Sapa Penulis #3 Supriyadi: Intermediate Writer Bidang Kependudukan dan Kespro

Admin The Columnist
Sapa Penulis #3 Supriyadi: Intermediate Writer Bidang Kependudukan dan Kespro 15/03/2020 1440 view Sapa Penulis Supriyadi

Sapa Penulis memasuki edisi ketiga. Kali ini kami mengangkat salah satu penulis terproduktif The Columnist, Supriyadi. Hingga saat ini sudah ada 34 tulisannya yang dimuat.  Supri seolah memberi pesan bahwa aktivitas harian tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menuangkan gagasan. Bagaimana rahasia dia bisa tetap produktif di tengah kesibukannya? Simak wawancara kami bersamanya berikut ini:

Selamat sore Supri, terima kasih telah menyempatkan waktu di tengah kesibukannya. Sebelumnya, mungkin bisa diceritakan sekilas profil kamu?

Oh iya nama saya Supriyadi,  Lahir di Bantul Yogyakarta. Sejak tahun 2006 hingga sekarang saya bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Riau.

Sejak kapan mulai menulis dan bagaimana kamu belajar menulis?

Saya suka menulis ketika memasuki bangku kuliah di mana ada seorang dosen yang memberikan motivasi berupa tugas untuk menulis opini di media massa. Jika tulisannya dimuat maka tak perlu ikut ujian dan dapat nilai A. Sejak saat itu saya berusaha untuk menulis opini. Dan ketika saya lulus dari kuliah kebiasaan menulis masih saya lanjutkan. Waktu itu selain untuk menyalurkan hobi juga bisa memperoleh honor menulis yang jumlahnya bisa untuk membayar uang kost ataupun juga untuk membeli buku.

Dimana saja tulisanmu diterbitkan?

Tidak banyak. Hanya di beberapa media massa seperti detik.com, Riau Pos, Metro Riau, Harian Vokal, Jambi Independent, Analisa, Metro Siantar dan beberapa media lainnya.

Kamu sering mengangkat tema tentang kesehatan reproduksi, mengapa demikian?

Saya menyadari isu kesehatan reproduksi ini penting untuk diangkat ke publik. Karena masih banyak masyarakat yang belum tahu mengenai kesehatan reproduksi ini secara tepat dan benar. Sebagai contoh ada anak remaja perempuan yang bisa ditipu oleh pacarnya untuk melakukan hubungan seksual gara-gara si pacar lelakinya mengaku punya penyakit kelebihan sel darah putih. Bahkan ada juga komisioner KPAI yang menyebut bahwa berenang bersama-sama dengan lawan jenis (laki-laki) di kolam renang bisa menyebabkan kehamilan. Hal-hal seperti ini perlu mendapat perhatian.

Seberapa penting isu tersebut bagi masyarakat?

Sangat penting sebab dampak dari pemahaman reproduksi yang rendah khususnya pada remaja dan perempuan bisa memiliki efek yang panjang. Bukan saja dari sisi kesehatan perempuan saja yang beresiko terkena kanker servik ketika melakukan hubungan seksual di bawah usia kurang dari 19 tahun karena organ reproduksinya belum berkembang optimal. Namun pemahaman yang rendah mengenai kesehatan reproduksi bisa juga berakibat pada kehamilan di luar nikah, aborsi tak aman, terkena penyakit menular seksual hingga kepada penyakit HIV/AIDS. Jika hal -hal ini terjadi,  maka secara sosial mereka bisa dikucilkan dari masyarakat, putus sekolah hingga perasaan bersalah dan rendah diri bagi yang mengalaminya.

Selain kesehatan reproduksi, kamu juga banyak membahas tentang remaja dan gender. Apakah ada garis merah yang menghubungkan antara ketiganya (kesehatan reproduksi, remaja dan gender)?

Yang dirugikan dari pemahaman yang rendah mengenai kesehatan reproduksi ini lebih dalam pada sosok remaja terutama remaja perempuan. Ini berkaitan karena perempuan memiliki potensi untuk hamil dan melahirkan. Selain itu dari seorang remaja perempuan juga akan sangat dirugikan jika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan akibat dari pemahaman mengenai kesehatan reproduksi yang masih tabu untuk dibicarakan di masyarakat kita. Remaja perempuan bisa dikeluarkan dari sekolah, bisa dianggap melanggar norma masyarakat dan agama, bisa dikucilkan dari masyarakat dan keluarga. Bahkan jikapun pilihan akhirnya adalah aborsi, maka hal ini pun akan sangat merugikan pada diri remaja perempuan itu sendiri karena biasanya jalan yang diambil adalah aborsi tak aman. Dan ini sangat merugikan seorang remaja perempuan dari sisi kesehatan reproduksi bahkan bisa berujung pada kematian.

Berbicara tentang remaja, apa yang membedakan antara generasi milenial dengan generasi sebelumnya?

Remaja sekarang jelas secara pendidikan lebih tinggi dari pada generasi sebelumnya. Juga dari sisi kesehatan, remaja sekarang jauh lebih sehat dengan tingkat kesakitan yang lebih rendah sebagai akibat dari pemenuhan gizi yang semakin baik. Perbedaan lain adalah terhadap penguasaan teknologi informasi. Bisa dikatakan bahwa remaja sekarang jauh lebih menguasai teknologi informasi dari pada generasi sebelumnya. Remaja sekarang bisa dipastikan memiliki handphone, akun, dan media sosial untuk lebih memudahkan berinteraksi dengan teknologi informasi dan perkembangan jaman.

Apakah hal tersebut menjadi keunggulan atau kelemahan mereka?

Keunggulan mereka terletak pada kemampuan menguasai teknologi informasi. Selain itu mereka memiliki talenta bisa mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Mereka juga bisa bekerja cepat. Adapun kelemahannya mungkin karena keseringan main medsos, game online dan sejenisnya membuat interaksi secara langsung dengan sesamanya berkurang sehingga membuat mereka merasa kesepian serta kecanduan.

Hal-hal apa yang menurutmu harus menjadi perhatian penting bagi remaja sekarang?

Tantangan menjadi remaja sekarang jauh lebih kompleks. Saat ini remaja bisa mengakses apa saja melalui benda kecil bernama telepon pintar. Melalui telepon tersebut seoalah dunia dalam genggaman. Remaja bisa memperoleh pengetahuan apa saja dengan telepon pintar tersebut tanpa keluar dari kamar. Artinya remaja sekarang harus selektif terhadap informasi yang diperoleh dari telepon pintar tersebut. Dan saya mengharapkan remaja-remaja Indonesia mampu menfilter dirinya sendiri dari dampak negatif perkembangan teknologi informasi yang tidak bisa kita tolak ini.

Hal lain yang menjadi tantangan pada diri remaja sekarang adalah terutama pada remaja laki-laki adalah kebiasaan buruk seperti merokok, di mana remaja-remaja sekarang lebih banyak yang sudah mulai merokok atau sudah merokok sejak kecil. Meskipun merokok ini tidak berdampak langsung pada kehidupan sekarang namun bisa punya dampak kesehatan yang serius di masa yang akan datang. Selain itu resiko terhadap persolaan penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti seperti narkoba dan psikotropika  juga perlu diwaspadai pada generasi remaja ini, mengingat hampir di setiap hari kita mendengar ada remaja-remaja kita yang terjebak atau terjerumus ke dalam permasalahan narkoba dan psikotropika ini. Itulah mengapa Indonesia bisa dikatakan darurat terhadap penyalahgunaan narkoba dan psikotropika. 

Selain hal tersebut pergaulan bebas remaja dan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi juga perlu memperoleh perhatian yang lebih.

Kamu menjadi salah satu penulis yang paling produktif di the columnist, sampai saat ini total sudah ada kurang lebih 34 tulisan yang dimuat. Apa rahasiamu untuk bisa seproduktif itu? Apa lagi kamu memiliki aktivitas yang juga padat.

Tidak ada rahasia khusus, karena saya menyadari menulis itu penting untuk menyampaikan suara hati kita kepada khalayak umum. Maka dalam menulis perbanyaklah membaca, pergunakan energi secara baik dan bersabarlah.....

Tips bagi penulis pemula untuk menghasilkan tulisan yang baik?

Saya ini juga penulis pemula, jadi tidak ada tips kecuali teruslah menulis sebanyak-banyaknya dan banyaklah belajar dari tulisan-tulisan banyak orang atau para penulis yang sudah punya nama dan berpengalaman. Selebihnya ya telaten dan bersabar saja.

Apa harapan kamu untuk The Columnist?

Semoga the columnist semakin tumbuh dan bermanfaat bagi orang banyak, mampu memberikan angin segar dan pencerahan khususnya buat masyarakat Indonesia tercinta.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya