Suasana Natal di Dusun yang kecil

Mahasiswa
Suasana Natal di Dusun yang kecil 11/12/2023 417 view Agama CNN INDONESIA

Umat Kristiani telah memasuki masa adven yang menandakan bahwa natal akan segera tiba. Pohon natal mulai didirikan dihiasi lampu natal dan bintang serta berbagai pernak-pernak lainnya. Lagu natal yang berkumandang di setiap rumah orang menantikan natal. Natal merupakan sebuah tradisi gereja katolik yang diadakan setiap tahun.

Natal bukanlah sekedar perayaan biasa seperti hari minggu. natal mempunyai tempat tersendiri di hati umat Kristiani. Masa Adven menjadi masa yang paling ditunggu tiap tahun. Masa adven merupakan momen dimana umat kristiani menantikan lahirnya sang Isa Almasih. Yesus yang menebus dosa umat manusia. Masa yang membawa suka cita bagi umat Kristiani.

Ketika memasuki masa Adven, biasanya ibu-ibu mulai merencanakan untuk membuat kue, memikirkan kue apa yang akan dibuat, mulai mengumpulkan bahan kue, hingga tanggal untuk mengeksekusinya. Dan saya yakin kaum bapak dan anak-anak pun sangat menantikan tanggal eksekusi tersebut. Sambil memikirkan strategi yang tepat agar diberikan kue oleh ibu untuk dicicipi. Biasanya ibu-ibu agak ketat soal menghabiskan kue natal. Pokoknya kue natal akan dimakan ketika natal.

Natal begitu Istimewa dihati umat Kristiani. Rasa sukacita yang tak ada hentinya. Semua umatnya selalu memiliki cara tersendiri untuk menantikan kehadiran sang Isa Almasih. Dari memasang lampu natal di depan rumah hingga membuat kandang natal yang besar seperti gubuk.

Saya cukup merasakan perbedaan antara merayakan natal di kampung halaman bersama orang tua juga sanak saudara dan merayakan natal di tanah rantau. Bagi saya natal di kampung merupakan suatu hal yang tak dapat tergantikan ketika saya merantau. Bukan karena bersama siapa saya merayakan, melainkan suasananya yang tak dapat tergantikan.

Cahaya lampu natal yang dipasang di setiap rumah, lagu natal yang terus berkumandang dari setiap rumah, pohon cemara yang dihiasi dengan lampu natal. Bintang besar yang dipasang di depan rumah. Kandang natal dari bambu yang akan diisi sama bapak-bapak atau anak muda yang begadang setiap malam bahkan mabuk-mabukan. Hal yang tak saya temukan di sini.

Di sana setiap orang memiliki cara tersendiri untuk merayakan natal, walaupun sederhana, namun usaha untuk menggapainya tidaklah mudah. ketika membuat kandang natal semua warga akan turut ambil bagian untuk menyelasaikannya.

Di sini saya tidak lagi menyaksikan sulap sandal jepit berubah menjadi heels. Biasanya natal yang identik dengan hujan, membuat orang yang hendak ke gereja mencari cara agar tak basah kuyup. Seperti biasa payung menjadi pahlawan ketika hujan. Karena biasanya orang-orang akan jalan kaki menuju gereja. Demikian halnya dengan kaum perempuan yang tak ingin heels-nya basah ataupun terpeleset terpaksa membawa sandal jepit. Kemudian baru akan diganti ketika sampai di gereja.

Mungkin di kota ini ada yang melakukan hal tersebut, namun sejauh ini saya belum menyaksikannya karena kebanyakan orang menggunakan mobil menuju gereja entah itu mobil pribadi ataupun taksi online. Sehingga kalaupun hujan datang mereka tidak khawatir akan basah.

Belum lagi aroma obat pelurus rambut dan aroma baju yang masih tercium bukanlah hal yang lumrah. Biasanya menjelang natal kaum wanita akan berlomba-lomba untuk tampil beda dengan berbagai cara salah satunya dengan meluruskan rambut. Cukup banyak yang aroma obatnya masih nempel di rambut. Belum lagi aroma baju baru yang memang disediakan untuk dikenakan ketika hari natal. Dengan semboyan baju baru, celana baru, sandal baru, rambut baru. Semua baru, lengkap sudah.

Sedangkan kaum bapak tak perlu ditanya, mereka terlihat cukup santai ketika menyambut natal. Namun otaknya tak sesantai itu, mereka mesti memikirkan bagaimana dana untuk merayakan natal tersebut. Mulai dari modal membuat kue hingga untuk membeli baju untuk sekeluarga.

Semua itu menunjukan betapa antusianya umat kristiani menyambut lahirnya  Isa Almasih yang diutus Allah untuk menebus dosa manusia.

Di sini saya tidak merasakan ataupun menyaksikan hal tersebut. Hingga saya merasa natal serasa hampa. Di sini saya tidak melihat kandang natal yang diisi manusia bukan patung kelahiran Yesus. Tak mendengar lagu natal dari rumah tetangga. Saya sendiri pun jarang sekali membuka lagu natal entah karena kesibukan ataupun hal lain.

Ketika merantau saya menjadi anti dengan lagu “ Kenangan Natal di Dusun yang Kecil” yang dipopulerkan Charles Hutagalung dan Tissia. Saya tak akan memasukan lagu tersebut ke playlist lagu natal saya. Bukan karena benci sama penyanyi ataupun tak suka lagunya. Namun karena liriknya yang sangat merepresentasikan apa yang saya rasakan. Mungkin pembaca yang budiman juga merasakan hal yang sama. Saya tak akan mampu menahan air mata ketika mendengar lagu tersebut. Lagu natal yang dipopulerkan Mitha Talahatu juga menjadi lagu yang membawa kerinduan.

Saya rindu natal di sana kampung kecil yang sederhana, rindu ocehan ibu-ibu memarahi anaknya yang tak pulang karena mabuk di kandang natal. Berebut foto di pohon natal yang ada di Gereja. Rindu semua hal yang saya lakukan ketika natal di sana. Sederhana namun akan terukir di hati. Berharap dapat secepatnya merasakan kembali suasana natal tersebut tanpa ada yang berubah. Semoga.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya