Sayaka Murata dan Kekerasan Terhadap Anak

Mahasiswa
Sayaka Murata dan Kekerasan Terhadap Anak 26/07/2021 137 view Opini Mingguan unplash.com

Apa yang diharapkan setiap tahunnya oleh kita di Hari Anak Nasional? Kita bisa menyebutnya beberapa: Anak-anak dapat tumbuh dan dengan baik, memperoleh akses pendidikan sampai ke perguruan tinggi, keamanan dan keselamatan senantiasa terjaga, dan mereka bisa dengan bebas menentukan mimpi dan tujuan hidup mereka ke depannya. Sebagai fase awal manusia dalam mengeksplorasi dunia dan orang-orang di sekitarnya secara luas, fase anak-anak menjadi demikian penting dan patut diperhatikan terus-menerus. Sekian harapan tadi tentu bisa kita tambah dengan beberapa hal lagi, semata-mata untuk menunjang keyakinan kita terhadap masa depan mereka.

Namun, sayangnya, yang terjadi dewasa ini kerap kali dipenuhi hal-hal yang tidak kita harapkan terjadi. Dari tahun ke tahun, anak-anak seperti sulit terbebas secara penuh dari perilaku kekerasan. Sebagai pihak yang rentang mengingat usia dan kapasitas mereka dalam membela diri, anak-anak memang rentan dijadikan sasaran kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, sampai seksual. Hal inilah yang menjadi topik pembicaraan kita di samping mengenai upaya merawat anak dengan baik. Tahun ini saja, menurut data Sistem Informasi Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) pada periode 1 Januari-9 Juni 2021, terdapat 3.314 kasus kekerasan terhadap anak dengan jumlah korban yang terlapor sejumlah 3.683. Sungguh angka yang luar biasa. Jumlah itu bahkan belum termasuk kasus-kasus yang tidak dilaporkan.

Angka itu mungkin terdengar tidak masuk akal. Tapi, itulah yang terjadi, atau bahkan angka sesungguhnya bisa lebih besar lagi. Dan bila ditelusuri, penyebab anak-anak terlibat dalam tindakan kekerasan atau menjadi korban kekerasan datang dari berbagai faktor kehidupan. Ekonomi, sebagai salah satu penopang penting dalam berumah tangga, bisa menjadi pemicunya. Orang tua yang frustasi dengan keadaan ekonomi mereka yang tidak stabil, menjadi mudah meluapkan amarah, dan anak-anak dalam kondisi tersebut sangat rentan menjadi pelampiasannya. Di samping itu, kita juga bisa menyebut hubungan tidak akur di antara orang tua menjadi salah satu pemicunya. Orang tua, dalam kondisi emosi yang tidak stabil, diliputi kekecewaan dan amarah, bisa menyasar keselamatan buah hati mereka.

Kekerasan terhadap anak juga bisa dipicu oleh hal-hal yang sifatnya khusus: seperti kebencian salah satuu anggota keluarga terhadap mereka, keberadaan mereka yang tidak diharapkan dan diinginkan, atau bahkan anggapa bahwa kalau mereka hanyalah beban semata. Semua penyebab itu, bila kita cermati, memiliki corong yang hampir serupa, yakni gelap mata dan nihilnya kepedulian. Soal yang pertama, kita mungkin sedikit kesulitan menanganinya sebab ‘gelap mata’ dapat dipahami sebagai respons seseorang atas kesulitan, amarah, atau ketidakmenentuan suasana hatinya. Hal itu membuatnya sulit ditebak kapan kedatangannya, sehingga satu-satunya hal yang masuk akal adalah berusaha menenangkannya. Kendati begitu, tindakan ini bisa kita masukkan dalam usaha meningkatkan perhatian kita terhadap faktor yang kedua, yakni kepedulian.

Bicara soal kepedulian, saya teringat satu novel dari pengarang Jepang, Murata Sayaka, yang berjudul Earthlings. Dalam novel absurd setebal 200-an halaman itu dikisahkan perjalanan hidup seorang perempuan bernama Natsuki. Sejak kecil, Natsuki sudah mendapat perlakuan buruk berupa kekerasan oleh orang tua dan kakaknya. Mereka menganggap Natsuki tidak penting, hanya beban keluarga, dan perannya di keluarga itu seringkali sebatas tempat sampah untuk segala kekesalan dan kemarahan mereka. Seolah itu belum cukup, Natsuki suatu kali mendapat kekerasan seksual yang dilakukan oleh gurunya di sekolah. Natsuki kecil yang malang, kebingungan dengan apa yang menimpanya itu. Ia tersakiti dan merasa tidak nyaman, tentu saja, tapi ia kebingungan dalam menggambarkan tindakan dari gurunya itu. Satu-satunya hal yang jelas baginya adalah guru itu berkelakuan aneh--saat itu, logikanya mencerna tindakan itu sebagai bagian dari keanehan.

Itulah yang diceritakan Natsuki terhadap ibunya, juga temannya bertahun-tahun kemudian. Namun, respons dua figur yang dipercayainya itu sama saja: Bahwa tidak mungkin guru tampan, menawan, dan dikenal berkelakuan baik itu melakukan suatu hal gila dan tidak senonoh terhadap Natsuki. Oleh ibunya, Natsuki dianggap hanya berhalusinasi, dan sekalipun perlakuan tidak senonoh itu benar, ibunya justru fokus pada kedok si guru bahwa ia ingin memperbaiki postur tubuh Natsuki. Kata ibunya, “Yah, tubuhnya kan emang kurang tegak. Justru bagus kalau gurumu membetulkannya.” Itu yang ia katakan sebelum memarahi Natsuki habis-habisan sebab dianggap tidak berterima kasih terhadap guru itu.

Tanggapan hampir serupa juga datang dari temannya. Natsuki menceritakan kejadian itu di usia mereka yang sudah dewasa, sehingga oleh temannya peristiwa itu dianggap sebagai bagian dari masa lalu mereka. Dalam merespons cerita Natsuki, temannya itu justru berujar betapa beruntungnya Natsuki sebab disukai oleh guru muda, tampan, menawan, dan berkelakuan baik seperti guru mereka. Temannya bahkan agak heran, kok, bisa guru itu bisa jadi suka sama Natsuki yang masih di bawah umur? Situasi itu menyulitkan Natsuki, sebab selama tahun-tahun sebagai remaja sampai menginjak usia dewasa, Natsuki menyimpan luka itu sendirian. Ia bahkan mesti menghadapi trauma psikis dan fisik dengan menganggap mulutnya sudah rusak dan tidak bisa lagi mencecap rasa apa pun.

Kita mungkin terganggu saat menyelami kisah Natsuki ini. Sayaka, selaku pengarang, terhitung berani dan gamblang dalam menghadirkan peristiwa-peristiwa berisi sayatan luka, baik luka jiwa maupun luka fisik dalam penggambaran tokoh-tokohnya. Namun begitu, ada isu penting yang diangkat Sayaka dan itu relevan dengan pembahasan dewasa ini. Bahwa tindakan kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja dan dilakukan oleh siapa saja, tak peduli orang itu terlampau baik di tengah masyarakat atau memiliki hubungan yang dekat dengan korbannya. Juga bahwa ketidakpedulian orang-orang di sekitar bisa memperparah dampak yang ditimbulkan terhadap para korban dan penyintas tindakan kekerasan.

Hal inilah yang perlu kita garis bawahi, bahwa kepedulian memiliki kedudukan yang penting adanya dalam usaha ini. Tidak peduli status diri kita, apakah tetangga, saudara, berstatus dekat atau jauh lainnya, kita tidak semestinya menutup mata ketika mendapati atau mendengar tindak kekerasan terhadap anak-anak. Kita tentu harus menguatkan barisan ini, betapapun sulit dan musykilnya usaha kita. Namun untungnya, dalam beberapa tahun belakangan, kita bisa memperoleh fasilitas pelaporan tindak kekerasan. Fasilitas ini memanfaatkan perkembangan teknologi, sesuatu yang tidak terpisahkan dari keseharian kita. Fasilitas ini juga diciptakan oleh beberapa lembaga, salah satunya Simfoni PPA, sebagai perpanjangan usaha pemerintah dalam memerangi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak.

Apa dengan begitu, kita lantas bisa merasa tenang? Belum. Usaha ini mesti melibatkan banyak orang dan pihak. Dan kendati Simponi PPA, misalnya, sudah menjadi wadah pelaporan, tindakan untuk merespons laporan itu kadangkala tidak berjalan dengan mulus. Data yang terhimpun masih mengalami beberapa kendala seperti data yang hilang, lama diproses, ataupun kurang tanggapnya tindakan lebih lanjut terhadap beberapa kasus kekerasan. Ini yang perlu dikaji ulang oleh lembaga dan pihak pemerintah. Jangan sampai corong paling sederhana, kita sebagai pihak pelapor, sudah melakukan upaya sebaik mungkin, tetapi mesti terjegal dengan sistem yang kurang menunjang dan masih bermasalah. Dari situ, akhirnya, upaya ini adalah perang panjang yang mesti terus-menerus dikobarkan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya