bermain bola seperti bola raya saja sepertinya hal tersebut bukan lagi jadi hal yang tidak lumrah untuk dijumpai.

Di atas aspal dengan dua gawang yang terbuat dari sandal, dengan garis lapangan yang terbilang invisible, dan adzan maghrib sebagai peluit akhirnya, Panjul dan anak-anak lainnya sangat antusias mengisi kegiatan kesehariannya terlepas sebagai pelajar dengan bermain bola. Pun demikian dengan masa kecil saya kala itu hampir sama juga sepertinya.

Di kota ini bukannya tidak ada lapangan, sekalinya ada itu pun harus bayar jika mau. Lalu bagaimana dengan lapangan futsal? oh ya jelas sangat menjamur di sini, namun balik lagi semua itu eksklusif dan berbayar. Dan sebagai masyarakat miskin kota (sebutannya) jelas pengeluaran para orang tua di sini lebih penting digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer. Sedangkan bermain bola dianggap hanya sebatas kebutuhan tersier atau sebagai ajang rekreasi saja untuk Panjul dan bocah-bocah miskin kota lainnya. Maka dari itu cukup sayang jika bermain bola untuk setiap harinya harus mengeluarkan uang.

Bagi Panjul, bola raya sudah kurang lebih cukup sebagai alternatif atas tidak adanya ruang hijau atau lapangan. Meski kadang kala beresiko, dari segi menggangu pejalan kaki hingga laju transportasi, atau seringkali mengapal dan berdarahnya kaki, namun hal itu rasanya sudah cukup terbayar sudah dengan riuh kegembiraan dan euforia sepak bola ala kadarnya di masa kanak-kanak seperti Panjul saat ini.

Bagi saya sendiri konsep bola raya seakan muncul tidak begitu saja. Ia muncul sebagai alternatif atas dominasi tata ruang perkotaan dan lapangan hijau yang mulai hilang. Meski panjul dan teman-temannya tidak menyadari akan hal itu secara langsung, namun konsep tersebut cukup terbukti dengan adanya lagu yang berjudul “Bola Raya” dari Silampukau. Yang juga menandakan atas populernya fenomena tersebut di perkotaan, tepatnya kota Surabaya ini.

Kami rindu lapangan hijau, harus sewa dengan harga tak terjangkau, tanah lapang kami berganti gedung, mereka ambil untung kami yang buntung~.

Dari lirik-lirik kalimat yang disusun Silampukau di lagu Bola Raya album Dosa, Kota, dan Kenangan seakan memotret tampak jelas bagaimana gambaran keadaan yang dialami Panjul dan teman-temannya saat ini dalam menemukan ruang di perkotaan.

Kalau menurut Henri Lefebvre filsuf yang juga seorang marxisme asal Prancis tersebut, ruang yang ideal tidak ada lagi dalam masyarakat modern saat ini. Hal itu karena ruang akan selalu menjadi perebutan bagi aktor-aktor berkepentingan. Sehingga ruang tidak lagi signifikan dalam pembangunan kota, dan bola raya merupakan salah satunya metafora atas ruang yang dialami oleh Panjul dan teman-temannya.

Panjul merupakan gambaran bocah yang tertindas oleh omong kosong sistem ruang kota. Dan saya yakin Panjul tidak sendiri. Di luar sana pasti banyak Panjul-Panjul lain yang bernasib sama. Memiliki impian yang sama, dan harus mengubur itu semua sedari dini.

Beda halnya dengan Arhan, yang bernasib beruntung sedari bocah. Meski berasal dari orang biasa namun di tempat tinggalnya mungkin masih banyak lapangan terlebih di kampung, yang tentu berbeda dengan kondisi perkotaan. Sehingga tak segan pula, untuk mengikuti seleksi dan bisa lolos berkat skil yang dimilikinya dari lapangan hijau, bukan seperti Panjul yang lahir dari jalan raya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya